Capres Bolivia, Luis Arce, yang merupakan tokoh kiri penerus mantan pemimpin Evo Morales, mengatakan demokrasi di negaranya telah pulih setelah hasil penghitungan suara dari stasiun televisi Unitel mengindikasikan dia memenangkan pemilihan putaran pertama dengan suara 52,4 persen.
Dengan perbandingan yang cukup besar, Arce mengalahkan Carlos Mesa, yang mendapatkan 31,5 persen suara menurut penghitungan tersebut, dan menjamin kembalinya kekuasaan Gerakan Sosialisme (MAS).
Sementara itu, proyeksi khusus dari Yayasan Jubileo, Arce mendapatkan 53 persen suara dan Mesa 30,8 persen. Demikian dikutip dari AFP, Selasa (20/10).
Penghitungan suara resmi, yang membutuhkan waktu berhari-hari, baru terhimpun kurang dari 8 persen sampai pukul 02.00 waktu setempat. Hitung cepat telah dilarang setelah dugaan kecurangan tahun lalu yang menyebabkan Morales mengundurkan diri pada November setelah berkuasa 14 tahun.
"Sangat bersyukur atas dukungan dan kepercayaan rakyat Bolivia," tulis Arce di Twitter pada Senin pagi, setelah penghitungan suara dipublikasikan.
"Kita telah memulihkan demokrasi dan kita akan meraih kembali stabilitas dan perdamaian sosial."
Advertisement
Presiden sementara Jeanine Anez, yang tidak menjadi kandidat capres, menyampaikan selamat kepada Arce dan cawapres David Choquehuanca atas kemenangannya.
"Kita masih belum ada penghitungan resmi, tapi dari data yang kita punya, Bapak Arce dan Bapak Choquehuanca telah memenangkan pemilihan. Saya menyampaikan selamat kepada pemenang dan meminta mereka memerintah dengan Bolivia dan demokrasi," tulis oposisi MAS ini di Twitter.
Morales, mengklaim kemenangan partainya saat konferensi pers di Buenos Aires, di mana dia tinggal dalam pengasingan, mengatakan Arce akan mengembalikan pertumbuhan ekonomi negaranya.
Arce dijuluki arsitek kekuatan ekonomi Bolivia di bawah Morales, saat menjabat Menteri Perekonomian.
Pemilu, dua kali ditunda karena pandemi virus corona, pertama kali dalam 20 tahun tak melibatkan Morales, pemimpin pertama dari kalangan penduduk asli Bolivia.
Advertisement
Pemungutan suara, yang wajib bagi warga negara sampai usia 60 tahun, berlangsung lambat karena aturan jaga jarak sosial dan beberapa TPS harus dibuka lebih lama karena panjangnya antrean pemilih.
Arce telah diperkirakan memenangkan putaran pertama. Pertanyaannya adalah apakah pria 57 tahun itu bisa mendapatkan syarat 40 persen dengan keunggulan 10 poin untuk menghindari putaran kedua.
Jika dia tidak bisa, jajak pendapat menunjukkan Mesa (67) kemungkinan akan menang dalam putaran kedua dengan dukungan dari empat kandidat lainnya.
Morales, yang mengundurkan diri dan kabur ke pengasingan, dilarang ikut pemilu tapi berusaha meningkatkan ketegangan selama masa kampanye dari tempat tinggalnya di Argentina. Tapi sebelum penghitungan suara dimulai, Morales meminta semua pihak tenang dan mengatakan setiap orang harus menghormati hasil pemilu.
Dia juga berjanji kembali ke Bolivia hari berikutnya jika Arce memenangkan pemilu. Morales masih dalam penyelidikan terkait dugaan pemerkosaan dan penyelundupan terkait hubungannya dengan sejumlah gadis di bawah umur dan bahkan menjadi ayah seorang anak.
Tim pemantau pemilu dari Uni Eropa, OAS dan Carter Center hadir saat hari pemungutan suara, sementara Sekjen PBB Antonio Guterres menyerukan agar hasil pemilu dihormati.