Jenazah Tazwin Hanif, diplomat senior Kementerian Luar Negeri yang wafat pada 25 Desember 2015 dalam insiden kebakaran di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Ibu Kota Roma akhir tahun lalu, tiba di Kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Senin (4/1).
Jenazah tiba di Gedung Pancasila sekitar pukul 13.30 WIB untuk penghormatan terakhir, sebelum disemayamkan di TPU Karet Bivak Jakarta. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dalam ucapan belasungkawanya mengaku sangat kehilangan. "Rasa kehilangan muncul karena Tazswin adalah rekan diplomat yang baik," ujar Menlu sambil tersedu.
Menlu Retno juga bercerita sempat satu atap dengan mendiang Tazwin di Den Haag. "Saya adalah salah satu rekan kerja sama almarhum saat di Den Haag dulu," tutur lirih Menlu Retno sembari menatap wajah istri dan anak-anak almarhum.
Sepanjang karirnya, Tazwin adalah diplomat yang ahli dalam isu perubahan iklim, dan disebut seorang juru runding yang baik.
Atas berkat sumbangsihnya untuk negara, Menlu Retno mengapresiasi jasa almarhum dengan menaikkan jabatannya.
"Sebagai apresiasi jasa dan pengabdian, maka Kemlu telah meningkatkan dari jabatan almarhum dalam karirnya dari Minister Counsellor menjadi Minister (setingkat di bawah Duta Besar)," kata Retno.
Tazwin Hanif wafat dalam usia 48 tahun, meninggalkan satu orang istri dan tiga orang anak.