Serangkaian aksi teror terus terjadi di Inggris. Belum habis duka rakyat Inggris setelah terjadi ledakan bom di Manchester Arena pada 22 Mei lalu usai konser penyanyi Amerika Serikat Ariana Grande yang menewaskan 22 orang dan melukai 50 lainnya, aksi teror kembali terjadi di London.Sebuah mobil van berpenumpang lima orang menyeruduk pejalan kaki di kawasan jembatan London kemarin. Tak hanya itu, tiga dari pelaku teror turun ke jalan dan menikam orang-orang tak berdosa di wilayah itu. Akibatnya, tujuh orang tewas sementara 48 lainnya terluka.Meski polisi telah menembak mati tiga pelaku teror, namun dua pelaku lain hingga kini masih buron.
teror di jembatan london ©2017 REUTERS/Hannah McKay
Aksi teror serupa juga pernah terjadi pada 22 Maret lalu di London, tepatnya dari jembatan Westminster sampai ke Gedung Parlemen Inggris. Seorang pria mengendarai mobil dan membuat kekacauan dengan menyeruduk para pejalan kaki. Kemudian dia turun dari mobilnya dan menikam sejumlah orang. Akibat insiden itu lima orang tewas termasuk anggota polisi dan beberapa lainnya terluka.Sejumlah aksi teror yang terjadi di Negeri Ratu Elizabeth seolah membuat para teroris menganggap Inggris sebagai sasaran empuk bagi mereka untuk melakukan aksi tak manusiawi. Bahkan, menurut badan intelijen setempat, Inggris telah menjadi "surga" bagi para jihadis yang akan melakukan serangan provokasi. Sebagian besar di antaranya malahan merupakan penyerang potensial.Hal ini sedikit banyak membuat publik mempertanyakan tentang kapasitas badan intelijen dan otoritas penegak hukum di sana. Ada kekhawatiran bahwa badan intelijen tidak kompeten dalam mendeteksi akan adanya sebuah serangan ekstremisme.Bahkan ketika seorang teroris dilumpuhkan usai melakukan aksinya, seperti Khalid Masood pelaku teror Gedung Parlemen, tidak ada upaya lain dilakukan pemerintah untuk mengungkap jaringan teror Masood dan pengawasan tertentu agar tidak terjadi serangan serupa.
Meski Perdana Menteri Theresa May menegaskan telah melakukan upaya untuk menekan ancaman terorisme dengan cara mengerahkan petugas kepolisian yang berpatroli selama 24 jam, namun nyatanya aksi teror tetap berlanjut."Kecepatan mereka (para teroris) dalam mengubah strategi merupakan suatu tantangan dan kesulitan tersendiri. Cara terbaik adalah dengan memprioritaskan pengamanan terhadap akar-akar pelaku terorisme," ujar David Anderson, mantan penguji undang-undang anti-terorisme, seperti dilansir dari laman the Australian, Minggu (4/6).Angka terbaru diungkapkan lewat basis data intelijen menunjukkan ada 23.000 jihadis yang kini tengah mengancam Inggris."Angka tersebut mengungkap skala tantangan terorisme di abad ke-21. Tidak ada hal lebih penting dilakukan pemerintah daripada berinvestasi kepada kepolisian yang dipimpin intelijen," ungkap Menteri Keamanan Inggris, Ben Wallace.Sementara itu, kepala bidang keamanan dan studi intelijen dari Universitas Buckingham, Anthony Glees, menilai pembeberan angka teroris yang ada di Inggris adalah hal baik. Sebab, baginya itu bisa dijadikan peringatan bagi pemerintah untuk lebih waspada terhadap serangan lanjutan."Memiliki 23.000 pembunuh potensial di tengah-tengah kita adalah hal mengerikan. Tapi kita bisa menggandakan ukuran MI5, seperti yang kita lakukan pada Perang Dunia II dan memperbanyak jumlah polisi yang dipimpin intelijen jadi ribuan orang. Kita tidak bisa terus melanjutkan hidup seolah (teror) ini tidak pernah terjadi," papar Glees.
Advertisement