Raungan Kesakitan dari Balik Penjara

Hanya dalam hitungan hari sekitar 7.000 warga Belarusia dijebloskan ke dalam penjara yang sudah penuh setelah mereka ditangkap karena berunjuk rasa pada Agustus tahun lalu untuk menentang Presiden Alexander Lukashenko.

Pandasurya Wijaya
Oleh Pandasurya Wijaya - Reporter
Raungan Kesakitan dari Balik Penjara
roman protasevich dan sofia sapega. ©Reuters

Hanya dalam hitungan hari sekitar 7.000 warga Belarusia dijebloskan ke dalam penjara yang sudah penuh setelah mereka ditangkap karena berunjuk rasa pada Agustus tahun lalu untuk menentang Presiden Alexander Lukashenko. Sang presiden memenangkan pemilu yang menurut banyak kalangan sudah direkayasa. Sejumlah laporan beredar tentang penyiksaan di dalam penjara.

Orang-orang diciduk dan dijebloskan ke penjara dengan cara-cara yang tidak biasa. Itulah yang dialami jurnalis Roman Protasevich, 26 tahun, dan kekasihnya.

Pesawat Ryanair yang ditumpangi Protasevich dalam perjalanan dari Anthena menuju Vilnus, Lithunia dipaksa mendarat oleh jet tempur Belarusia dengan acaman akan ditembak. Pesawat akhirnya mendarat di Ibu Kota Minks, Belarusia, dan Protasevich kemudian ditangkap aparat bersama kekasihnya, Sofia Sapega.

Sebelum peristiwa itu Protasevich mengatakan dia khawatir dengan hukuman mati karena aturan itu masih berlaku di Belarusia dan dia melihat namanya masuk dalam daftar teroris versi pemerintah.

Dikutip dari laman BBC, Rabu (26/5), salah satu video mengerikan yang beredar di dunia maya memperlihatkan tahanan politik tewas pekan lalu setelah dia pingsan di selnya. Situs berita independen terbesar di Belarusia Tut.by kemudian digerebek aparat dan para editornya dijebloskan ke penjara.

Tidak diragukan lagi, dia pasti disiksa

Ribuan warga Belarusia yang ditangkap di Ibu Kota Minsk Agustus tahun lalu harus mendekam di pusat penahanan di Jalan Okrestina.

Di sana juga tempat Sofia Sapega ditahan, kata ibunya. Dia dan roman Protasevich ditangkap setelah pesawat mereka dipaksa mendarat ke bandara Minks. Protasevich disebut berada di penjara lain di Minks yang dikenal dengan penjara nomor satu.

Keduanya sudah muncul dalam video yang diyakini banyak kalangan dibuat dalam keadaan paksaan. Dalam video itu Protasevich terlihat ada tanda kehitaman di bagian keningnya.

Tokoh pemimpin oposisi di pengasingan Svetlana Tikhanovskaya mengatakan: "Jelas dia sudah dipukuli dan berada dalam tekanan. Tidak diragukan lagi di sudah disiksa. Dia dijadikan tawanan."

Ayah Protasevich mengatakan dia yakin putranya dipaksa mengaku bersalah dalam video itu dan tampaknya mengalami patah tulang hidung.

Dalam video itu dia mengakui berperan dalam kerusuhan unjuk rasa di Minsk tahun lalu.

Bagi sang ayah, Dzmitry Protasevich, komentar video pada Senin itu tampak sebagai hasil paksaan.

"Kemungkinan hidungnya patah, karena bentuknya telah berubah dan ada banyak bedak di atasnya. Semua sisi kiri wajahnya dibedaki," kata Dzmitry kepada Reuters dalam sebuah wawancara di Rusia pada Senin malam dari Wroclaw, Polandia, tempat dia dan istrinya tinggal, seperti dilansir Antara, Selasa (25/5).

"Itu bukan kata-katanya, bukan intonasi ucapannya. Dia terlihat sangat pendiam dan Anda bisa lihat dia gugup," kata Protasevich tentang putranya. "Dan di atas meja itu bukan bungkusan rokoknya --dia tidak merokok ini . Jadi kupikir dia dipaksa."

Sang ayah menambahkan, "Anak saya tidak dapat mengakui menciptakan kerusuhan massal, karena dia tidak melakukan hal seperti itu."

