Mengetahui warga negara Indonesia (WNI) kembali disandera di Filipina, Menteri Luar Negeri Indonesia Retno L. P. Marsudi langsung mengerahkan empat perwakilannya di Malaysia dan Filipina untuk bekerja sama dengan otoritas Filipina.
"Setelah terima informasi, Kemlu segera berkoordinasi dengan empat perwakilan RI, yaitu KBRI Kuala Lumpur, Konsulat di Tawau, KBRI Manila, dan Konsulat di Davao, untuk memantau lebih jauh perkembangan kasus ini," ucap Menlu Retno saat ditemui di Kementerian Luar Negeri, Senin (11/7).
Sementara itu, Konsulat Indonesia di Tawau telah mengirimkan staf teknis kepolisian untuk berkoordinasi dengan otoritas setempat dan pemilik kapal.
Pagi ini Menlu Retno telah melakukan komunikasi dengan Menlu Filipina dan Malaysia untuk meminta perhatian mereka menyelesaikan masalah penyanderaan WNI.
"Kejadian seperti ini merupakan kejadian yang sama sekali tidak bisa ditolerir, karena itu upaya serius harus dilakukan segera baik pemerintah Filipina maupun pemerintah Malaysia dan Indonesia siap untuk lakukan kerjasama dalam upaya pembebasan dalam waktu sesegera mungkin," lanjut Menlu Retno.
Menlu Retno menegaskan, keselamatan WNI merupakan prioritas utama bagi pemerintah Indonesia.
Seperti diketahui, Sabtu kemarin (9/7), kapal pukat penangkap ikan LLD 113/5/F berbendera Malaysia diadang lima pria bersenjata yang menggunakan speedboat di perairan Felda Sahabat, Lahad Datu, Malaysia pukul 23.30 waktu setempat. Dari tujuh awak kapal, tiga ABK asal Indonesia disandera, sementara empat lainnya dipulangkan ke Malaysia.
Tiga WNI yang disandera langsung dibawa ke Tawi-Tawi, Filipina Selatan. Para WNI ini sudah dikonfirmasi kepolisian Lahad Datu, memiliki izin yang sah untuk bekerja di Malaysia.