Cerita dering telepon di Zona Larangan Militer, menilik peluang damai dua Korea

Cerita dering telepon di Zona Larangan Militer, menilik peluang damai dua Korea. Korea Utara menyatakan menerima permintaan Korea Selatan untuk menggelar dialog setelah lebih dari dua tahun kedua negara berseteru itu tidak melakukannya.

Pandasurya Wijaya
Oleh Pandasurya Wijaya - Reporter
Cerita dering telepon di Zona Larangan Militer, menilik peluang damai dua Korea
pejabat korsel berbicara di telepon dengan pihak korut. ©AP

Pukul 15.30 Rabu lalu dering telepon terdengar di dalam sebuah ruangan di desa tak berpenghuni di kawasan Zona Larangan Militer antara Korea Utara dan Korea Selatan.

Buat pertama kalinya sejak Februari 2016, telepon itu berdering. Korut menelepon pihak Korsel. Dan telepon itu diangkat.

Kabar berikutnya adalah Korea Utara menyatakan menerima permintaan Korea Selatan untuk menggelar dialog setelah lebih dari dua tahun kedua negara berseteru itu tidak melakukannya.

Dilansir dari CNN, Jumat (5/1), juru bicara Kementerian Penyatuan Korea Selatan Baik Tae-hyun mengatakan kepada wartawan kemarin, Korut memberitahu Korsel bahwa mereka menerima tawaran dialog itu.

Baik menuturkan, pembicaraan antarpersonel ini akan digelar 9 Januari mendatang, sehari setelah ulang tahun pemimpin Korea Utara Kim Jong-un, di Rumah Perdamaian berlokasi di Korea Selatan, tepatnya di desa Panmunjom di daerah Zona Larangan Militer antarkedua negara.

Kedua pihak sepakat untuk bekerja sama dalam pertukaran dokumen, kata Baik, dan agenda dialog nanti akan membahas sejumlah isu dalam meningkatkan hubungan antarKorea, termasuk perhelatan Olimpiade Musim Dingin di Pyeongchang, Korea Selatan.

Komite Olimpiade Internasional (IOC) merilis pernyataan mengatakan menyambut baik upaya dialog itu supaya atlet Korut bisa ikut bertanding di olimpiade bulan depan.

atlet ski es korut ©Getty Images

Dua atlet ski es Korut, Ryom tae-Ok dan Kim Ju-sik, sudah memenuhi kualifikasi untuk berkompetisi di Olimpiade. Korut sebetulnya sudah telat dua hari untuk mendaftar, namun IOC tampaknya akan membuat pengecualian.

Pejabat tinggi Korut yang diharapkan hadir dalam dialog ini adalah Ri Son Kwon, ketua Komite Korut untuk Damainya Penyatuan Kembali Tanah Air dan Menteri Penyatuan Korea Selatan Cho Myoung-gyon.

Pengumuman rencana dialog ini menunjukkan adanya kemajuan di antara dua Korea. Komunikasi antara kedua pihak ini berawal dari keinginan Kim Jong-un agar atlet Korut bisa ikut bertanding di Olimpiade Musim Dingin bulan depan.

Dalam pidato tahunannya yang baru lalu, Kim juga menyatakan keinginannya untuk membuat resolusi damai dengan Korsel setelah berkonflik selama enam dekade.

Tahun lalu Presiden Korsel Moon Jae-in mengatakan kepada CNN, 'partisipasi Korut dalam Olimpiade Pyeongchang akan membuka peluang baik bagi perdamaian antar dua Korea'.

Rekomendasi