Pria yang Dijuluki Jagal dari Israel Ini Menang Pemilu, Langsung Diangkat Jadi Perdana Menteri

Kekejaman dan kebrutalan Israel di Palestina dimulai sejak 1948.

Alya Felicia Syahputri
Oleh Alya Felicia Syahputri - Reporter
Pria yang Dijuluki Jagal dari Israel Ini Menang Pemilu, Langsung Diangkat Jadi Perdana Menteri
Perdana Menteri Israel Ariel Sharon memberikan pidato pada hari pembukaan tahun ajaran baru di pemukiman Maale Adumim di Tepi Barat, 1 September 2004. (AFP/Arsip) (© 2025 Liputan6.com)

Dua puluh empat tahun yang lalu, pemilihan umum di Israel mengalami perubahan signifikan dengan kemenangan Ariel Sharon, yang hingga saat ini masih memberikan dampak yang terasa. Sharon, yang merupakan pemimpin partai kanan Likud, berhasil meraih kemenangan yang meyakinkan dalam pemilihan tersebut.

Dalam pidato yang disampaikan di depan para pendukungnya di Tel Aviv, ia mengajak untuk membentuk pemerintahan persatuan nasional demi mencapai perdamaian di kawasan Timur Tengah. Sementara itu, Ehud Barak, perdana menteri yang akan segera mengakhiri masa jabatannya, mengumumkan pengunduran dirinya dari kepemimpinan Partai Buruh serta meninggalkan parlemen.

Sharon menegaskan ia tidak akan memberikan konsesi wilayah kepada Palestina, terutama mengenai status Yerusalem.

"Hari ini, Israel telah mengambil langkah baru menuju perdamaian, keamanan, dan persatuan," kata Sharon, seperti yang dikutip dari BBC On This Day, Rabu (5/2).

Barak, di sisi lain, menyampaikan Partai Buruh tidak akan bergabung dalam pemerintahan persatuan nasional tanpa adanya kesepakatan rencana aksi yang jelas.

"Teman-teman, kita memang kalah dalam pertempuran ini, tetapi kita akan memenangkan perang," ungkapnya di hadapan para pendukung.

"Jalan yang kita tempuh adalah satu-satunya jalan yang akan membawa Israel menuju perdamaian dan keamanan."

Sharon dikenal sebagai sosok kejam dan brutal. Saat menjabat sebagai menteri pertahanan, ia menjadi arsitek utama dari invasi Israel ke Lebanon pada tahun 1982. Namun, pada tahun 1983, pengadilan Israel menyatakan Sharon bertanggung jawab secara tidak langsung atas pembantaian ratusan warga Palestina oleh milisi Kristen Lebanon di dua kamp pengungsi di Beirut yang berada di bawah kendali Israel, yang mengakibatkan ia dicopot dari jabatannya. Meskipun demikian, Sharon kembali ke dunia politik setahun setelahnya sebagai menteri perdagangan dan industri dalam pemerintahan koalisi Likud-Buruh.

Setelah pemungutan suara ditutup, hasil jajak pendapat menunjukkan Sharon unggul dengan selisih 19 persen. Hasil sementara yang ditayangkan di televisi Israel bahkan menunjukkan perbedaan yang lebih signifikan. Sayangnya, partisipasi pemilih hanya mencapai sekitar 60 persen, yang merupakan angka terendah dalam sejarah pemilu Israel.

Menanggapi kemenangan Sharon, rakyat Palestina melaksanakan "hari kemarahan" bersamaan dengan pemungutan suara, di mana para demonstran meneriakkan "Sharon adalah jagal" dan terlibat bentrokan dengan tentara Israel di Ramallah dan Hebron, Tepi Barat.

Sakit Stroke

Sharon menghadapi situasi di parlemen yang masih terpecah, mirip dengan tantangan yang dihadapi Barak sebelumnya. Beberapa analis di Israel memperkirakan pemilihan parlemen baru mungkin akan diperlukan dalam waktu enam bulan ke depan. Jika hal ini terjadi, Benjamin Netanyahu berpotensi untuk menantang posisinya di Partai Likud dan bisa menggantikannya sebagai perdana menteri.

Selain itu, Sharon juga harus menghadapi realitas politik yang rumit. Jika ia memilih pendekatan yang lebih keras untuk meredakan ketegangan dengan Palestina, para analis berpendapat tidak ada solusi yang sepenuhnya bersifat militer dalam konflik yang berkepanjangan ini.

Pada Juni 2002, setelah serangkaian serangan bom bunuh diri, Israel memulai pembangunan tembok pengaman sepanjang 640 km di perbatasan dengan Tepi Barat. Upaya untuk menghidupkan kembali proses perdamaian menghasilkan peta jalan baru yang diterbitkan pada April 2003. Sharon dikenal sebagai sosok yang memiliki prinsip kuat dalam menjaga keamanan Israel, dengan keyakinan bahwa tujuan yang dicapai menghalalkan cara yang digunakan.

Namun, kebijakannya untuk menarik pemukim Israel dari Jalur Gaza dan sebagian Tepi Barat pada Agustus 2005 menimbulkan kemarahan di kalangan pendukung setianya dan ditolak oleh Partai Likud.

Pada November 2005, Sharon akhirnya memutuskan untuk keluar dari Partai Likud dan mendirikan partai baru yang bernama Kadima (Maju). Pada tanggal 4 Januari 2006, ia mengalami stroke yang parah dan masuk ke dalam keadaan koma. Tiga bulan setelah itu, pada 11 April, kabinet Israel mengumumkan bahwa ia "tidak lagi mampu menjalankan tugasnya secara permanen."

Ehud Olmert, yang sebelumnya menjabat sebagai perdana menteri sementara, kemudian diangkat secara penuh setelah berhasil memenangkan pemilu untuk Partai Kadima pada bulan sebelumnya.

Rekomendasi