Pengadilan di Ibu Kota Sarajevo, Bosnia-Herzegovina, memutuskan membebaskan seorang mantan polisi sekaligus panglima perang etnis muslim Bosnia, Naser Oric (50), dari dakwaan kejahatan perang. Dia lolos terkait sangkaan membunuh tiga tahanan etnis Serbia pada 1992 di Kota Srebrenica dengan alasan kurang bukti dan pengakuan saksi tidak obyektif.Dilansir dari laman AFP, Selasa (10/10), putusan itu dibacakan oleh Hakim Saban Maksumic. Dia juga membebaskan seorang terdakwa lain dalam kasus sama merupakan mantan serdadu Bosnia, Sabahudin Muhic. Menurut hakim, dia meragukan pengakuan dan kredibilitas saksi kunci yang identitasnya dirahasiakan."Pengakuan saksi O-1 tidak cukup kuat buat menyimpulkan kalau Naser Oric melakukan pembunuhan," kata Hakim Maksumic.Sontak keputusan itu membikin pemerintah Yugoslavia dan keluarga korban dari etnis Serbia bereaksi keras. Mereka menganggap proses hukum di Bosnia tidak obyektif."Ini adalah bukti kalau di Bosnia tidak ada keadilan terhadap kejahatan dilakukan kepada etnis Serbia," kata pemimpin etnis Serbia di Bosnia, Milorad Dodik.Menteri Pertahanan Yugoslavia, Vulin, mengecam keputusan pengadilan membebaskan Oric."Padahal pengadilan bisa membuktikan kalau Oric adalah penjahat, seorang pembunuh. Namun, keputusan pengadilan justru merusak perdamaian, keamanan, kepercayaan, dan proses rekonsiliasi di wilayah Balkan," tulis Vulin dalam pernyataannya.Ketua perkumpulan mantan tawanan perang Serbia, Vinko Lale, menyatakan keputusan pengadilan membebaskan Oric bakal memicu pergolakan politik.Pada 1990-an, Oric merupakan opsir muda polisi dan ditugaskan menjadi ajudan Presiden Slobodan Milosevich. Ketika meletup perang antara etnis Kroasia-Bosnia, Muslim-Bosnia, dan Serbia, Oric pulang ke kampung halamannya di Srebrenica. Di sana dia menggalang pasukan buat melawan serdadu Serbia pada April 1992. Sebab, prajurit Serbia juga membantai delapan ribu lelaki dan anak-anaka etnis muslim Bosnia. Tiga tahun kemudian, dia dan sejumlah pejuang lainnya ditarik buat mengikuti pelatihan militer. Srebrenica lantas dikuasai oleh pasukan Serbia pada 11 Juli 1995.Sedangkan menurut Serbia, mereka mencatat korban tewas dalam pertikaian berdarah di Srebrenica mencapai 2,428 orang, terdiri dari sipil dan militer.Setelah perang berakhir, Oric memilih tiarap. tetapi, pada 2003 dia ditangkap dan dibawa ke Den Haag, Belanda. Tiga tahun kemudian, Oric diadili oleh Mahkamah Kejahatan Perang PBB. Dia dijatuhi hukuman dua tahun penjara dengan alasan tidak melindungi etnis Serbia saat konflik Balkan meletup pada 1992 hingga 1995. Namun, dua tahun setelahnya Oric mengajukan banding dan dibebaskan dari segala dakwaan.Kecewa dengan keputusan itu, Yugoslavia tiga tahun lalu menerbitkan surat penangkapan buat Oric. Tuduhannya yaitu menyerang perkampungan Serbia di Srebrenica dengan tujuan menghabisi seluruh populasi dengan ancaman, penyiksaan, dan pembunuhan.Oric lantas ditangkap di Swiss setahun kemudian, tetapi malah dipulangkan ke Bosnia. Pada 2009 dia ditangkap karena kepemilikan senjata api ilegal, tetapi diampuni oleh presiden. Hingga kini, sosoknya masih disanjung oleh muslim Bosnia sebagai pahlawan, tetapi dianggap penjahat di mata orang Serbia.
Panglima Bosnia diduga bantai etnis Serbia bebas, Yugoslavia murka
Sontak keputusan itu membikin pemerintah Yugoslavia dan keluarga korban dari etnis Serbia bereaksi keras. Mereka menganggap proses hukum di Bosnia tidak obyektif.
Rekomendasi