Saya melihatnya dari jauh. Rambutnya sudah memutih. Kulitnya keriput. Wajahnya tua. Dari sosoknya, orang bisa menaksir, dia sudah uzur, mungkin umurnya kira-kira di atas 60 tahun.
Lelaki Arab berpakaian seragam kaus biru dan celana biru itu mengangkat tangannya sambil mengacungkan telunjuk menyapa para penumpang yang baru mendarat saat mengambil bagasi di bandara Internasional Rafiq Hariri, Beirut, Libanon.
Dia tidak sendirian. Teman-temannya yang berseragam sama dan sudah tidak muda lagi terlihat bergerombol berdiri di jalan keluar bandara sambil menawarkan jasa angkut barang. Tua-tua keladi barangkali. Para kuli angkut bandara itu terlihat masih bersemangat menawarkan jasa mereka.
Dari tempat saya berdiri menunggu giliran paspor diperiksa di loket imigrasi, wajahnya sesekali terlihat kecewa ketika tawarannya tidak menarik minat para penumpang.
Tak ada hambatan selama pemeriksaan paspor oleh imigrasi. Staf KBRI Beirut sudah menghampiri kami di depan loket itu seraya memperkenalkan diri. Selepas mengambil barang bawaan dari bagasi pesawat, kami berjalan keluar meninggalkan para kuli angkut tua itu untuk menentukan nasibnya sendiri.
Tiga petugas KBRI Damaskus menjemput kami di pintu keluar bandara. Sesuai rencana sebelumnya, merekalah yang akan membawa kami menuju ibu kota negeri para pengungsi: Damaskus, Suriah. Sudah lewat beberapa menit dari pukul 11 siang di Beirut.
Beberapa sopir taksi menawarkan jasanya. Taksi-taksi di bandara ini terlihat rombeng, tak ada yang bagus. Usai menaruh barang dan berpamitan dengan petugas KBRI Beirut kami masuk ke dalam mobil kedutaan buatan Korea. Perjalanan darat menuju Damaskus dimulai dari sini.
Perbatasan Judaidah Yabuz (c) 2016 Merdeka.com/Pandasurya
Setelah keluar dari bandara, mobil kami melewati sebagian kawasan kota di Beirut. Di beberapa jalan yang agak sempit ada juga kemacetan. Sebuah mobil sedan butut di depan kami tiba-tiba berhenti. Dia menaikkan seorang penumpang perempuan tanpa menepi dulu.
Mungkin dia mobil taksi. Tak lama kemudian setelah melalui beberapa belokan dan persimpangan dia berhenti lagi, lebih mendadak dari sebelumnya. Seorang penumpang perempuan lain naik lagi. Rupanya memang begitu taksi di Beirut. Kata pejabat KBRI, sopir taksi di sini bisa menaikkan penumpang lebih dari satu.
Di jalanan, mobil-mobil buatan Jepang, Korea, terlihat lebih banyak dibanding mobil Eropa. Ada yang masih mulus, tapi tidak sedikit yang sudah butut.
Perjalanan menuju keluar Beirut cukup lancar. Mobil bisa dikebut dengan kecepatan di atas 60 kilometer per jam. Kota ini topografinya berbukit-bukit. Jalanan besar tidak terlalu lebar. Dari kejauhan terlihat rumah-rumah penduduk berdiri bertumpuk-tumpuk di atas bukit yang berwarna tanah cokelat muda. Hari cerah. Langit biru. Udara tetap sejuk dan pemandangan kanan-kiri sedikit hijau dan sepi.
Di perjalanan kami melewati Lembah Bekaa, daerah yang jadi perebutan Israel dan Libanon karena dikenal cukup subur. Dari kejauhan tidak terlihat, tapi di lembah hijau ini katanya ada kebun anggur.
Pejabat KBRI bercerita, Libanon saat ini sedang krisis sampah. Saking banyaknya sampah penduduk, tapi negara kecil, maka sampah-sampah itu dibuang di pinggir jalan begitu saja di antara perbatasan Libanon-Suriah.
