Masih ingat teori yang menyatakan bahwa Bumi ini datar, bukan bulat? Teori Bumi datar adalah salah satu teori konspirasi yang banyak dipercayai orang. Bahkan punya komunitas yang terdiri dari orang-orang yang mempercayai teori tersebut.
Teori konspirasi juga banyak bermunculan ketika pandemi Covid-19. Salah satu teori yang berkembang bahwa virus corona sengaja diciptakan kelompok tertentu untuk mengurangi populasi manusia di Bumi.
Di masa lalu, sains tidak dapat menjelaskan banyak fenomena yang ditemui manusia, sehingga tanggapan termudah dan paling efisien untuk pertanyaan yang tidak terjawab adalah menghubungkan dengan kekuatan dan kekuasaan Tuhan. Ilmu pengetahuan kini mampu menjawab banyak pertanyaan yang pernah membuat kita bingung, dan meskipun kita tidak selalu memiliki jawabannya, sekarang kita memiliki kapasitas untuk menjelaskan dan memahami segala macam fenomena secara akurat.
Tapi mengapa orang percaya pada teori konspirasi, meskipun ada banyak bukti yang menunjukkan bahwa teori itu salah? Mengapa teori konspirasi begitu lazim saat ini — dan apa sebenarnya teori konspirasi itu?
Mari kita urai jawabannya.
Menurut profesor psikologi sosial Universitas Kent Inggris, Karen Douglas, teori konspirasi merupakan sebuah keyakinan bahwa dua atau lebih aktor berkoordinasi secara rahasia untuk mencapai suatu hasil. Mereka mengekspos konspirasi ini untuk kepentingan publik.
Pernyataan Douglas didukung profesor teori politik Universitas Nottingham, Inggris, Hugo Drochon.
"Pada intinya, teori konspirasi adalah keyakinan bahwa ada segelintir orang yang mengendalikan segala hal di dunia ini. Inilah mengapa ada teori konspirasi yang menyebut perubahan iklim itu hoaks: itu karena (ahli teori konspirasi percaya) kelompok jahat ini ingin mengendalikan kita," jelas Drochon kepada Live Science.
Advertisement
Bagaimana teori konspirasi tumbuh dan berkembang? Apa yang membuat para pengikuti teori ini bersikeras mempercayai teori tersebut?
Profesor psikologi sosial Universitas Nottingham, Daniel Jolley mengatakan, teori konspirasi bermula ketika orang-orang berusaha memahami peristiwa yang kompleks atau rumit.
"Teori konspirasi bisa dibilang menawarkan solusi sederhana untuk masalah yang kompleks," Jolley, dikutip dari laman Live Science, Rabu (1/3).
Menurut Karen Douglas, gagasan itu berkembang ketika orang-orang membutuhkan jawaban ketika berada dalam tekanan.
"Secara khusus, teori konspirasi cenderung muncul pada masa-masa krisis ketika orang-orang merasa khawatir dan terancam. Teori itu tumbuh dan berkembang di bawah kondisi ketidakpastian," jelasnya.
"Sulit untuk berargumen bahwa semua teori konspirasi itu jahat," lanjutnya, seraya menambahkan teori konspirasi lebih sering berasal dari orang yang ingin mencoba memahami situasi sulit.
Sementara itu Jolley mencontohkan ketika pandemi Covid, masyarakat berusaha memahami krisis kesehatan terbesar itu. Saat itu masyarakat diliputi ketidakpastian dan kecemasan. Menurut Jolley, aspek-aspek inilah yang membuat teori konspirasi tumbuh dan berkembang.
Advertisement
Kendati ada bukti yang menentang teori konspirasi, mengapa para pengikutnya masih percaya dan bersikukuh?
"Kita ingin merasa memegang kendali, merasa yakin, dan merasa dekat dengan orang-orang yang mirip dengan kita, dan teori konspirasi dapat mewujudkannya," kata Jolley.
Penelitian menunjukkan, mayoritas orang (65%) menganggap diri mereka memiliki kecerdasan "di atas rata-rata", sesuatu yang peneliti kaitkan dengan "kecenderungan orang untuk melebih-lebihkan kemampuan kognitif seseorang". Kurangnya kesadaran diri, serta bias konfirmasi dan paparan ruang gema, juga bisa berperan, menurut Jolley.
"Begitu suatu kepercayaan terbentuk, orang-orang ingin mempertahankannya," kata Jolley.
"Mereka cenderung mencerna konten yang mendukung keyakinan tersebut dan berusaha untuk mendiskreditkan informasi yang tidak mendukung. Ditambah dengan pandangan dunia yang berpusat pada ketidakpercayaan terhadap orang lain, Anda dapat melihat bagaimana seseorang dapat menemukan diri mereka di lubang kelinci."
Hugo Drochon mengatakan, terkadang orang-orang religius lebih cenderung percaya pada teori konspirasi karena mereka mengadopsi pandangan Manichean tentang dunia atau pandangan baik versus jahat, tapi ternyata lebih rumit dari itu.
"Sering kali soal berada dalam posisi minoritas, jadi jika Anda sangat religius di dunia yang sekuler ini, Anda cenderung lebih mempercayai teori konspirasi, tapi jika Anda sangat ateis di dunia yang religius, Anda juga mudah terpengaruh," jelas Drochon.
Advertisement
Menurut Karen Douglas, kita semua berpotensi jadi pengikut teori konspirasi jika kondisinya tepat.
"Penelitian menyatakan orang-orang tertarik pada teori konspirasi ketika satu atau lebih kebutuhan psikologis tidak terpenuhi," kata Douglas.
"Yang pertama dari kebutuhan ini adalah epistemik - terkait dengan kebutuhan untuk mengetahui kebenaran dan memiliki kejelasan dan kepastian. Kebutuhan lainnya bersifat eksistensial, yang terkait dengan kebutuhan untuk merasa aman dan memiliki kendali atas hal-hal yang sedang terjadi, dan sosial, terkait dengan kebutuhan untuk menjaga harga diri kita dan merasa positif tentang kelompok kita."
Karena itulah tidak ada orang yang benar-benar bisa terhindar dari teori konspirasi.
"Siapapun bisa jadi mangsa teori konspirasi jika kebutuhan psikologis mereka tidak terpenuhi pada waktu tertentu," pungkas Karen Douglas.