Jacindar Ardern mengumumkan pengunduran dirinya sebagai Perdana Menteri (PM) Selandia Baru. Pengumuman yang mengangetkan ini disampaikan ketika dia menyatakan pemilu akan berlangsung pada Oktober mendatang.
Dia mengatakan tidak lagi punya cukup kekuataan untuk menjalankan tugas-tugasnya sebagai PM.
"Inilah saatnya," cetusnya, dikutip dari The Guardian, Kamis (19/1).
"Saya mundur, karena dengan peran istimewa itu ada tanggung jawab. Tanggung jawab untuk mengetahui kapan Anda orang yang tepat untuk memimpin dan juga kapan tidak. Saya tahu apa yang dibutuhkan pekerjaan ini. Dan saya tahu bahwa saya tidak lagi punya kekuatan untuk melakukannya dengan adil. Sesederhana itu," lanjutnya.
Masa jabatannya sebagai PM akan berakhir sebelum 7 Februari, tapi dia akan tetap menjadi anggota parlemen sampai pemilu berlangsung tahun ini.
"Saya manusia, politikus itu manusia. Kita memberikan semua yang kita bisa sepanjang kita bisa. Dan kemudian inilah saatnya. Dan bagi saya, inilah saatnya," jelasnya.
Ardern mengatakan dia telah berefleksi sepanjang liburan musim panas apakah dia punya energi untuk melanjutkan perannya dan memutuskan dia tidak memilikinya.
Ardern menjadi kepala pemerintahan perempuan termuda di dunia ketika terpilih sebagai PM pada 2017 dalam usia 37 tahun. Dia memimpin Selandia Baru melalui pandemi Covid-19, dan sejumlah bencana besar termasuk serangan teror penembakan di dua masjid di kota Christchurch, dan erupsi gunung api White Island.
"Ini menjadi lima setengah tahun yang paling memuaskan dalam hidup saya. Tapi juga ada tantangannya - di tengah agenda yang fokus pada masalah perumahan, kemiskinan anak, dan perubahan iklim, kita berhadapan dengan perisitiwa teror domestik, bencana alam besar, pandemi glibal, dan krisis ekonomi," jelasnya.
Ditanya bagaimana dia ingin kepimpinannya diingat oleh masyarakat Selandia Baru, Ardern mengatakan "sebagai seseorang yang selalu berusaha menjadi baik".
"Saya harap saya meninggalkan masyarakat Selandia Baru dengan kepercayaan bahwa Anda bisa jadi baik, tapi kuat, berempati tapi tegas, optimis tapi fokus. Dan bahwa Anda bisa menjadi pemimpin yang berbeda, yang tahu kapan harus pergi," jelasnya.
"Saya tidak ingin meninggalkan kesan bahwa perbedaan yang Anda hadapi dalam politik adalah alasan orang-orang keluar. Ya, itu punya pengaruh. Kita manusia, tapi itu bukan dasar keputusan saya."
Advertisement
Ardern mengatakan belum punya rencana di masa depan, selain menghabiskan waktu bersama keluarga.
Dia berterima kasih pada pasangannya, Clarke Gayford, dan putrinya, Neve, yang dia lahirkan saat menjabat sebagai PM. Ardern menyebut pasangan dan putrinya sebagai orang yang paling berkorban banyak.
"Kepada Neve: Mama tidak sabar ada di sana ketika kamu mulai sekolah tahun ini. Dan untuk Clarke, akhirnya ayo menikah," ujarnya.
Dia juga mengatakan keputusannya untuk mundur bukan karena penurunan suara yang didapatkan partainya, Partai Buruh, dalam survei yang berlangsung beberapa bulan terakhir.
"Saya mundur bukan karena saya yakin kami tidak akan memenangkan pemilu, tapi karena saya yakin kami bisa dan akan menang, dan kami perlu orang baru untuk perubahan itu," jelasnya.