Ketika artis K-pop, Sulli mengakhiri hidupnya bulan lalu, rekannya sesama penyanyi K-pop, Goo Hara terpukul, mengucapkan selamat tinggal kepada sahabatnya dalam video siaran langsung. Dengan air mata membasahi pipinya, Goo mengekspresikan harapannya Sulli bisa hidup sebagaimana yang dia inginkan di surga.
"Aku akan hidup dua kali lebih rajin sekarang setelah kau pergi," katanya. "Penggemar yang tersayang, aku akan baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku. "
Tapi pada Senin, enam pekan setelah kematian Sulli, Goo ditemukan tewas di rumahnya di Seoul yang disebut polisi karena bunuh diri. Dua kasus bunuh diri dua bintang K-pop membuat penggemar K-pop di Korea Selatan mencari tahu lebih dalam apa sebenarnya yang salah dengan K-pop, produk budaya yang berhasil diekspor negara mereka.
Lee Yong-pyo, Kepala Biro Kepolisian Metropolitan Seoul menyampaikan kepada wartawan bahwa jasad Goo ditemukan oleh seorang pelayan pada Minggu malam. Penyelidik juga menemukan catatan tulisan tangan dimana Goo mengekspresikan keputusasaannya, kata Lee.
Penggemar yang berduka bergerombol mendatangi rumah sakit Seoul dimana jasadnya disemayamkan, keluarga merencanakan pemakamannya dilaksanakan tertutup.
K-pop awalnya hanya populer di negara-negara Asia, girlband dan boyband seperti BTS, kini memiliki penggemar di berbagai belahan dunia. Para pakar sejak lama memperingatkan sisi gelap industri K-pop, yang masih tersembunyi di balik keglamorannya.
Advertisement
Banyak kelompok muda Korsel berlatih selama bertahun-tahun, sering kali dimulai saat usia remaja awal, mengasah keterampilan menyanyi dan gerakan menari dengan harapan dapat menarik agensi manajemen artis. Bahkan setelah mereka dipoles menjadi bintang K-pop, status bintang mereka jarang berlangsung lama, ketika artis yang lebih muda dengan penampilan yang lebih manis dan gerakan tarian yang lebih keren menggantikan mereka.
Bintang-bintang K-pop di usia akhir 20-an sudah dianggap tua, dan idola-idola yang memudar ini sering mencoba untuk mengukir peran baru dalam akting atau sebagai penyanyi solo atau talkshow yang seringkali tidak berhasil.
Fenomena K-pop disebarluaskan sebagian besar melalui YouTube, Instagram, Twitter dan saluran media sosial lainnya, di mana bintang-bintangnya dibanjiri surat penggemar dan komentar penuh kebencian dan perisakan siber (cyber bullying) dalam segala hal mulai dari penampilan, keterampilan menyanyi, hingga kehidupan pribadi mereka. .
Lee Hark-joon, seorang jurnalis Korea Selatan yang memproduksi film dokumenter TV tentang pembentukan girlband K-pop dan ikut menulis buku "Bintang K-pop: Budaya Populer dan Munculnya Industri Musik Korea mengatakan, para bintang K-pop telah dilatih sejak usia dini untuk menjalani kehidupan bak mesin dan terus berlatih.
"Mereka jarang memiliki kesempatan untuk mengembangkan kehidupan sekolah yang normal atau hubungan sosial yang normal seperti rekan-rekan mereka," jelasnya, sebagaimana dilansir dari laman The New York Times, Selasa (26/11).
"Kejatuhan mereka bisa semendadak dan sedramatis kejayaan mereka menuju puncak popularitas," kata Lee seraya menambahkan bahwa itu mereka alami di usia muda.
"Pekerjaan mereka adalah sebuah profesi yang secara khusus rentan bagi tekanan psikologi - mereka dipantau di media sosial setiap saat, dan hoaks tentang kehidupan pribadi mereka tersebar secara instan."
Advertisement
Pada 2017, Sulli, mantan anggota girband f(x), menghadiri acara mengenang bintang K-pop lainnya, Kim Jong-hyun (27), yang bunuh diri setelah meninggalkan sepucuk surat yang menceritakan dia menderita depresi. Sulli (25), bunuh diri bulan lalu setelah dia diserang kelompok misoginis di internet, khususnya setelah dia bergabung dengan sebuah kampanye feminis yang menganjurkan jangan menggunakan bra.Goo (28), mantan anggota girlband Kara, juga berjuang melawan serangan dunia maya. Ada desas desus yang disebarkan bahwa dia melakukan operasi plastik. Dia mengakui melakukan operasi untuk membuat matanya nampak sayu.Persoalan semakin runyam setelah dia putus dengan pacarnya yang seorang desainer, Choi Jong-beom. Muncul desas desus keduanya memiliki video mesum. "Saya tidak akan bisa menerima komentar jahat ini lagi," tulis Goo di akun Instagramnya pada bulan Juni, mengeluh tentang masalah kesehatan mental dan depresi. (Setelah kematiannya, unggahan itu di akun Instagram-nya telah dihapus.)Terkadang, dia terdengar putus asa, memohon para pengkritiknya agar berbelas kasih."Tak adakah di luar sana dengan pemikiran yang elok yang dapat merangkul orang yang menderita?""Penghibur publik seperti saya tidak mudah - kita memiliki kehidupan pribadi yang lebih hati-hati daripada orang lain dan kita menderita jenis rasa sakit yang bahkan tidak bisa kami diskusikan dengan keluarga dan teman-teman kami, katanya. "Bisakah Anda bertanya pada diri sendiri orang seperti apa Anda sebelum Anda menulis komentar jahat di internet?"Hubungan dengan mantan pacarnya, Choi, menjadi makin memanas. Goo menuntut Choi tahun lalu, dengan tuduhan mengancam menyebarkan video seks mereka. Pada Agustus, Choi dijatuhi hukuman penjara 1,5 tahun dengan tuduhan memeras, paksaan, dan membahayakan nyawa Goo. Namun hukuman penjara ditangguhkan oleh pengadilan dan dia bebas.Sejak kematian Goo, warga Korsel mengajukan petisi online ke kantor Presiden Moon Jae-in yang meminta penerapan hukuman yang lebih keras atas pelecehan seksual. Jumlah pendukung petisi ini meningkat dua kali lipat menjadi 217.000 sejak peristiwa bunuh diri dilaporkan.