Suara Lantang Reformasi Tumbangkan Kekuasaan Militer di Pemilu Thailand

Partai yang dipimpin oleh kaum muda ini memiliki bagian terbesar di majelis rendah dengan total 147 kursi. Disusul oleh Partai Pheu Thai yang memiliki total 138 kursi.

Rita
Oleh Rita - Reporter
Suara Lantang Reformasi Tumbangkan Kekuasaan Militer di Pemilu Thailand
Pita Limjaroenrat. ©Jorge Silva/Reuters

Move Forward Party (MFP) berhasil memenangkan suara terbesar dan kursi terbanyak dalam pemilu di Thailand.

Dilansir dari laman Aljazeera, Senin (15/5), partai yang dipimpin oleh kaum muda ini memiliki bagian terbesar di majelis rendah dengan total 147 kursi. Disusul oleh Partai Pheu Thai yang memiliki total 138 kursi.

Kemenangan ini dianggap luar biasa karena survei sebelumnya memperkirakan jika Partai Pheu Thai yang terkait dengan Shinawatra diprediksi akan menang.

Namun, kemenangan MFP masih dibayangi ketidakpastian untuk membentuk pemerintahan berikutnya akibat aturan miring yang memungkinkan 250 anggota Senat yang ditunjuk militer untuk memberikan suara pada perdana menteri.

Artinya, MFP dan Pheu Thai masih membutuhkan dukungan dari partai-partai kecil untuk membentuk pemerintahan baru.

Selama hampir satu dekade, pemerintahan Thailand berada di bawah kekuasaan dan dukungan militer sejak kudeta pada 2014 yang dilakukan oleh mantan perdana menteri Thailand, Prayuth Chan-Ocha.

Titik balik

Menurut Profesor Ilmu Politik di Universitas Ubon Ratchathani, Titipol Phakdeewanich, kemenangan MFP ditandai sebagai titik balik besar Thailand terhadap perubahan.

"Ini menandai titik balik besar bagi Thailand karena menunjukkan sebagian besar orang di negara itu menginginkan perubahan," ujar Phakdeewanich.

Pemimpin MFP, Pita Limjaroenrat menyampaikan rasa terima kasih kepada para pendukungnya atas kemenangan yang diperoleh pada Senin pagi.

"Sekarang jelas bahwa Move Forward telah mendapatkan kepercayaan besar dari rakyat dan negara," ucapnya di akun Twitter.

MFP juga mengatakan pihaknya akan merencanakan prosesi di sekitar Monumen Demokrasi Bangkok.

Partai ini telah menjanjikan reformasi radikal pada monarki dan militer, termasuk mengubah undang-undang lese-majeste Thailand yang ketat yang digunakan untuk menghukum aktivisme politik. Penolakan terhadap undang-undang tersebut juga disuarakan oleh Partai Pheu Thai yang menempati posisi kedua.

Peluang perdana menteri

Pemimpin Pheu Thai, Paetongtarn Shinawatra menyampaikan selamat kepada MFP atas kemenangan mereka dalam pemilihan.

"Kami siap berbicara dengan Move Forward, tapi kami menunggu hasil resminya. Saya senang untuk mereka. Kita bisa bekerja sama," kata Paetongtarn pada wartawan Minggu malam.

Akan tetapi, analisis memperkirakan perdagangan suara politik akan berlangsung sebelum aliansi terbentuk dan perdana menteri terpilih. Setiap partai membutuhkan 25 kursi untuk mencalonkan seorang kandidat, yang membutuhkan 376 suara di dua majelis untuk menjadi perdana menteri.

Hal ini karena adanya aturan miring yang memungkinkan senat yang ditunjuk oleh pemerintah militer untuk memberikan suara pada partai atau blok yang bersekutu dengan militer.

Artinya, partai-partai kecil dengan suara di bawah MFP dan Pheu Thai mungkin saja bisa menjadi perdana menteri dalam pemilihan ini.

Dalam pemilihan terakhir tahun 2019, Pheu Thai berhasil memenangkan kursi terbanyak, namun Prayuth-lah yang muncul sebagai perdana menteri dan berhasil memimpin 19 partai di bawahnya.

KPU diperkirakan belum bisa memastikan secara resmi jumlah akhir kursi yang diraih masing-masing partai dalam pemilu kali ini selama beberapa pekan.

 

Reporter magang: Yobel Nathania

Rekomendasi