Kementerian Dalam Negeri Belarus mengatakan Protasevich ditahan di penjara dan tidak mengeluhkan kesehatan yang buruk.

Presiden Belarusia Alexander Lukashenko yang sudah berkuasa 26 tahun mengatakan kepada parlemen, para pembangkang di dalam dan luar negeri "sudah melewati batas dan melampaui nalar dan moral".

Alina, 20 tahun, menceritakan apa yang dialaminya di Okrestina Agustus lalu ketika dia ditangkap aparat keamanan Belarusia.

"Di pintu masuk ada seorang pria berdiri dan berteriak membentak: Buruan, bangsat! Saya lalu jawab: 'Mengapa Anda berbicara seperti itu pada kami?' Dia lalu mencekik leher saya dan menendang saya sampai ke tembok," ujar Alina kepada BBC Rusia.

Karena diancam akan disiksa, Alina kemudian dipaksa menandatangani pernyataan yang dia tidak tahu apa isinya. "Ayo tandatangani atau saya perkosa kamu dan kamu akan ditahan lagi selama 20 hari," kata dia menceritakan pengancamnya.

Seorang tahanan lain bernama Sergei menceritakan bagaimana dia dipaksa merangkak di tahanan sambil terus dipukuli. Lembaga pembela hak asasi manusia Amnesty International mengatakan sejumlah mantan tahanan menggambarkan pusat penahanan itu menjadi ruang penyiksaan.

"Kami dipaksa untuk berdiri di lapangan sepanjang malam. Kami mendengar suara perempuan dipukuli," kata seorang laki-laki yang memperlihatkan bekas luka lebam kepada BBC. Jurnalis Nikita Telizhenko menulis laporan tentang para tahanan yang bergeletakan di lantai dan ditumpuk-tumpuk dengan tahanan lain.

Waktu itu pemerintahan Alexander Lukashenko menyangkal segala tuduhan penyiksaan.

Penangkapan aktivis hingga kini masih berlanjut dan menurut kelompok pembela HAM Viasna, ada 421 tahanan politik dari mulai narablog hingga pengusaha, demonstran hingga kandidat presiden dalam pemilu.

Tokoh oposisi juga mendapat ganjaran. Aktivis senior Pavel Severinets dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara pekan ini karena ikut serta dalam "kerusuhan" sementara enam aktivis lainnya dipenjara empat hingga tujuh tahun.

Tak kurang jurnalis juga ditangkapi. Februari lalu Katerina Andreyeva dan Daria Chultsova dari stasiun televisi Polandia Belsat TV dipenjara ketika meliput dan mengambil gambar demonstrasi.

Banyak demonstran yang sudah dibebaskan dari tahanan mengaku mereka dipukuli dan disiksa di dalam penjara.

Kematian Vitold Ashurok, 50 tahun, dalam penjara di Kota Shklou pekan lalu menimbulkan tanya bagi para pembela HAM.

Sebuah video yang dirilis pemerintah Belarusia memperlihatkan seorang pria yang disebut Ashurok sempoyongan di dalam selnya dan membenturkan kepalanya ke wastafel lalu pingsan. Dalam video yang sudah diedit itu dia diberi suntikan sebelum kemudian pingsan lagi.

Pemerintah mengatakan dia meninggal karena serangan jantung meski istrinya mengatakan jantung suaminya dalam keadaan sehat ketika dia mulai dipenjara.

27 pemimpin nasional Uni Eropa pada Senin menuntut pembebasan segera Protasevich dan Sapega, serta penyelidikan oleh Organisasi Penerbangan Sipil Internasional atas insiden tersebut.

Mereka juga setuju untuk memberlakukan lebih banyak sanksi pada Belarus, meminta maskapai penerbangan mereka untuk menghindari wilayah udara Belarus, dan mengesahkan aturan untuk melarang maskapai penerbangan Belarus dari wilayah udara dan bandara Eropa, kata seorang juru bicara.

EU, bersama dengan Amerika Serikat, Inggris, dan Kanada telah memberlakukan pembekuan aset dan larangan perjalanan pada hampir 90 pejabat Belarus, termasuk Presiden Alexander Lukashenko.

Rekomendasi