Para lelaki paruh baya, beberapa mengenakan masker dan sarung tangan, membungkuk di atas kuburan yang baru digali dan dengan hati-hati memasukkan sebuah peti mati ke dalamnya. Membungkuk dan menekuk lutut, mereka mengubur seorang perempuan Prancis-Maroko berusia 60 tahun di area khusus muslim di sebuah pemakaman di sebuah kota di utara Paris.
Lokasi pemakaman itu berjarak lebih dari 1.800 mil dari tempat perempuan itu ingin dimakamkan: Ifrane Atlas-Saghir, kampung halamannya di Maroko.
"Kami menguburkannya di sana, tetapi kami tidak tahu apakah kami akan memulangkannya atau tidak," kata putra perempuan itu, Hakim, dilansir dari The New York Times, Selasa (5/5).
Pandemi telah menghentikan tradisi keluarga imigran muslim Prancis yang memulangkan jenazah keluarga ke negara asal mereka. Karena sebagian besar negara telah menutup perbatasan mereka, menemukan area pemakaman muslim yang tepat mengarah ke kiblat juga sulit.
Area seperti itu di sejumlah TPU di Prancis berkurang signifikan. Hal ini memicu kekhawatiran banyak keluarga dari Afrika Barat Laut dan Sub-Sahara selama beberapa dekade. Tapi pandemi telah membantu mengungkap sepenuhnya kekurangan itu sambil menggarisbawahi perjuangan yang lebih luas tentang integrasi muslim di Prancis.
"Sayangnya, Covid-19 telah menyerang komunitas muslim dengan kekuatan penuh," kata Chems-Eddine Hafiz, imam Masjid Agung Paris.
"Situasi ini telah berlangsung selama bertahun-tahun, dan kami sekarang membayar mahal untuk itu."
Advertisement
2 Persen blok muslim
Setiap tahun, ribuan jenazah dikirim kembali ke Maghreb - Afrika Barat Laut - dan Afrika sub-Sahara, sebuah operasi yang melibatkan rumah duka khusus, penerbangan sewaan, dan layanan konsuler. Tetapi pandemi menghentikan sistem yang berfungsi baik ini.
Maroko dan Tunisia telah menangguhkan semua repatriasi, sementara Aljazair dan Mali hanya mengizinkan orang-orang yang meninggal bukan karena Covid-19 untuk kembali. Larangan pemulangan telah mendorong lebih banyak keluarga muslim untuk beralih ke pemakaman Prancis untuk menguburkan kerabat mereka.
Pada 2016, sekitar enam juta muslim tinggal di Prancis, hampir 9 persen dari total populasi dan konsentrasi tertinggi di Eropa, menurut sebuah studi Pusat Penelitian Pew. Tetapi hampir 2 persen dari total jumlah pemakaman di Prancis menyediakan blok muslim, kata Hafiz.
Komunitas muslim Perancis telah mendesak tersedianya lebih banyak ruang di TPU selama bertahun-tahun. Tetapi karena hukum sekuler Perancis yang ketat, dewan kota - yang mengelola pemakaman negara - tidak diharuskan untuk membuat atau memperluas pemakaman dengan menyediakan blok berdasarkan agama.
Advertisement
Peringkat kelima dunia terdampak corona
Dengan sekitar 25.000 kematian terkait virus corona, Prancis menempati peringkat di antara lima negara paling terdampak di dunia. Meskipun tidak diketahui berapa banyak muslim di antara korban meninggal, pengurus muslim melaporkan dibanjiri dengan permintaan untuk mengatur pemakaman darurat atau berurusan dengan repatriasi.
"Krisis serius sedang berlangsung," kata Djamel Djemai, pemilik rumah pemakaman Muslim Al Janaza yang berusia 42 tahun di distrik Seine-Saint-Denis. Daerah ini adalah rumah bagi banyak keluarga imigran dan tingkat kematian di sana telah meningkat dalam beberapa pekan terakhir.
