Seorang siswa 16 tahun memiliki hubungan tidak baik dengan siswa lainnya. Remaja ini merupakan pelaku penembakan yang melukai tiga orang siswa dan kepala sekolah di sekolah menengah pertama di Grasse, Prancis.
Dari Gedung IMF di Paris, polisi pindah ke sekolah Alexis de Tocqueville di Kota Grasse, dan dengan cepat menangkap pelaku yang masih memegang senjata.
"Sebagian polisi yang berjaga di Gedung IMF, usai bom amplop meledak, pindah ke sekolah di Grasse. Mereka dengan cepat menangkap pelaku penembakan, kebetulan saat itu dia masih memegang senjata," ujar juru bicara Kementerian Dalam Negeri Killian Barbey, seperti dikutip dari Time, Jumat (17/3).
Menteri Pemerintah untuk urusan korban Juliette Meadel mengatakan, ada empat orang yang ditembak, mereka adalah tiga siswa dan seorang kepala sekolah. Tak hanya itu, 10 orang lainnya yang mengalami luka ringan kini sudah mendapatkan perawatan.
Jaksa Grasse menyebutkan beberapa korban mengalami shock secara emosional. Meski demikian, tidak ada cedera yang dianggap mengancam nyawa.
Jaksa Fabienne Atzori menyebutkan pemuda bersenjata senapan, beberapa pistol dan granat kecil ini memasuki ruang kelas dan pergi. Rupanya, dia tidak dapat menemukan orang-orang yang dia cari.
"Motivasi siswa ini muncul terkait dengan hubungan buruk dengan siswa lain di beberapa sekolah. Tampaknya dia kesulitan berbaur dengan mereka," tuturnya.
Saat ini penyelidikan masih berlangsung. Penyidik mencoba cari tahu di mana tersangka mendapat senjata.
Dari hasil penelusuran, akun Facebook tersangka dipenuhi gambar kekerasan atau sesuatu yang berdarah. "Tindakan gila seperti ini, mungkin dilakukan seorang pemuda rapuh yang terpesona dengan senjata api," ujar Menteri Pendidikan Najat Vallaud-Belkacem.
Usai teror bom amplop yang terjadi di kantor Badan Moneter Internasional di Paris, sebuah sekolah menengah pertama di Grasse, Prancis diserang dua pria bersenjata.
Serangan itu membuat pemerintah Prancis mengubah status negara menjadi 'peringatan teror'.