Perempuan Ini Ngobrol dengan Ibunya yang Sudah Meninggal Pakai AI, Pengalamannya Menyeramkan

Perempuan Ini Ngobrol dengan Ibunya yang Sudah Meninggal Pakai AI, Pengalamannya Menyeramkan

Pandasurya Wijaya
Oleh Pandasurya Wijaya - Reporter
Perempuan Ini Ngobrol dengan Ibunya yang Sudah Meninggal Pakai AI, Pengalamannya Menyeramkan
ilustrasi AI (© Bing AI)

Perempuan Ini Ngobrol dengan Ibunya yang Sudah Meninggal Pakai AI, Pengalamannya Menyeramkan

Kemajuan teknologi saat ini nampaknya telah mencapai titik yang menakjubkan, bahkan sampai pada kemampuan menciptakan pengalaman yang menyerupai percakapan dengan orang yang telah tiada.


Dilansir laman Indy100, seorang perempuan menemukan pengalaman "menyeramkan" ketika berinteraksi dengan ibunya yang telah meninggal menggunakan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.

Dok. Istimewa
© Bing AI

Kecerdasan buatan hampir menjangkau batas yang tidak terbayangkan, dengan kemampuannya yang terus berkembang pesat. Teknologi ini mampu menciptakan apa yang dikenal sebagai "deepfake" yang berbahaya, bahkan mampu menemukan setiap jejak foto seseorang di internet.

Dok. Istimewa
© HereAfter AI

Meskipun beberapa aplikasi dari teknologi ini memunculkan kekhawatiran, seorang wanita menggunakan kecerdasan buatan ini untuk membantu mengatasi kesedihan akibat kehilangan ibunya.

Sirine Malas, seorang aktris yang meninggalkan Suriah untuk menetap di Jerman pada 2015, mengalami kehilangan tragis ketika ibunya, Najah, meninggal dunia akibat gagal ginjal yang dideritanya sejak 2018.

Sebelum ibunya meninggal, Malas berharap mempertemukan ibunya dengan cucunya, namun takdir berkata lain.

Malas mengatakan kepada Sky News, "Semuanya terasa begitu kejam karena terjadi begitu tiba-tiba. Saya sangat ingin dia bertemu dengan anak saya, dan saya ingin mengadakan pertemuan terakhir itu."

Dalam upayanya mengatasi kesedihan, Malas menemukan Project December–sebuah alat AI yang dirancang untuk "mensimulasikan orang yang telah meninggal".

Melalui alat ini, pengguna diminta untuk mengisi formulir tentang orang yang telah meninggal, termasuk informasi pribadi dan hubungan dengan pengguna.

Chatbot AI kemudian membuat profil orang tersebut berdasarkan informasi yang diberikan.

Malas dapat "berbicara" dengan ibunya melalui chatbot ini, yang memberikan tanggapan yang diperkirakan akan diberikan oleh ibunya.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Hasilnya, menurut Malas, "menyeramkan". Chatbot tersebut merujuk pada ibunya dengan nama hewan peliharaan yang biasa dipanggil oleh ibunya, informasi yang dimasukkan oleh Malas ke dalam formulir.

"Ada momen yang terasa sangat nyata," kata Malas, "tetapi juga ada saat-saat di mana saya merasa siapapun bisa memberikan jawaban seperti itu."


"Sebagai orang spiritualis, saya merasa ini adalah sebuah wahana," ujar Sirine.

Dengan adanya kemajuan teknologi yang semakin pesat, pengalaman seperti ini memicu berbagai pertanyaan tentang etika dan implikasi psikologis dari interaksi manusia dengan kecerdasan buatan yang semakin canggih.

Rekomendasi