Setelah santap siang di sebuah kedai di Kota Stura, dekat perbatasan terluar dari Libanon, kami tiba di pos pemeriksaan imigrasi. Tempat ini namanya pos pemeriksaan kampung Masnaa.
Waktu hampir mendekati pukul 14.00. Beberapa mobil harus parkir di sekitar bangunan pos pemeriksaan paspor setelah mengantre diperiksa tentara. Sejumlah tentara Libanon menenteng bedil, berjaga di sekitar lokasi itu. Pejabat KBRI mengatakan kami tak boleh mengambil gambar di sekitar tempat ini karena sensitif. Tapi nadi kami wartawan. Tak ada gambar, tak ada reportase.
Perbatasan Judaidah Yabuz (c) 2016 Merdeka.com/Pandasurya
Setelah mengumpulkan paspor dan surat keterangan, dua pejabat KBRI masuk ke bangunan itu. Mereka yang akan mengurus semuanya.
Begitu kami turun dari mobil, beberapa perempuan berjilbab panjang hitam, kumuh, mendekati kami dengan wajah memelas sambil mengatakan sesuatu. Tangan mereka memberi isyarat minta makan. Mereka pengemis. Kata staf KBRI, mereka adalah pengemis Suriah. Anak-anak seumuran sekolah dasar juga mengemis di sini. Para pengemis itu dibiarkan oleh tentara. Kami sibuk curi-curi mengambil gambar.
Di dalam bangunan pos itu ada lima loket pemeriksaan paspor. Warga dari mulai anak-anak, orang dewasa dan tua, laki-laki, perempuan, mengantre menunggu giliran. Saban hari bisa ribuan orang ingin melewati perbatasan dengan keperluan masing-masing. Pos pemeriksaan ini beroperasi 24 jam.
"Sir, no picture," kata seorang tentara bertopi mendekati saya. Wajahnya terlihat serius meski tidak garang. Apa boleh buat, saya dan rekan wartawan menghentikan mengambil gambar suasana di dalam pos pemeriksaan.
Setelah sekitar 20 menit urusan beres. Kami melanjutkan perjalanan. Selepas pos pemeriksaan, daerah yang kami lalui adalah demilitary zone atau kawasan bebas militer. Panjangnya sekitar lima kilometer. Menurut aturan internasional, di kawasan ini tidak boleh ada pertempuran. Kanan-kiri pemandangan masih sepi hanya pepohonan jarang-jarang dan perbukitan berwarna kapur.
Selang beberapa menit, kami sudah sampai lagi di pos pemeriksaan paspor. Kali ini sudah masuk wilayah Suriah. Tempat ini namanya Judaidah Yabuz, kawasan di pinggiran Damaskus.
Mobil-mobil mengantre diperiksa dan digeledah oleh tentara sampai kap mesin dan bagasi dibuka. Sama seperti sebelumnya, kami juga dilarang mengambil gambar di kawasan ini.
Saat hendak turun tiba-tiba kaca jendela mobil diketuk seorang bocah perempuan berambut panjang kusam, kurus. Wajahnya memelas, pakaiannya kumal. Dia menengadahkan tangannya, tentu bukan mau berdoa, tapi meminta uang. Di sini juga banyak pengemis.
Di tengah jalan di kejauhan terlihat semacam gapura pintu masuk Suriah dan bendera negara. Dua foto Presiden Suriah Basyar al-Assad terpampang di dinding atas bangunan pos tentara di seberang kantor pemeriksaan paspor. Saya membidikkan kamera ke sana.
"Awas jangan sampai kelihatan tentara di dalamnya, nanti dia nyamperin kita," kata pejabat KBRI memperingatkan.
Dua staf KBRI yang mengurus paspor kami sudah kembali. Semua aman, perjalanan boleh lanjut.
Beberapa menit lagi kami sampai di Damaskus.
*Bersambung
Advertisement