Warga Gaza Jalan Kaki 10 Kilometer Demi Bantuan Makanan, 'Hanya Ada Kelaparan dan Kekacauan, Ini Bukan Bantuan Tapi Penghinaan

Sekitar dua bulan Israel memblokade masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza, membiarkan hampir 2 juta warga Palestina kelaparan.

Hari Ariyanti
Oleh Hari Ariyanti - Reporter
Warga Gaza Jalan Kaki 10 Kilometer Demi Bantuan Makanan, 'Hanya Ada Kelaparan dan Kekacauan, Ini Bukan Bantuan Tapi Penghinaan
Warga Gaza Jalan Kaki 10 Kilometer Demi Bantuan Makanan, 'Hanya Ada Kelaparan dan Kekacauan, Ini Bukan Bantuan Tapi Penghinaan' (Merdeka.com)

Saat matahari belum terbit, Jehad Al-Assar sudah berangkat meninggalkan tendanya di Deir al-Balah, Gaza tengah. Dia menuju tempat distribusi bantuan di Rafah, Gaza selatan, mencari makanan untuk keluarganya.

Pada Rabu pagi itu, dia berjalan kaki, menempuh perjalanan sangat panjang, sekitar 10 kilometer ke pusat distribusi bantuan Gaza Humanitarian Foundation (GHF) yang dikelola Amerika Serikat. Panas menyengat tak menyurutkan tekadnya, dia hanya memikirkan istrinya yang sedang hamil dan dua putrinya yang kelaparan.

Dengan meluasnya kelaparan di Gaza, akibat langsung dari blokade Israel selama berbulan-bulan di wilayah tersebut, tempat distribusi GHF menjadi satu-satunya harapan Jehad.

Sebelumnya muncul kontroversi seputar organisasi tersebut, yang pimpinannya sendiri mengundurkan diri pada hari Minggu, dengan mengatakan GHF tidak dapat mematuhi "prinsip-prinsip kemanusiaan, kenetralan, imparsialitas, dan independensi". Kurangnya pengalaman GHF dalam menangani distribusi bantuan disorot pada hari Selasa, ketika sedikitnya tiga warga Palestina tewas dalam kekacauan yang terjadi saat distribusi bantuan.

Tetapi di Gaza, orang-orang kelaparan dan putus asa, Jehad salah satu di antaranya.

Setelah berjalan selama 1,5 jam, pria 31 tahun tersebut tiba di gerbang GHF, bersama ribuan orang lainnya, sebelum dibuka.

“Kerumunan orang berbondong-bondong masuk – ribuan orang. Tidak ada ketertiban sama sekali,” kata Jehad kepada Al Jazeera, dikutip Jumat (30/5).

“Orang-orang bergegas menuju halaman tempat kotak-kotak bantuan ditumpuk dan pindah ke aula bagian dalam, tempat terdapat lebih banyak persediaan.”

“Itu kekacauan – perjuangan yang sesungguhnya. Pria, wanita, anak-anak, semua berdesakan bersama, saling berebut untuk meraih apa pun yang mereka bisa. Tidak ada antrean, tidak ada sistem – hanya kelaparan dan kekacauan,” tambah Jehad.

Di dalam aula, orang-orang berebutan mengambil apa pun yang bisa mereka bawa.

“Siapa pun yang bisa mengangkat dua kotak akan mengambilnya. Gula dan minyak goreng adalah prioritas. Mereka merebut apa pun yang mereka inginkan dan bergegas keluar.”

“Tidak ada jejak kemanusiaan dalam apa yang terjadi,” katanya.

“Saya hampir terinjak-injak kerumunan.”

Tidak jauh dari situ, pasukan asing bersenjata berdiri menonton tanpa campur tangan. Jehad mengatakan dia mendekati salah satu dari mereka.

“Saya katakan kepada mereka, ‘Kalian tidak membantu – kalian mengawasi kelaparan. Kalian harus pergi. Kalian tidak dibutuhkan di sini.'”

