Arkeolog menemukan batu monumen batas wilayah dari zaman Romawi Kuno saat melakukan penggalian di Tel Avel Beit Ma'akha, Galilea utara, wilayah Palestina yang dicaplok negara penjajah Israel.
Batu ini sangat langka, berasal dari era Tetrarki dan berisi informasi tentang kepemilikan tanah kuno, pola pemukiman regional, dan prosedur administrasi kekaisaran, seperti dikutip dari Arkeonews, Kamis (23/1).
Temuan ini menyoroti praktik administratif Kekaisaran Romawi di bawah Kaisar Diocletian dan mengungkap rincian tentang pengaturan batas wilayah, kepemilikan tanah, dan pola pemukiman di wilayah tersebut. Selain itu, penemuan ini memberikan wawasan baru mengenai geografi historis dan lingkungan sosio-ekonomi Levant Romawi, termasuk dua nama desa yang sebelumnya tidak diketahui yaitu Tirthas dan Golgol.
Dua desa ini kemungkinan daerah kuno yang ditemukan dalam Survei Palestina Barat pada abad ke-19. Seorang surveyor kekaisaran, atau “censitor,” juga tertulis namanya pada batu tersebut. Penanda-penanda ini menyoroti pentingnya kepemilikan tanah dan pola pemukiman dalam lanskap ekonomi Romawi di Timur Dekat dan mencerminkan reformasi pajak ekstensif yang dimulai Diokletianus pada akhir abad ketiga Masehi.
“Apa yang membuat temuan ini sangat menarik adalah penyebutan dua nama tempat yang sebelumnya tidak diketahui dan surveyor kekaisaran yang baru. Hal ini menggarisbawahi betapa penemuan-penemuan yang tampaknya kecil sekalipun dapat secara dramatis meningkatkan pemahaman kita tentang sejarah sosio-ekonomi dan geografis wilayah tersebut,” jelas Dr Avner Ecker yang menguraikan prasasti yang tertulis pada batu ini.
Advertisement
Asal Usul Batu
Batu ini pertama kali digunakan untuk menandai perbatasan darat sebagai bagian dari reformasi pajak yang dilaksanakan Kaisar Romawi Diocletian. Batu basal kuno ini kemudian digunakan kembali dalam struktur dari zaman Kesultanan Mamluk.
Asal usul lokasi batu penanda perbatasan ini tak diketahui. Namun berdasarkan ukuran dan beratnya, diduga batu ini berasal dari wilayah yang tidak terlalu jauh dari lokasi penemuannya. Kondisi batu ini masih utuh dan panjangnya 101 cm dengan lebar 48 cm serta ketebalan 20-23 cm.
“Penemuan ini merupakan bukti reorganisasi administratif Kekaisaran Romawi yang cermat pada masa Tetrarki,” kata Profesor Uzi Leibner, yang juga menguraikan isi prasasti pada batu tersebut.
“Menemukan batu pembatas seperti ini tidak hanya menyoroti kepemilikan tanah dan perpajakan kuno, tetapi juga memberikan hubungan nyata dengan kehidupan individu yang menavigasi sistem kompleks ini hampir dua milenium lalu,” pungkasnya.