Dalil mengenai puasa Asyura penting untuk dipahami oleh umat Muslim. Puasa Asyura adalah salah satu ibadah sunnah yang memiliki keutamaan khusus dalam Islam, karena langsung diperintahkan oleh Rasulullah SAW.
Dilaksanakan setiap tanggal 10 Muharram, puasa ini mengandung makna sejarah yang mendalam serta kesempatan untuk mendapatkan pengampunan dosa. Oleh karena itu, umat Islam sangat dianjurkan untuk memahami dalil puasa Asyura agar pelaksanaan ibadah ini dilakukan dengan penuh pengertian.
Dalam artikel ini, akan diuraikan secara ringkas dan jelas mengenai dalil-dalil puasa Asyura yang bersumber dari hadits shahih, keutamaan yang terdapat di dalamnya, serta bacaan niat yang sesuai dengan sunnah.
Advertisement
Puasa Asyura memiliki dasar yang kuat dalam berbagai riwayat, terutama yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Hadits-hadits ini menegaskan pentingnya melaksanakan puasa pada hari tersebut.
1. Dalil Puasa Asyura dari Hadits Salamah bin al-Akwa' mengenai Perintah Puasa Asyura :
عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الأَكْوَعِ قَالَ: أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا مِنْ أَسْلَمَ أَنْ يُنَادِيَ فِي النَّاسِ: إِنَّ مَنْ أَكَلَ فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ، وَمَنْ لَمْ يَأْكُلْ فَلْيَصُمْ، فَإِنَّ الْيَوْمَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ
'Amara an-nabiyyu allallhu 'alaihi wa sallama rajulan min Aslam an yundi f an-ns: "Inna man akala falyutimma baqiyyata yaumihi wa man lam ya'kul falyashum, fa inna al-yauma yaumu 'syr'"
Artinya: Nabi SAW memerintahkan seseorang dari Bani Aslam untuk menyeru kepada manusia: "Siapa yang telah makan, sempurnakanlah puasanya, dan siapa yang belum makan, maka berpuasalah, karena hari ini adalah hari Asyura." HR Bukhari, Kitab al-Shawm, no. 2004.
2. Dalil Puasa Asyura dari Hadits Ibnu Abbas mengenai Keutamaan Puasa Asyura :
مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلَّا يَوْمَ عَاشُورَاءَ
Ma ra'aytu an-nabiyya allallhu 'alaihi wa sallama yataarr iyma yaumin faalahu 'al ghayrih ill yauma 'syr'
Artinya: "Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW begitu mengutamakan puasa pada satu hari dibandingkan hari lainnya selain pada hari Asyura." HR Bukhari, Kitab al-Shawm, no. 2006.
3. Dalil Puasa Asyura dari Hadits Aisyah tentang Tradisi Ka'bah dan Puasa Asyura :
كَانُوا يَصُومُونَ عَاشُورَاءَ قَبْلَ أَنْ يُفْرَضَ رَمَضَانُ، وَكَانَ يَوْمًا تُسْتَرُ فِيهِ الْكَعْبَةُ
Kanu yamna 'syr' qabla an yufraa Raman, wa kna yauman tustaru fhi al-Ka'bah
Artinya: "Dulu mereka berpuasa Asyura sebelum diwajibkannya Ramadhan. Pada hari itu pula Ka'bah ditutup dengan kain (kiswah)." HR Bukhari, Kitab al-Shawm, no. 1893.
4. Dalil Puasa Asyura dari Hadits Ibnu Abbas mengenai Asal-usul Puasa Asyura :
لَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ، وَجَدَ الْيَهُودَ يَصُومُونَ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ: نَحْنُ أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْهُمْ، فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ
Lamm qadima an-nabiyyu allallhu 'alaihi wa sallama al-Madnah, wajada al-Yahda yamna 'syr', faqla: "Nanu aaqqu bi Ms minhum", famahu wa amara biiymih
Artinya: Ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, beliau mendapati orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau bersabda: "Kita lebih berhak atas Musa daripada mereka." Maka beliau pun berpuasa dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa. HR Bukhari, Kitab al-Anbiya, no. 3216.
Advertisement
Puasa Asyura memiliki dalil yang menunjukkan bahwa ibadah ini merupakan salah satu amalan sunnah yang paling penting setelah puasa Ramadhan. Keutamaan puasa Asyura dikenal luas sebagai salah satu amalan sunnah yang sangat dianjurkan setelah bulan suci Ramadhan. Hari Asyura, yang jatuh pada tanggal 10 Muharram, memiliki banyak keistimewaan, termasuk menjadi momen bersejarah ketika Nabi Musa 'alaihis salam diselamatkan. Hal ini juga dicontohkan secara langsung oleh Rasulullah. Dalam hadits-hadits shahih yang kuat, para ulama mengutip sejumlah riwayat yang menegaskan betapa besar keutamaan hari Asyura, terutama dalam konteks puasa.
1. Puasa Paling Utama Setelah Ramadhan
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ صِيَامُ شَهْرِ اللَّهِ الْمُحَرَّمِ
Arab Latin: Afḍalu aṣ-ṣiyām ba‘da Ramaḍān ṣiyāmu shahri Allāh al-Muḥarram
Artinya: "Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu bulan Muharram." (HR Muslim, Kitab al-iym, no. 1163). Hal ini menegaskan bahwa puasa Asyura termasuk dalam puasa di bulan Muharram, yang merupakan waktu terbaik untuk berpuasa setelah Ramadhan.
2. Menghapus Dosa Setahun Lalu
سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ
Arab Latin: Su’ila ‘an ṣawmi yaumi ‘Āsyūrā’, faqāla: yukaffiru as-sanata al-māḍiyah
Artinya: "Rasulullah ditanya tentang puasa hari Asyura, maka beliau menjawab: 'Ia menghapus dosa setahun yang lalu.'" (HR Muslim, Kitab al-iym, no. 1162).
Keutamaan ini sangat luar biasa; dengan hanya berpuasa satu hari, seorang Muslim dapat memperoleh pengampunan atas dosa-dosa kecil selama satu tahun sebelumnya.
3. Dicontohkan Langsung oleh Nabi Muhammad
مَا رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى صِيَامَ يَوْمٍ فَضَّلَهُ عَلَى غَيْرِهِ إِلَّا يَوْمَ عَاشُورَاءَ
Arab Latin: Mā ra’aytu an-nabiyya ṣallallāhu ‘alaihi wa sallama yataḥarrā ṣiyāma yaumin faḍḍalahu ‘alā ghayrihi illā yauma ‘Āsyūrā’
Artinya: "Aku tidak pernah melihat Rasulullah begitu mengutamakan puasa pada satu hari dibandingkan hari lainnya selain pada hari Asyura." (HR Bukhari, Kitab al-Shawm, no. 2006).
Keistimewaan ini menunjukkan bahwa Rasulullah secara khusus mengutamakan puasa ini karena nilai ibadahnya yang sangat tinggi.
4. Ikut Tradisi Nabi Musa dan Syukur atas Nikmat Allah SWT
فَصَامَ مُوسَى شُكْرًا، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْهُمْ، فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ
Arab Latin: Faṣāma Mūsā syukran, faqāla Rasūlullāh ﷺ: “Anā aḥaqqu bi Mūsā minhum”, faṣāmahu wa amara biṣiyāmihī
Artinya: "Nabi Musa berpuasa sebagai bentuk syukur, maka Rasulullah bersabda: 'Aku lebih berhak terhadap Musa dibanding mereka.' Maka beliau pun berpuasa dan memerintahkan untuk berpuasa." (HR Bukhari, Kitab al-Anbiya, no. 3216).
Puasa Asyura juga merupakan bentuk syukur atas pertolongan Allah kepada para nabi, terutama dalam penyelamatan Musa dari Firaun.
Advertisement
Niat merupakan syarat yang penting dalam setiap ibadah, termasuk puasa sunnah seperti puasa Asyura. Niat ini tidak perlu diucapkan, tetapi harus ada dalam hati sejak malam hari untuk puasa yang wajib. Sementara itu, untuk puasa sunnah, seseorang diperbolehkan untuk berniat di pagi hari asalkan belum melakukan makan atau minum.
Dalam Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani, dijelaskan bahwa puasa sunnah seperti puasa Asyura boleh diniatkan hingga sebelum zawal (matahari tergelincir) selama belum batal. Ini berdasarkan hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha:"
Rasulullah pada suatu hari masuk menemuiku lalu berkata: 'Apakah kamu punya makanan?' Aku menjawab, 'Tidak'. Maka beliau bersabda: 'Kalau begitu aku puasa.'" (HR. Muslim no. 1154)
Adapun lafadz niat yang biasa dibaca oleh sebagian kaum Muslimin sebagai bentuk pelafalan lisan adalah:
نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمِ عَاشُورَاءَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma yaumi ‘Asyura sunnatan lillahi ta’ala
Artinya: Saya niat berpuasa Asyura, sunnah karena Allah Ta’ala.
Meskipun pengucapan lafadz ini tidak diwajibkan, hal tersebut dapat berfungsi sebagai pengingat dan penguat hati agar ibadah dilakukan dengan penuh kesadaran dan keikhlasan. Yang terpenting adalah niat dalam hati harus sudah ada sejak memulai puasa, sebagai wujud ketaatan kepada Allah dan mengikuti sunnah Nabi Muhammad.