Penjualan senjata dan layanan militer oleh 100 perusahaan pertahanan terbesar dunia naik 1,9 persen menjadi USD592 miliar atau sekitar Rp9.250 triliun pada 2021. Kenaikan terjadi kendati ada masalah rantai pasokan yang menghalangi pengiriman komponen-komponen penting persenjataan. Demikian menurut data baru Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI).
Dalam rilis Basis Data Industri Senjata pada Senin, SIPRI mengatakan kenaikan ini, naik dari 1,1 persen pada 2019-2020, menandai tujuh tahun berturut-turut kenaikan penjualan senjata global.
SIPRI mengatakan, masalah rantai pasokan menahan perdagangan senjata pada 2021 dan semakin diperburuk perang di Ukraina.
"Kami memperkirakan pertumbuhan yang lebih besar dalam penjualan senjata pada tahun 2021 tanpa masalah rantai pasokan yang terus-menerus," jelas Lucie Béraud-Sudreau, direktur Program Pengeluaran Militer dan Produksi Senjata SIPRI, dalam sebuah pernyataan.
"Baik perusahaan senjata yang lebih besar dan lebih kecil mengatakan penjualan mereka terpengaruh sepanjang tahun. Beberapa perusahaan, seperti Airbus dan General Dynamics, juga melaporkan kekurangan tenaga kerja," lanjutnya, dikutip dari Aljazeera, Selasa (6/12).
Menurut laporan SIPRI, invasi Rusia di Ukraina sejak Februari lalu juga memperbesar tantangan rantai pasokan bagi perusahaan senjata di seluruh dunia.
Bagi negara-negara Barat, Rusia merupakan pemasok penting material mentah yang digunakan dalam produksi senjata. Menurut SIPRI, ini bisa menghambat upaya Amerika Serikat dan Eropa dalam memperkuat angkatan bersenjata mereka.
Rusia, yang meningkatkan produksi senjatanya karena perang, juga terdampak sanksi internasional. Ini membuat pabrik senjata di Rusia kesulitan mengakses semikonduktor dan menerima pembayaran dari konsumennya.
SIPRI mengatakan, perusahaan senjata AS mendominasi daftar, di mana tercatat penjualan 40 perusahaan AS dengan total USD299 miliar pada tahun 2021, meskipun penjualan sedikit lebih rendah secara riil sebagai akibat dari inflasi yang tinggi.
Lima perusahaan teratas berbasis di AS: Lockheed Martin, Raytheon Technologies, Boeing, Northrop Grumman, dan General Dynamics.
Laporan SIPRI juga mencatat adanya onjakan besar dalam penjualan senjata dari produsen China, dengan delapan perusahaan senjata China dalam daftar tersebut memiliki total penjualan senjata sebesar USD109 miliar atau sekitar Rp1.703 triliun, meningkat 6,3 persen dari tahun sebelumnya. Empat pabrikannya berada di Top 10.
Perusahaan senjata Korea Selatan juga mencatat pertumbuhan penjualan di atas rata-rata, dengan empat perusahaan dalam daftar SIPRI melaporkan penjualan gabungan 3,6 persen tahun sebelumnya sebesar USD7,2 miliar, dipimpin oleh produsen mesin Hanwha Aerospace. Penjualannya melonjak 7,6 persen menjadi USD2,6 miliar dan diperkirakan tumbuh secara signifikan di tahun-tahun mendatang setelah menandatangani kesepakatan senjata besar dengan Polandia awal tahun ini.
Grup Penerbangan Dassault Prancis juga mencatat pertumbuhan yang kuat, dengan penjualan naik 59 persen menjadi USD6,3 miliar atau sekitar Rp112 triliun pada 2021, didorong oleh pengiriman 25 pesawat tempur Rafale.
Sementara itu ada 27 perusahaan dengan kantor pusat di Eropa dalam daftar 100 teratas; penjualan senjata gabungan mereka meningkat sebesar 4,2 persen mencapai USD123 miliar atau sekitar Rp1.921 triliun.
Enam perusahaan Rusia di daftar 100 teratas mencatat penjualan mereka naik tipis 0,4 persen menjadi USD17,8 miliar atau sekitar Rp278 triliun.
"Ada tanda-tanda stagnasi meluas di seluruh industri senjata Rusia," jelas laporan SIPRI.