Turki, negara dengan populasi mayoritas muslim di dua benua - sekaligus tempat khilafah Islam terbesar terakhir kali berdiri - belakangan menjadi target serangan teror bom beruntun selama enam bulan terakhir. Sebagian besar aksi pengecut itu didalangi oleh militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dan kelompok pemberontak Partai Pekerja Kurdistan (PKK).
Insiden terbaru adalah penembakan serta peledakan bom bunuh diri di Bandar Udara Internasional Attaturk, di Kota Istambul pada Rabu (29/6) dini hari waktu setempat. Serangan oleh tiga orang teroris yang semuanya meledakkan diri itu menewaskan 41 orang serta melukai 230 lainnya. Termasuk yang tewas adalah 13 warga negara asing sedang transit di bandara tersebut.
Sepanjang Januari-Juni tahun ini, terjadi 11 kali serangan teror menimpa pelbagai wilayah Turki. Bom bunuh diri di Bandara Attaturk menjadi insiden dengan korban jiwa terbanyak.
Apa alasan Turki menjadi sasaran teror beruntun di pelbagai kota?
Analis dari Pusat Kajian Strategi dan Internasional (CSIS) Amerika Serikat, Bulent Aliriza, menyatakan faktor paling dominan dipengaruhi manuver para militan ISIS yang ingin melakukan serangan balik terhadap Turki.
Alasannya Turki membantu Koalisi Barat pimpinan Amerika Serikat menggempur basis-basis para militan khilafah di Suriah sepanjang 2015-2016. Turki mengizinkan penggunaan pangkalan udara Incirlik, sebagai basis jet tempur AS.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dianggap para militan sebagai pengkhianat karena bekerja sama dengan Amerika Serikat selaku kafir terbesar di muka bumi.
"Turki kerap terlibat dalam aksi (penyerangan ISIS) terhitung selama satu tahun dari sekarang, mereka bekerja sama dengan AS dan mencoba menangkal serangan balasan dari ISIS," kata Aliriza, dikutip dari laman USA Today.
Kondisi Bandara Ataturk Turki usai serangan bom bunuh diri (c) Reuters/Osman Orsal
Di luar itu, Turki pun sebetulnya tidak sepenuhnya murni membantu Amerika Serikat. Rezim Erdogan meyakini ISIS hanya bisa dienyahkan apabila Pemerintahan Basyar al-Assad di Suriah turut digulingkan. Pendekatan Turki berbeda dengan kebijakan AS yang masih menoleransi Asaad, serta menyerahkan operasi darat di Suriah pada koalisi Arab Saudi maupun kelompok pemberontak Sunni.
Alhasil, yang terjadi kemudian Turki bermanuver memainkan kelompok-kelompok kecil mengumpulkan faksi Sunni di Suriah. Pergerakan ini menjadi gangguan bagi pasukan khilafah ISIS. Di luar perkiraan, pasukan bersenjata ini membentuk jaringan terbangun rapi di seantero Turki mulai dari Gaziantep hingga Ankara. Sebagian membelot ke ISIS, membuat perbatasan Turki menjadi lokasi transit favorit para calon pejuang ISIS dari pelbagai negara.
Insiden bom bunuh diri di Bandara Internasional Ataturk, Istanbul semakin menegaskan perkiraan bahwa ISIS menggelar operasi besar menyasar kota-kota penting Turki. Amerika Serikat mengakui, dampak keterlibatan rezim Erdogan menyerang ISIS mulai makan korban di kalangan rakyat sipil mereka.
"ISIS sepertinya fokus berkampanye melawan Turki selama setahun terakhir," kata mantan Duta Besar AS untuk Turki James Jeffrey.
Dalam waktu bersamaan, Erdogan melakukan blunder dengan ikut menyerang kantong-kantong logistik kelompok separatis Kurdi PKK sejak Juli 2015. Warga etnis Kurdi di selatan Turki selama tiga dekade ini selalu menuntut kemerdekaan.
Rupanya, pasukan Kurdi ini dilatih oleh CIA untuk membantu menahan pergerakan ISIS di Aleppo, Suriah. Rezim Erdogan khawatir di masa mendatang, dukungan dari AS pada PKK akan menjadi modal mereka memisahkan diri, serta membentuk wilayah otonomi khusus Kurdi yang terpisah dari pengaruh Ankara.
Alhasil, pengamat intelijen Robert Baer menyatakan kondisi Turki menjadi tidak aman di nyaris semua perbatasannya. Erdogan tanpa sadar
Advertisement
membuka terlalu banyak front pertempuran dalam satu waktu.
"Semua rangkaian teror di Turki, selain oleh ISIS, juga dipicu kebijakan perang skala besar terhadap etnis Kurdi," kata Baer.
Ratusan orang terbunuh dalam rangkaian serangan teror bom di Turki. Tercatat ada 11 teror besar, dengan delapan di antaranya diklaim mengarah pada warga sipil, seperti dilansir dari laman International Business Times.
Pada 12 Januari, distrik bersejarah Sultanahmet di Istanbul diguncang bom bunuh diri, 13 orang terbunuh dan semuanya adalah warga asing. Berselang satu bulan, 17 Februari, 30 orang dinyatakan tewas di Ankara usai insiden serupa terjadi, namun kali ini pelaku diketahui berasal dari faksi Kurdistan, Kelompok Elang Merdeka Kurdistan (TAK).
Tidak butuh waktu lama bagi Turki menuai serangan serupa, tepat hampir satu bulan, 13 Maret kelompok TAK melanjutkan serangan di ibu kota Ankara, 37 orang meninggal dunia lewat serangan bom mobil. Masih dalam bulan yang sama, 19 Maret, kali ini kelompok ISIS yang melakukan teror di distrik Beyoglu, dekat kantor pemerintahan. Empat korban tewas semuanya adalah warga asing, yakni dari Iran, Israel, serta dua orang keturunan Israel-Amerika.
Serangan bom mobil di Ibu Kota Ankara (c) REUTERS/Osman Orsal
Gelombang teror sempat mereda selama April. Tetapi hanya berselang sebulan, aksi peledakan bom bunuh diri kembali terjadi pada 12 Mei di Durumlu Hamlet. Korbannya adalah warga 16 warga desa setempat. Kelompok sayap Kurdistan bernama Pasukan Tentara Bersenjata (HPG) mengaku bertanggung jawab. Satu bulan berikutnya, 7 Juni, TAK yang melakukan serangan pada Maret lalu kembali menghantam Istanbul, 12 orang tewas dengan 51 korban luka.
Teror ini menargetkan sebuah bus yang membawa anggota polisi saat melintas distrik Vezneciler. Terakhir, hanya perlu jeda satu hari, saat sebuah bom mobil meledak di di kota Midyat pada 8 juni. Lia orang tewas, dua orang polisi dan tiga sipil. Belum ada pihak bertanggung jawab.
Terakhir adalah bom bunuh diri pada 28 Juni di bandara Ataturk. Belum ada kelompok mengaku bertanggung jawab. Namun Perdana Menteri Turki menuding ISIS sebagai dalangnya.
Saksi mata yang melihat insiden ini menggambarkan serangan tersebut sangat mematikan. Tiga pelaku turun dari taksi, masuk ke area keberangkatan, langsung menembaki semua orang. Pengunjung bandara berlarian karena panik dalam keramaian. Dua pelaku meledakkan diri, sedangkan satu lagi ditembak oleh polisi, sebelum kemudian ikut meledakkan bom di tubuhnya. Kejadian ini berlangsung sekitar pukul 22.00 waktu setempat atau pukul 02.00 WIB.