Sebelum terbentuknya negara Israel pada Mei 1948 ada tiga gerombolan milisi Zionis: Haganah, Irgun, dan Lehi (atau Gang Stern).
Tiga milisi Yahudi itu kerap meneror desa-desa Palestina, menyerang warga Arab Palestina dan aparat keamanan Inggris dengan melakukan pembunuhan dan pengeboman.
Tujuan mereka adalah agar Inggris melepaskan kekuasaan atas wilayah Palestina, menciptakan rasa takut warga Arab Palestina dan mendirikan negara Yahudi dengan apa pun caranya.
"Saya berpendapat, terorisme Yahudi pada 1940-an memiliki tujuan baik secara taktis maupun strategis. Pada tataran taktis, teror itu mampu membuat aparat keamanan Inggris frustrasi dan menggerus kemampuan mereka dalam menguasai Palestina," tulis David A Charters, profesor sejarah militer dan peneliti senior di Gregg Centre for Study of War and Society di Universitas New Brunswick, Kanada.
“Hal itu memainkan peran signifikan di tingkat strategis dalam meyakinkan Inggris untuk menarik diri dari Palestina, yang pada gilirannya menciptakan kondisi yang memfasilitasi pendirian Israel, dan kemudian menyebabkan terbentuknya diaspora Arab-Palestina,” ujarnya dalam artikelnya Jewish Terrorism and the Modern Middle East, seperti dikutip TRT World.
Advertisement
Pakar miiter Amerika John Lois Peeke menulis, terorisme Zionis merupakan inti dari gagasan Israel.
“Terorisme Yahudi terhadap Inggris dan Arab berkontribusi besar terhadap pengusiran Inggris dari Palestina, pengabaian mandat Liga Bangsa-Bangsa, dan pembentukan negara Yahudi Israel,” tulisnya dalam bukunya Jewish-Zionist Terrorism and the Establishment of Israel.
Kelompok teroris Zionis menyerang tanpa dihukum bukan hanya target militer tetapi juga warga sipil pada tahun 1940-an.
Pada Oktober 1945, milisi Yahudi bersenjata secara serentak menargetkan jalur kereta api kolonial, kilang minyak, dan kapal polisi di Palestina. Hal itu menandai dimulainya periode pemberontakan Yahudi selama dua tahun terhadap Inggris dan Palestina.
Pada Juli 1946, Irgun meledakkan Hotel King David di Yerusalem, tempat kantor pusat pemerintahan Inggris berada, menewaskan 92 orang.
“[Robert] Asprey, [Menachem] Begin, dan [Samuel] Katz menyiratkan bahwa King David diledakkan karena dua alasan, sebagai balasan atas serangan Inggris terhadap Jewish Agency dan untuk menghancurkan dokumen rahasia yang akan menghubungkan Jewish Agency dan [David] Ben-Gurion dengan terorisme Haganah,” tulis Peeke.
Advertisement
Haganah adalah sayap militer dari Jewish Agency for Palestine, yang merupakan cabang operasional World Zionist Organisation yang didirikan oleh Theodor Herzl, pendiri Zionisme, selama Kongres Zionis Pertama pada 1897 di Basel, Swiss.
Jewish Agency for Palestine, yang mengubah namanya menjadi Jewish Agency for Israel setelah 1948, bertujuan untuk mendorong, memastikan, dan melaksanakan migrasi Yahudi ke Israel dari negara lain.
Ben Gurion adalah presiden Jewish Agency dari 1935 hingga berdirinya negara Israel pada 1948. Dia punya peran penting dalam kegiatan Haganah. Gurion kemudian menjadi perdana menteri pertama Israel.
Haganah berarti pasukan pertahanan, yang mengilhami para pemimpin Zionis dalam menamai angkatan bersenjata mereka sebagai Pasukan Pertahanan Israel (IDF) setelah berdirinya Israel.
Dari kegiatan bawah tanah tahun 1940-an, “terorisme Yahudi berubah menjadi operasi militer, dan organisasi teroris tersebut menjadi Pasukan Pertahanan Israel (IDF),” tulis Peeke.