Tumbuhan Ternyata Bisa Berbicara, Begini Suaranya Saat Sedang Stress atau Dehidrasi
Merdeka.com - Para peneliti menemukan tanaman bisa berbicara untuk menyampaikan rasa takut atau tertekan mereka.
Penelitian ini dilakukan oleh ahli biologi asal Universitas Tel Aviv dan dipublikasikan di jurnal Cell.
Tumbuhan yang "stress" mengeluarkan suara yang dapat didengar dalam radius beberapa meter. Suara yang dikeluarkan sesuai dengan suasana hari-hari mereka.
Terdengar mustahil, namun ini penjelasan yang dilansir dari New York Times.
Peneliti mencoba menggambarkan suara cemas sebuah tanaman. Akan ada gelembung-gelembung kecil pecah dan menghasilkan gelombang kejut mini di dalam pembuluh tumbuhan. Pecahan ini menghasilkan suara letupan yang mirip seperti jika manusia membunyikan buku-buku jari.
Saat dehidrasi
Ahli biologi asal Universitas Tel Aviv Israel, Lilach Hadany mengatakan proses di atas bernama Kavitasi. Ini hal yang paling mungkin menjelaskan mengapa tumbuhan bisa berbicara.
Lilach dan ahli lain bernama Yossi Yovel kemudian melakukan penelitian terhadap tanaman tomat dan tembakau untuk mengetahui suara mereka. Tanaman ini dipilih karena mudah tumbuh.
Tanaman tomat dan tembakau ditempatkan di dalam kotak kayu kedap suara dengan dua mikrofon yang diletakkan mengarah ke batang.
Hasilnya, ahli menemukan kedua tanaman itu membuat banyak suara saat dehidrasi (kekurangan air) atau batangnya dipotong.
Hanya bisa didengar tikus dan ngengat
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comPenelitian juga dilakukan kepada jenis tanaman berbeda. Hasilnya, tanaman seperti rumah kaca, pohon anggur, gandum, dan sayur-sayuran juga mengeluarkan suara saat mereka merasa terancam (haus atau ingin dipotong).
Sedangkan saat kesal, tumbuhan tetap mengeluarkan suara tertentu namun tidak bisa didengar oleh telinga manusia. Hal ini karena suara mereka terlalu melengking. Suara-suara ini hanya dapat didengar oleh hewan seperti tikus dan ngengat.
"Tanaman mengeluarkan suara berbeda yang memiliki beberapa informasi tampaknya merupakan kontribusi utama dari penelitian ini," ujar Richard Karban, asal University of California.
Reporter magang: Yobel Nathania
(mdk/pan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya