Iran dilaporkan menutup lebih dari 150 bisnis dalam 24 jam, menurut pernyataan pihak berwenang pada Minggu (16/04).
Polisi mengatakan penutupan tersebut terjadi akibat pertokoan itu melanggar aturan wajib memakai jilbab untuk perempuan.
Menurut juru bicara polisi, Said Montazerolmahdi, ratusan toko dan belasan restoran harus disegel karena tidak mematuhi aturan tersebut.
"Sayangnya, polisi harus menyegel 137 toko dan 18 restoran dan area resepsionis karena tidak mengindahkan peringatan sebelumnya," ujar Montazerolmahdi dalam pernyataan dari kantor berita Tasnim, seperti dilansir laman Al Arabiya, Minggu (16/6).
Penutupan ini juga dilakukan setelah jumlah perempuan di Iran yang menentang peraturan ini meningkat sejak gerakan protes terjadi. Gerakan protes ini dipicu oleh kematian seorang tahanan bernama Mahsa Amini Kurdi, 22 tahun, yang diduga melanggar aturan wajib memakai jilbab.
Kewajiban perempuan di Iran mengenakan jilbab di depan umum tertuang dalam Undang-Undang yang ditulis tak lama setelah Revolusi Islam tahun 1979.
Pekan lalu, Kepala Polisi Ahmad-Reza Radan mengatakan mereka yang melepas jilbabnya akan diidentifikasi menggunakan "peralatan pintar".
Advertisement
Teknologi pengenalan wajah
Penutupan toko itu diumumkan sehari setelah polisi mengatakan telah menggunakan kamera pengintai dan teknologi pengenalan wajah untuk menangani perempuan yang melanggar hukum.
Tidak hanya toko, polisi juga mengatakan pengemudi mobil akan menerima pesan teks jika membawa penumpang wanita yang melanggaran aturan wajib berhijab. Jika pelanggaran itu berulang, maka kendaraan mereka berisiko disita.
"Selama 24 jam terakhir, ada beberapa ratus kasus ketidakpatuhan yang dicatat oleh polisi, dan pemilik mobil telah diberitahu melalui SMS," kata Montazerolmahdi.
Bulan lalu, kepala kehakiman, Gholamhossein Mohseni Ejei mengatakan perempuan yang melepaskan jilbab mereka akan dihukum.
Reporter magang: Yobel Nathania