Pasukan penjajah Israel membunuh 15 tenaga medis dan petugas penyelamat (SAR) Palestina di Jalur Gaza. Sebelumnya para petugas medis ini dilaporkan hilang namun kemudian terungkap mereka dibunuh pasukan Israel satu demi satu lalu dikuburkan secara massal di Gaza selatan delapan hari lalu, menurut PBB.
Menurut Kantor Kemanusiaan PBB (OCHA), petugas medis dari Bulan Sabit Merah Palestina (PRCS) dan petugas pertahanan sipil tersebut dibunuh ketika berangkat menuju sebuah misi untuk menyelamatkan rekannya yang ditembak sebelumnya pada hari itu, di mana mobil ambulans yang mereka tumpangi ditembak di distrik Tel al-Sultan, Rafah pada 23 Maret 2025.
Seorang pejabat Bulan Sabit Merah di Gaza mengungkapkan, ada bukti setidaknya satu orang ditahan dan dibunuh, karena salah satu jenazah ditemukan dengan tangan terikat. Sementara itu, satu pekerja PRCS yang ikut dalam misi penyelamatan itu juga dilaporkan hilang.
“Tujuh hari yang lalu, ambulans pertahanan sipil dan PRCS tiba di lokasi kejadian,” kata kepala OCHA di Palestina, Jonathan Whittall, dalam sebuah pernyataan video, dikutip dari The Guardian, Selasa (1/4).
“Satu per satu, (paramedis dan pekerja pertahanan sipil) tertembak, mereka ditembak. Jenazah mereka dikumpulkan dan dikubur di kuburan massal ini."
“Kami menemukan mereka dengan seragam mereka, dengan sarung tangan mereka. Mereka ada di sini untuk menyelamatkan nyawa. Sebaliknya, mereka berakhir di kuburan massal,” kata Whittall.
“Ambulans-ambulans ini dikubur di pasir. Ada kendaraan PBB di sini, terkubur di pasir. Sebuah buldoser – buldoser pasukan Israel – mengubur mereka.”
Kepala UNRWA (Badan Bantuan PBB untuk Pengungsi Palestina), Philippe Lazzarini, mengatakan salah satu stafnya termasuk di antara korban tewas yang ditemukan di Rafah.
“Jenazah rekan kami yang terbunuh di Rafah telah ditemukan kemarin, bersama dengan para pekerja bantuan dari (Bulan Sabit Merah Palestina) – semuanya dibuang di kuburan dangkal – sebuah pelanggaran berat terhadap martabat manusia,” tulis Lazzarini dalam sebuah unggahan di media sosial.
Sementara itu, juru bicara Pertahanan Sipil Palestina di Gaza, Mahmoud Basal menyampaikan, ditemukan sedikitnya sekitar 20 tembakan di setiap jenazah. Sedikitnya satu dari mereka kakinya diikat, yang lain dengan kepala terpenggal, dan yang ketiga bertelanjang dada, seperti dikutip dari Middle East Eye, Selasa (1/4).
Kementerian Kesehatan Palestina mengatakan beberapa jenazah ditemukan dengan tangan terikat dan luka di kepala serta dada.
“Pasukan pendudukan Israel secara brutal mengeksekusi tim Pertahanan Sipil,” kata Basal.
Ia menambahkan para pekerja kemanusiaan dikubur di kuburan massal, sedalam 2-3 meter, yang menurut Basal merupakan “upaya untuk menyembunyikan kejahatan”.
Menurut Bulan Sabit Merah, sebuah ambulans dikirim untuk menjemput korban serangan udara pada dini hari tanggal 23 Maret dan memanggil ambulans pendukung. Ambulans pertama tiba di rumah sakit dengan selamat tetapi kontak dengan ambulans pendukung terputus pada pukul 3.30 pagi. Laporan awal dari tempat kejadian mengatakan ambulans tersebut telah ditembaki dan dua paramedis di dalamnya terbunuh, seperti dikutip dari The Guardian.
Sebuah konvoi yang terdiri dari lima kendaraan, termasuk ambulans, truk pertahanan sipil, dan dua mobil dari kementerian kesehatan, dikirim untuk mengambil jenazah. Konvoi itu kemudian ditembaki, dan Bulan Sabit Merah mengatakan sebagian besar korban tewas akibat serangan itu. Delapan korban tewas berasal dari Bulan Sabit Merah, enam dari pertahanan sipil, dan satu adalah karyawan PBB.
Direktur program kesehatan Bulan Sabit Merah, Dr Bashar Murad mengatakan salah satu paramedis dalam konvoi tersebut sedang menelepon rekan-rekannya di stasiun ambulans ketika serangan itu terjadi.
"Dia memberi tahu kami bahwa dia terluka dan meminta bantuan, dan bahwa orang lain juga terluka," kata Murad.
“Beberapa menit kemudian, selama panggilan berlangsung, kami mendengar suara tentara Israel tiba di lokasi, berbicara dalam bahasa Ibrani. Percakapan itu tentang pengumpulan tim, dengan pernyataan seperti: ‘Kumpulkan mereka di tembok dan bawa beberapa alat untuk mengikat mereka.’ Ini menunjukkan bahwa sejumlah besar staf medis masih hidup.”
"Yang pasti dan sangat jelas, mereka ditembak di bagian atas tubuh, lalu dikumpulkan dalam satu lubang, ditumpuk satu di atas yang lain, lalu ditimbun dengan pasir," jelas Murad.
Murad menambahkan, jenazah salah satu korban ditemukan dari kuburan dengan tangan masih terikat.
Bulan Sabit Merah mengidentifikasi petugas mereka yang dibunuh Israel pada 23 Maret yaitu Mustafa Khafaja, Ezzedine Shaat, Saleh Muammar, Rifaat Radwan, Mohammed Bahloul, Ashraf Abu Labda, Mohammed Hilieh, dan Raed Al-Sharif.
Pasukan Israel telah membunuh sedikitnya 105 anggota Pertahanan Sipil, 27 paramedis PRCS, 284 staf badan PBB dan hampir 1.400 pekerja kementerian kesehatan sejak perang genosida di Gaza dimulai pada Oktober 2023, menurut laporan Middle East Eye.