Berbulan-Bulan Menang Lawan Covid, Kini China Sedang Berjuang Menaklukkan Delta

China sedang menghadapi cobaan terbesarnya sejak virus pertama kali muncul di Wuhan, China tengah akhir 2019 lalu. Cobaan terbesar saat ini yaitu virus corona varian Delta yang sangat menular yang dengan cepat menyebar di seluruh negeri.

Hari Ariyanti
Oleh Hari Ariyanti - Reporter
Berbulan-Bulan Menang Lawan Covid, Kini China Sedang Berjuang Menaklukkan Delta
Tes Masal Virrus covid-19 di Wuhan. ©2021 AFP/STR

Dalam pertempuran melawan virus corona, beberapa wilayah tampak yakin akan menang seperti China.

Negara dengan penduduk 1,4 miliar jiwa itu telah berhasil memberantas virus dengan begitu cepat, menjadi salah satu negara pertama di dunia yang dibuka kembali pada musim semi tahun lalu. Orang-orang berhenti memakai masker dan menggelar pesta di kolam renang.

Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintah menghadapi wabah sporadis di beberapa provinsi, tapi segera berhasil mengatasinya dengan memobilisasi ribuan orang untuk melakukan tes dan menelusuri infeksi, termasuk menerapkan lockdown sejumlah wilayah.

Model penanganan seperti itu saat ini terlihat sangat rapuh.

China sedang menghadapi cobaan terbesarnya sejak virus pertama kali muncul di Wuhan, China tengah akhir 2019 lalu. Cobaan terbesar saat ini yaitu virus corona varian Delta yang sangat menular yang dengan cepat menyebar di seluruh negeri. Para pejabat China mengakui, mengatasi wabah ini akan jauh lebih sulit daripada wabah lainnya, karena penyebaran yang cepat dan tanpa gejala varian ini.

Saat angka kasus masih relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan Amerika Serikat dan negara lainnya, wabah baru di China ini menunjukkan keterbatasan pendekatan tanpa China terhadap Covid. Hal ini juga dapat mematahkan argumen Partai Komunis yang berkuasa bahwa gaya otoriternya menjadi keberhasilan yang tidak perlu dipertanyakan lagi terkait pandemi. Wabah Delta di China ditemukan di beberapa kota seperti Nanjing, Wuhan, Yangzhou, dan Zhangjiajie.

Walaupun pemerintah berhasil mengatasi lonjakan kasus Delta pada Juni di Provinsi Guangdong, pemerintah saat ini berurusan dengan penyebaran yang jauh lebih luas. Sejak wabah Delta terbaru yang mulai pada 21 Juli, angka kasus naik menjadi 483, lebih dari seluruh total infeksi dari lima bulan pertama tahun ini. Sampai Selasa sore, virus telah menyebar ke 15 dari 31 provinsi dan wilayah otonomi di China.

“Ketika telah mencapai banyak provinsi, sangat sulit untuk ditangani,” ujar profesor kesehatan masyarakat Universitas Yale, Chen Xi, dikutip dari The New York Times, Rabu (4/8).

“Menurut saya ini akan mengherankan dan mengejutkan bagi sebagian wilayah di dunia. Sebuah pemerintah yang begitu kuat telah dicurangi Delta. Ini akan menjadi pelajaran yang sangat penting, kita tidak bisa membiarkan kewaspadaan kita menurun.”

Pekan lalu, wakil perdana menteri China, Sun Chunlan, menyalahkan “kelemahan ideologis” atas munculnya wabah Delta dan mendesak para pejabat mengambil langkah preventif.

“Kita tidak bisa santai sebentar,” ujarnya.

Ubah strategi penanganan Covid

Beberapa pakar kesehatan masyarakat di negara itu mengatakan waktunya China memikirkan kembali strategi penanganan Covidnya. Dalam esai terbaru, penasihat pemerintah China terkait penanganan Covid, Zhang Wenhong, melontarkan gagasan untuk mengikuti model penanganan yang mirip seperti di Israel dan Inggris, yang memiliki angka vaksinasi tinggi dan warganya bersedia hidup dengan virus.

Untuk saat ini, China masih tetap berpegangan pada pedoman ketat yang sama. Di seluruh negeri, pemerintah melarang warga bepergian kecuali diperlukan. Di kota-kota seperti Zhangjiajie dan Zhuzhou, 5,4 juta orang dilarang keluar rumah. Sekitar 13 juta penduduk di kota Zhengzhou, yang dilanda banjir mematikan pada Juli, mengantre untuk tes Covid-19 pekan lalu.

Di Nanjing, di mana kasus varian Delta pertama kali muncul baru-baru ini, jutaan penduduk juga dites massal dalam empat putaran.

Yanzhong Huang, dari Dewan Hubungan Luar Negeri bidang kesehatan global, mengatakan strategi "berbasis penahanan" China tidak akan berhasil dalam jangka panjang, terutama karena varian baru terus muncul.

“Akan menjadi sangat mahal untuk mempertahankan pendekatan seperti itu,” ujarnya.

Namun China tampaknya tidak mau mengambil risiko.

Di Wuhan, pemerintah mulai melakukan tes terhadap 12 juta penduduknya pada Selasa, setelah tiga kasus varian Delta ditemukan. Kota Sanmenxia dan kota Zhuhai juga mulai menggelar tes Covid massal. Di Beijing, di mana ada lima kasus infeksi, layanan kereta api dari 23 kota dibatalkan.

Belum terkendali

Pakar kebijakan senior China dan ahli epidemiologi di RAND Corporation, Jennifer Huang Bouey, mengatakan dengan kontrol yang ketat, mungkin tidak realistis bagi pejabat di China untuk menurunkan kasus terbaru ini menjadi nol. Menurutnya, pemerintah mungkin harus mempersiapkan warga agar bisa hidup berdampingan dengan Covid.

Salah satu tantangannya bagi Beijing adalah vaksin buatan China yang digunakan untuk mengimunisasi warga begitu efektif terhadap varian Delta jika dibandingkan vaksin lainnya. Pemerintah mengatakan telah memberikan sekitar 1,69 miliar dosis. Pejabat kesehatan sekarang mempertimbangkan untuk memberikan suntikan booster kepada orang-orang dengan sistem kekebalan yang lemah serta warga yang lebih tua.

Ahli epidemiologi ternama China, Zhong Nanshan mengatakan vaksin China 100 persen protektif terhadap penyakit parah yang disebabkan varian Delta, dan 63,2 persen efektif melawan kasus tanpa gejala. Dia mengatakan percaya diri wabah terbaru ini bisa dikendalikan dalam 10 sampai 14 hari, selama pemerintah melakukan penelusuran kontak yang meluas di Nanjing dan beberapa kota lainnya di Provinsi Jiangsu.

“Situasinya belum terkendali,” kata Gubernur Jiangsu, Wu Zhenglong dalam konferensi pers pada Minggu.

“Pencegahan dan pengendalian situasi parah dan rumit,” lanjutnya.

Seorang warga Nanjing, Han Xiaoyi (23) mengatakan marah dengan cara pemerintah dalam menangani wabah Delta di kotanya. Pemerintah mengizinkan warga tetap berangkat kerja dengan menumpangi kereta dan bus yang padat.

Han, yang bekerja sebagai sales, harus berdiri lama mengantre berjam-jam untuk dites empat kali dalam beberapa hari terakhir.

“Ketika baru dimulai, saya merasa sangat tertekan karena pertama rasanya seperti pandemi telah menjauh dari saya,” ujarnya.

“Kemudian tiba-tiba, rasanya seperti kembali di tengah-tengah saya.”

Rekomendasi