Pangeran Harry mendesak negara Persemakmuran Inggris, yang dikepalai neneknya, Ratu Elizabeth II, mengakui masa lalu kolonialnya atau sejarah penjajahannya. Hal ini disampaikan dalam sebuah video yang diterbitkan pada Senin.
Pangeran 35 tahun itu dan istrinya, Meghan Markle, bergabung dengan sebuah panggilan konferensi video bersama sejumlah pemimpin yang diorganisir Queen's Commonwealth Trust (QCT) dari tempat tinggal mereka di Amerika Serikat (AS).
Sesi konferensi itu dilaksanakan untuk merespons berkembangnya gerakan Black Lives Matter (BLM) yang dipicu kematian George Floyd dalam penangkapan polisi pada 25 Mei lalu.
Pekan lalu, Harry menekankan komitmen pribadinya untuk mengatasi rasisme institusional, mengatakan rasisme tak memiliki tempat dalam masyarakat tapi masih menyebar luas.
Dalam konferensi 1 Juli yang diunggah di situs web QCT, dia mengatakan: "Ketika melihat ke Persemakmuran, kita tak bisa melangkah lebih jauh tanpa mengakui masa lalu."
"Begitu banyak orang yang telah melakukan hal hebat mengakui masa lalu dan mencoba membenarkan kesalahan-kesalahan itu tapi menurut saya kita semua mengakui masih ada banyak hal harus dilakukan," jelasnya, dikutip dari AFP, Selasa (7/7).
"Ini memang tak akan mudah dan dalam beberapa hal tidak akan nyaman, tapi itu perlu dilakukan, karena, ini untuk kebaikan bagi semua."
Advertisement
Ratu Elizabeth II adalah kepala Persemakmuran, organisasi non politik 54 negara, yang sebagian besar berkaitan dengan Kerajaan Inggris.
Persemakmuran memiliki populasi 2,4 miliar orang - seperempat dari populasi dunia - yang 60 persennya berusia di bawah 30 tahun.
QCT dibentuk sebagai platform bagi orang-orang muda dari negara anggota Persemakmuran untuk berbagi ide dan wawasan.
Kepala eksekutif QCT, Nicola Brentnall, mengatakan badan itu sedang mempelajari bagaimana masa lalu kolonial Persemakmuran dan warisannya harus membentuk masa depannya.
Harry dan Meghan mengundurkan diri dari tugas-tugas kerajaan tahun ini dan mendirikan sebuah organisasi nirlaba yang fokus pada peningkatan kesehatan mental, pendidikan, dan kesejahteraan.
Meghan, mantan aktris campuran ras AS, sebelumnya telah berbicara tentang pengalaman pribadinya tentang rasisme dan bias. Harry juga mengeluhkan "nada rasial" dari liputan media tentang istrinya. Pasangan tersebut masing-masing adalah presiden dan wakil presiden QCT.