Ebrahim Raisi tewas pada Mei dalam kecelakaan helikopter saat sedang kunjungan kerja.
Kandidat presiden dari kalangan reformis Iran, Masoud Pezeskhian terpilih sebagai presiden Iran kesembilan pada Sabtu (6/7). Dia mengalahkan kandidat dari kelompok konservatif, Saeed Jalili, seperti dilaporkan kantor berita Tasnim.
Juru bicara komisi pemilihan umum Iran, Mohsel Eslami mengumumkan hasil pemilu tersebut pada Sabtu pagi setelah penghitungan suara rampung dilaksanakan.
"Jalan terjal ke depan tidak akan mudah kecuali dengan dukungan, empati, dan kepercayaan kalian," ujar Pezeshkian di akun X-nya pada Sabtu.
"Saya mengulurkan tangan saya kepada kalian dan bersumpah atau nama kehormatan saya bahwa saya tidak akan meninggalkan kalian sendirian di jalan ini. Jangan tinggalkan saya sendirian," lanjutnya, dikutip dari laman The Cradle, Minggu (7/7).
Dalam pidato kemenangannya, Pezeskhian memaparkan rencananya ke depan dan mengatakan akan mengedepankan dialog, musyawarah, dan konsensus nasional, serta berjanji untuk mengatasi masalah ekonomi, sosial, budaya, politik di Iran.
Advertisement
"Saya terikat pada perintah Allah, dan berkomitmen untuk mendengarkan kalian dan penderitaan kalian,"
cetusnya, seperti dikutip dari laman Press TV.
Pezeshkian dan Jalili berhadapan pada pemilihan putaran kedua yang berlangsung Jumat (5/7) setelah meraih suara terbanyak dari empat kandidat pada pemilihan awal yang berlangsung 28 Juni lalu.
Pezeskhian meraup 53,7 persen suara, sedangkan pesaingnya, Jalili meraih 44,3 persen suara.
Pezeshkian akan menjabat selama empat tahun, menggantikan Ebrahim Raisi yang tewas dalam kecelakaan helikopter pada Mei.
Advertisement
Menurut Fereshteh Sadeghi dari The Cradle, sosok presiden baru Iran ini mewakili faksi yang ingin memperbaiki hubungan dengan Barat.
"Menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015, dan bahkan menjalin hubungan dengan AS," tulis Sadeghi.
"Kerangka berpikir ini mendukung pasar bebas, meminimalisir peran pemerintah, dan mengkritik kebijakan luar neger "lihatlah ke timur" Iran dan pengaruhnya yang berkembang di Asia Barat dan Afrika Utara," tambah Sadeghi.