Faksi politik Palestina, Fatah, kemarin menyerukan intifada atau gerakan perlawanan setelah beredar kabar Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan mengumumkan Yerusalem sebagai ibu kota Israel hari ini waktu setempat."Serangan keji dan sistematis terhadap Yerusalem ini dilakukan oleh Israel. Serangan ini bertujuan menghapus keberadaan Islam dan Arab di kota ini dan menjadikannya Yahudi, seiring perubahan demografi dan geografi yang sesuai dengan kepentingan Israel," kata pernyataan fatah, seperti dilansir laman Middle East Monitor, Rabu (6/12)."Yerusalem adalah pintu gerbang bagi perdamaian dan perang. Tekanan bertubi-tubi terhadap identitas Arab adalah kumandang perang dan ini mengabaikan semua kesepakatan dan konvensi internasional." Langkah Amerika ini, lanjut Fatah, bisa memberi restu politik bagi pendudukan Israel dan penguasaan penuh terhadap tempat suci tanpa pengawasan dari siapa pun.Fatah juga menyatakan akan menggelar protes selama tiga hari berturut-turut sejak Rabu hingga Jumat di seantero Tepi Barat. Anggota Komite Pusat Fatah Jamal Mahisan mengatakan kepada harian Haaretz, keputusan Trump itu akan memicu rakyat Palestina turun ke jalan untuk berunjuk rasa."Rakyat Palestina tahu bagaimana melindungi hak mereka dan kami sedang berembuk buat menentukan langkah selanjutnya dalam beberapa hari ini," kata Mahisan.Presiden Donald Trump kemarin menelepon Presiden Palestina Mahmud Abbas dan mengatakan Amerika akan memindahkan kedutaan besar mereka dari Tel Aviv ke Yerusalem."Presiden Abbas memperingatkan bahayanya keputusan itu bagi keberlangsungan perundingan damai, keamanan, dan stabilitas di kawasan dan dunia," ujar juru bicara presiden Abbas, Abu Rdainah.
Fatah serukan intifada buat dukung Yerusalem
Fatah serukan intifada buat dukung Yerusalem. Fatah juga menyatakan akan menggelar protes selama tiga hari berturut-turut sejak Rabu hingga Jumat di seantero Tepi Barat.
Advertisement
Rekomendasi