Parpol Pendukung Morales dan Oposisi Bolivia Sepakat Akhiri Krisis Politik

Pemerintahan sementara Bolivia dan anggota parlemen dari parpol mantan presiden Evo Morales membuat kesepakatan Kamis malam untuk mempercepat Pemilu baru, yang berpotensi bisa mengatasi krisis politik negara di Amerika Selatan tersebut.

Hari Ariyanti
Oleh Hari Ariyanti - Reporter
Parpol Pendukung Morales dan Oposisi Bolivia Sepakat Akhiri Krisis Politik
Wali Kota di Bolivia Diseret Demonstran. ©2019 STR / AFP

Pemerintahan sementara Bolivia dan anggota parlemen dari parpol mantan presiden Evo Morales membuat kesepakatan Kamis malam untuk mempercepat Pemilu baru, yang berpotensi bisa mengatasi krisis politik negara di Amerika Selatan tersebut.

Dalam sidang Senat Bolivia yang berlangsung tengah malam, Ketua Senat, yang merupakan anggota Partai Gerakan Sosialis atau MAS yang dipimpin Morales, mengatakan dicapai kesepakatan untuk mempersiapkan Pemilu baru setelah unjuk rasa dan kekerasan terjadi dalam beberapa pekan terakhir yang menyebabkan Morales mengundurkan diri pada Minggu lalu.

"Hari ini adalah hari bersejarah dimana kita bisa bersepakat antara oposisi dan pemerintah dengan tujuan utama untuk mempersiapkan pemilu baru secepat mungkin, untuk mendamaikan negara kita dan utamanya untuk mempertahankan demokrasi," kata anggota MAS, Mónica Eva Copa Murga, dilansir dari Reuters, Jumat (15/11).

Monica meminta pasukan keamanan Bolivia menghargai kelompok suku asli atau pribumi Bolivia. Pasukan keamanan sempat bentrok dengan pendukung Morales dalam aksi unjuk rasa.

"Mari kita singkirkan warna kulit, posisi radikal, apa yang negara kita cari saat ini adalah kedamaian," ujarnya.

Presiden sementara Bolivia, Jeanine Anez (52), yang mengambil alih kursi presiden pada Selasa lalu setelah pengunduran diri Morales, mengindikasikan keinginannya memperbaiki komunikasi dengan pihak Morales. Namun, dia mengatakan Morales tak akan diterima kembali sebagai kandidat presiden.

Anez berusaha memimpin Bolivia yang terpecah belah setelah diguncang serangkaian unjuk rasa sejak pemilu 20 Oktober, yang dimenangkan Morales tetapi diduga melakukan manipulasi suara. Morales kemudian mengundurkan diri setelah ditemukan dugaan kecurangan dan militer menarik dukungannya dan mendesaknya untuk mundur sebagai presiden untuk membantu memulihkan ketenangan. Morales dan wakil presidennya Alvaro Garcia, yang juga mengundurkan diri, ditawari suaka oleh Meksiko.

Tak Ada Masa Jabatan Keempat

"Evo Morales tak memiliki kualifikasi untuk maju sebagai capres untuk masa jabatan keempat," kata Anez dalam konferensi pers pada Kamis.

Dia mengatakan MAS, yang memiliki kursi mayoritas di Kongres, diizinkan berpartisipasi dalam pemungutan suara.

"Mereka harus mulai mencari kandidat," ujarnya.

Morales, pemimpin karismatik Bolivia sejak 2006, kembali mencalonkan diri walaupun referendum 2016 menentang pembatasan masa jabatan, setelah pengadilan yang dipenuhi para loyalis memberi lampu hijau untuk berkuasa tanpa batas, dengan dalih hak asasi manusia.

Jerjes Justiniano, salah satu menteri baru yang ditunjuk Anez, sebelumnya mengatakan kepada wartawan bahwa pemerintah sementara sedang melakukan pembicaraan dengan MAS.

"Kami duduk satu meja, kami berdialog," ujarnya.

Justiniano menambahkan, MAS meminta jaminan Morales akan dapat kembali dengan bebas ke Bolivia, yang menurutnya tidak akan menjadi masalah.

"Tidak ada masalah dengan itu, itu hanya soal satu warga negara," ujarnya.

Anez tak menyampaikan jadwal spesifik kapan pemilu baru akan diselenggarakan, namun berdasarkan konstitusi dia memiliki waktu 90 hari sejak dia mendeklarasikan diri sebagai presiden sementara.

Korban Kudeta

Morales mengatakan dirinya sebagai korban kudeta, dengan para pendukungnya terus melakukan agitasi turun ke jalan menyerukan namanya dan terjadi bentrokan kecil di jalan-jalan La Paz dan dekat El Alto. Pada hari Kamis ribuan pendukung Morales turun ke jalan membawa bendera dan spanduk berwarna-warni di La Paz.Sementara itu, Anez memperkuat posisinya. Dia menunjuk panglima militer baru dan anggota kabinet, sementara anggota parlemen MAS tampaknya telah mundur dari rencana membatalkan pengangkatan sementara Anes sebagai presiden.Rusia, sekutu Bolivia di bawah Morales, mengatakan akan bekerja sama dengan Anez dan mengakuinya sebagai pemimpin Bolivia sampai pemilu baru diadakan. Amerika Serikat, Brasil, Kolombia, Inggris dan Jerman juga telah mengakui Anez. Pemerintah lain di Amerika Selatan, termasuk tetangganya Peru dan Argentina, sejauh ini menunda dukungannya untuk Anez.Dalam unjuk rasa di Bolivia sejak pemilu 20 Oktober, setidaknya 10 orang tewas, kantor kejaksaan mengatakan, sebagian besar akibat peluru senjata api.Morales, berkicau di Twitter dari Meksiko, menyerukan dialog untuk membantu "menenangkan" Bolivia, meminta PBB dan Gereja Katolik Roma membantu mencari solusi. PBB mengirim utusan.

Rekomendasi