Djemai mengatakan, kegiatan dalam bisnisnya telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak awal krisis karena "jasad-jasad yang dalam keadaan normal seharusnya dipulangkan."
Bagi keluarga yang orang tuanya beremigrasi dari bekas koloni Prancis di Afrika ke Prancis pada paruh kedua abad ke-20, memulangkan jenazah orang yang dicintai adalah tradisi yang dilandasi oleh keinginan untuk menjaga ikatan kuat dengan negara asal.
"Ada dimensi simbolis dan restoratif," kata Valérie Cuzol, seorang peneliti di Max-Weber Centre di Lyon, yang memperkirakan sekitar 80 persen muslim yang meninggal di Prancis dipulangkan ke negara asal mereka.
Advertisement
Kurangnya lahan pemakaman muslim
Cuzol menambahkan, beberapa keluarga imigran di Perancis telah "dipaksa" untuk memulangkan jenazah karena kurang tersedianya lahan pemakaman untuk muslim.
Mamadou Diagouraga (32) kehilangan ayahnya pada akhir Maret. Ayahnya beremigrasi dari Mali ke Prancis pada tahun 1970-an, meninggal pada usia 70 tahun di sebuah rumah sakit setelah beberapa kali stroke. Ketakutan akan infeksi tak memungkinkan untuk memulangkan dan menguburnya di dekat jenazah saudara-saudaranya di desa kelahirannya.
"Tidak menghormati keinginan terakhirnya, itu benar, itu memilukan," kata Diagouraga.
Ibu Hakim, Yamina, yang meninggal karena kanker, akan dimakamkan di Ifrane Atlas-Saghir, desa di selatan Maroko yang ia tinggalkan pada usia 20 tahun untuk bergabung dengan suaminya yang berkebangsaan Maroko dan sudah bekerja sebagai ahli metalurgi di Prancis.
Dihadapkan dengan larangan itu, keluarganya memutuskan untuk menguburnya di bagian pemakaman Muslim di kota Garges-lès-Gonesse.
Tapi Hakim bersyukur.
"Hanya sedikit orang yang memiliki keberuntungan yang sama," ujarnya, merujuk pada keluarga yang masih mencari pemakaman yang menyediakan blok muslim.
Advertisement
Dewan Agama Islam Prancis meminta pada April agar wali kota dan pejabat pemerintah segera membuat plot pemakaman baru.
Beberapa kota, terutama di pinggiran Paris, telah setuju memperluas TPU mereka tetapi banyak daerah masih menghadapi kekurangan plot pemakaman Muslim.
Ada 100 kuburan masih tersedia untuk sekitar 100.000 penduduk muslim di distrik di sekitar Lyon, di mana dewan imam mengeluarkan fatwa, untuk sementara memungkinkan penguburan di luar bagian Muslim, kata Kamel Kabtane, imam Masjid Agung Lyon. Keluarga kemudian dapat menggali kembali mayat-mayat itu dan menguburkan mereka - atau bahkan memulangkan mereka - sesuai dengan tradisi keagamaan.
"Kami membutuhkan Covid-19 untuk meningkatkan kesadaran," kata Samad Akrach (32), Kepala Tahara, sebuah organisasi yang membantu keluarga muslim dengan upacara pemakaman. Akrach baru-baru ini mengajukan banding meminta perluasan bagian muslim di pemakaman Montreuil, sebelah timur Paris.
Akrach, yang keluarganya berasal dari Maroko, mengatakan perjuangannya tidak hanya untuk generasi tua yang bermigrasi ke Prancis, tetapi juga untuk anggota generasinya sendiri yang lahir di Prancis dan tidak ingin dimakamkan di tempat lain.
"Maroko adalah negara orang tua dan kakek nenek saya, bukan negara saya," ujarnya.
Hafiz, imam Masjid Agung Paris, mengatakan untuk generasi muda, tradisi "negara asal" tidak begitu penting.
"Generasi muda ingin benar-benar sebagai orang Prancis," katanya, "dan jelas, kesediaan untuk dimakamkan di Prancis adalah jenis integrasi."