Jehad hanya berhasil membawa pulang beberapa barang: beberapa kaleng tuna, sekantong kecil gula, beberapa pasta, dan sebungkus biskuit yang berserakan di tanah. Ia membawanya dalam kantong plastik yang disampirkan di bahunya dan menempuh perjalanan panjang pulang ke rumah.

“Saya hanya membawa sedikit. Saya takut tinggal lebih lama dan terinjak-injak dalam kerumunan – tetapi saya harus membawa pulang sesuatu. Anak-anak perempuan saya perlu makan. Saya tidak punya pilihan lain,” katanya.

"Kami dulu menerima bantuan dari badan-badan internasional dan PBB,” kata Jehad.

“Bantuan itu diberikan secara terorganisir, tanpa kekacauan, tanpa penghinaan.”

Pada Rabu malam, Kantor Media Pemerintah Gaza melaporkan sedikitnya 10 warga Palestina yang sangat membutuhkan bantuan dibunuh pasukan Israel dalam 48 jam sebelumnya.

"Kami Tidak Akan Memaafkan Mereka yang Membiarkan Kami Sampai pada Titik Ini"

'Jalanan di Gaza Dipenuhi Penderitaan, Dibanjiri Air Mata'
Warga Palestina membawa barang-barang mereka setelah Israel memerintahkan penduduk untuk meninggalkan Khan Younis, di Jalur Gaza selatan, pada 19 Mei 2025. AFP

Walaa Abu Sa’da memiliki tiga orang anak. Anak bungsunya baru berusia 10 bulan.

Wanita berusia 35 tahun itu tidak tahan melihat orang-orang kembali ke kamp pengungsian di al-Mawasi di Khan Younis sambil membawa makanan sementara anak-anaknya kelaparan, jadi dia memutuskan untuk pergi ke Rafah sendirian.

“Saya bertengkar dengan suami saya yang menolak pergi karena takut pada tentara (Israel). Saya bersumpah akan pergi sendiri,” kata Walaa kepada Al Jazeera.

Dia menitipkan anak-anaknya kepada saudara perempuannya, dia bergabung dengan kerumunan yang menuju lokasi distribusi.

“Anak-anak saya hampir kelaparan. Tidak ada susu, tidak ada makanan, bahkan susu formula bayi. Mereka menangis siang dan malam, dan saya harus mengemis kepada tetangga untuk sisa-sisa makanan,” katanya.

“Jadi saya pergi, terlepas dari apa yang dipikirkan suami saya.”

Namun, saat Walaa sampai di Rafah, sudah terlambat.

“Orang-orang berebut sisa-sisa makanan yang tersisa. Beberapa membawa bungkusan yang robek,” katanya.

Walaa meninggalkan lokasi distribusi dengan tangan hampa. Dalam perjalanan pulang, dia melihat seorang pria menjatuhkan sekantong tepung dari bungkusannya yang robek.

“Saya mengambilnya dan bertanya apakah boleh buat saya,” katanya.

“Ia berteriak, ‘Saya datang jauh-jauh dari Beit Lahiya di utara (Gaza) untuk mendapatkan ini. Saya punya sembilan anak yang semuanya kelaparan. Maaf, saudari, saya tidak bisa memberikannya,’ dan ia pun pergi."

“Saya mengerti, tetapi kata-katanya menghancurkan saya. Saya menangis karena apa yang telah terjadi pada kami.”

Walaa menggambarkan pengalaman itu sebagai hal yang sangat memalukan. Ia dipenuhi rasa malu dan rendah diri.

“Saya menutupi wajah saya dengan syal sepanjang waktu. Saya tidak ingin ada yang mengenali saya saat akan mendapatkan paket makanan,” kata Walaa, yang merupakan seorang guru dengan gelar sarjana geografi.

Kendati diliputi kepedihan, Walaan mengatakan dia akan melakukan hal itu lagi jika diperlukan.

"Tidak ada martabat yang tersisa ketika anak-anak Anda menangis karena kelaparan. Kami tidak akan memaafkan mereka yang membiarkan kami sampai di titik ini."

Rekomendasi