AS Ingin Berunding Ulang Bahas Nuklir dengan Korea Utara

Amerika Serikat (AS) ingin membuka kembali perundingan dengan Korea Utara terkait program nuklir. KTT kedua pemimpin dalam dua tahun berturut-turut gagal mencapai kesepakatan.

Hari Ariyanti
Oleh Hari Ariyanti - Reporter
AS Ingin Berunding Ulang Bahas Nuklir dengan Korea Utara
Pertemuan Donald Trump dan Kim Jong-un di Vietnam. ©REUTERS/Leah Millis

Amerika Serikat (AS) ingin membuka kembali perundingan dengan Korea Utara terkait program nuklir. KTT kedua pemimpin dalam dua tahun berturut-turut gagal mencapai kesepakatan.

Seorang utusan yang ditunjuk Presiden AS Donald Trump ke Korea Utara mengatakan pada Rabu, pemerintah AS siap berunding kembali soal negosiasi nuklir walaupun Korea Utara terus mengulang klaim pihaknya tak ada keinginan segera berdialog dengan Washington.

Dilansir TIME, Kamis (9/7), Wakil Menteri Luar Negeri AS, Stephen Biegun menyampaikan kepada wartawan usai bertemu pejabat Korea Selatan di Seoul, di mana menegaskan kembali komitmen sekutu terhadap pendekatan diplomatik dalam menyelesaikan konflik nuklir dengan Korea Utara tetapi menghindari jawaban spesifik tentang apa yang dibahas.

Pertemuan itu berlangsung beberapa jam setelah media Korea Utara memberitakan Kim Jong Un mengunjungi makam di Pyongyang untuk memberi penghormatan kepada kakeknya dan pendiri Korea Utara, Kim Il Sung pada hari peringatan kematiannya.

Kantor berita pemerintah Korea Utara, KCNA tak menyebutkan pernyataan Kim terkait status perundingan dengan AS, yang terkendala ketidaksepakatan dalam pertukaran bantuan dan pencabutan sanksi.

Setelah berbicara dengan utusan nuklir Korea Selatan, Lee Do-hoon, Biegun mengatakan Washington siap untuk melanjutkan dialog dengan Korea Utara.

"Ketika Pemimpin Kim menunjuk utusan kepada saya yang siap dan ditugaskan untuk bernegosiasi tentang masalah ini, kami sangat siap pada saat itu juga," kata Biegun.

Biegun, yang juga bertemu dengan Menteri Luar Negeri Korea Selatan Kang Kyung-wha, diperkirakan akan melakukan pembicaraan lebih lanjut dengan pejabat kepresidenan Korea Selatan sebelum berangkat ke Jepang pada Kamis.

Hanya beberapa hari sebelumnya, Wakil Menteri Luar Negeri Pertama Korea Utara, Choe Sun Hui, yang sebelumnya digambarkan Biegun sebagai lawan potensial ketika pembicaraan dilanjutkan, mengeluarkan pernyataan yang mengatakan pihaknya tidak akan melanjutkan negosiasi kecuali Washington mencabut kebijakan "bermusuhan".

"Saya ingin memperjelas pada satu titik. Saya tidak mengambil arahan dari Wakil Menteri (Korea Utara) Choe Son Hui," kata Biegun.

"Saya mengambil panduan dari kesimpulan beberapa pertemuan dari Presiden Trump dan Pemimpin Kim selama dua tahun terakhir. Fokus menciptakan perdamaian yang lama di Semenanjung Korea, mengubah hubungan di Semenanjung Korea, menghilangkan senjata nuklir di Semenanjung Korea dan masa depan yang cerah bagi rakyat Korea."

Trump dan Kim bertemu tiga kali sejak 2018 tetapi negosiasi itu mandek sejak KTT kedua pada Februari tahun lalu di Vietnam. Korea Utara telah berulang kali mengatakan dalam beberapa bulan terakhir mereka tidak akan lagi memberi Trump kesempatan untuk bertemu kecuali mendapat balasan yang substansial.

Korea Utara juga telah menekan Korea Selatan, mengakhiri hampir semua kerja sama dan meledakkan kantor penghubung antar-Korea di wilayahnya bulan lalu. Kejadian ini menyusul kekecewaan Korea Utara atas keengganan Seoul menentang sanksi yang dipimpin AS dan memulai kembali proyek ekonomi bersama yang akan membantu ekonomi Korea Utara yang hancur.

Beberapa analis percaya Korea Utara akan menghindari pembicaraan serius dengan Amerika saat ini dan sebaliknya fokus menekan Korea Selatan dalam upaya untuk meningkatkan daya tawar sebelum akhirnya kembali ke negosiasi setelah pemilihan presiden AS pada November. Mereka mengatakan Korea Utara kemungkinan tidak ingin membuat komitmen atau konsesi besar ketika ada peluang kepemimpinan AS dapat berubah.

Tetapi yang lain mengatakan KTT Trump-Kim keempat sebelum pemilihan tak mustahil. Trump diperkirakan mencari sesuatu yang dramatis untuk meningkatkan elektabilitasnya yang menurun, sementara Kim diperkirakan ingin perubahan cepat langkah-langkah denuklirisasi dan pemberian bantuan dan investasi Korea Selatan jika peluang pada kepresidenan Trump tertutup.

Rekomendasi