Peristiwa penembakan reporter televisi Alison Parker dan juru kamera Adam Ward di Negara Bagian Virginia, Amerika Serikat, pekan ini membuat publik Negeri Paman Sam kembali terhenyak. Sudah sedemikian panjang daftar kasus penembakan yang menewaskan banyak warga selama ini.Diskusi mengenai aturan kepemilikan senjata kini mencuat kembali. Pasalnya di Amerika, warga sipil bisa dengan mudah memperoleh senjata api dan menggunakannya sesuka hati.Tak kurang Presiden Obama kembali menyoroti undang-undang kepemilikan senjata api ini dengan membandingkan kondisi di negara maju lainnya."Pada suatu titik, negara kita harus mengakui bahwa penembakan massal (yang sering terjadi di Amerika) tidak terjadi di negara maju lainnya. Di negara lain tidak terjadi sebanyak di Amerika. Kini tanggung jawab kita untuk berbuat sesuatu," kata dia, seperti dilansir stasiun televisi CNN, Kamis (27/8). Sejauh ini Amerika belum berbuat sesuatu.Asosiasi Senapan Nasional (NRA) memiliki pengaruh kuat di parlemen untuk selalu menggagalkan upaya pelarangan senjata api bagi warga sipil. Kelompok ini merupakan pendukung utama hak-hak pemilik senjata api. Mereka bahkan menentang hampir semua proposal Gedung Putih tentang pengetatan kepemilikan senjata api. Amerika Serikat kini memiliki 270 juta senjata api di tangan sipil dari sekitar 340 juta warganya. Berdasarkan data statistik surat kabar the New York Times, lebih 29 ribu warga tewas tiap tahun karena kekerasan senjata api, dan 2.825 anak-anak meninggal karena sebab yang sama.Organisasi Brady Campaign menunjukkan penembakan massal di Amerika, dengan korban tewas lebih dari satu selama tujuh tahun terakhir terjadi sebanyak 431 kali. Statistik menunjukkan dalam rata-rata 5,9 hari di Negeri Paman Sam ini muncul korban tewas akibat insiden senjata api yang terjadi di ruang publik.
Berapa banyak warga Amerika tewas akibat senjata api dalam satu hari?
Advertisement
Berdasarkan data kelompok antisenjata api ini, setiap hari ada 87 warga Amerika tewas karena luka akibat peluru. Bahkan rata-rata lima penembakan massal terjadi di setiap kota negara itu.Kelompok Brady mencatat kota paling brutal soal senjata api adalah Chicago, tempat Presiden Barack Hussein Obama bermukim saat masih menjabat senator. Di kota itu 17 penembakan massal terjadi tujuh tahun ini, menewaskan 30 orang dan menyebabkan 72 cedera. Apakah dengan mengurangi kepemilikan senjata api akan mengurangi terjadinya kasus penembakan? Sejumlah negara maju mengatakan ya.Di Jerman, untuk membeli senjata api, warga berusia di bawah usia 25 tahun harus lolos uji psikiater.Di Finlandia, warga yang ingin punya senjata api harus menunjukkan bukti dia anggota aktif klub menembak yang berizin. Sebelum mendapat senjata mereka juga harus menjalani serangkaian tes, termasuk diwawancara oleh polisi.Di Italia, orang yang ingin punya senjata harus menyertakan catatan kriminal dan kesehatan lengkap.DI Prancis, orang yang ingin punya senjata harus tidak punya catatan kriminal serta menyertakan laporan kesehatan fisik dan mental.Di Inggris dan Jepang, warga sipil tidak diperbolehkan punya senjata api.Dengan gambaran itu bandingkan kondisi di Amerika. Di Negeri Paman Sam, toko senjata di beberapa negara bagian, termasuk Colorado, tidak meminta pembeli senjata api mengisi formulir dan mengurus registrasi. Kebijakan ini disebut 'tidak tanya, bayar dan bawa pulang'.Bahkan di Detroit, sebuah bank memberi hadiah langsung senapan dan peluru setelah seseorang membuka rekening. Beberapa daerah juga tidak menerapkan batasan umur. Anak usia 12 tahun pun bisa saja membeli pistol tanpa harus menyertakan izin orang tua.Mudahnya warga membeli senjata api, didukung murahnya harga benda itu. Berbekal uang Rp 1,4 juta, anda bisa mendapatkan pistol kaliber 22 di Amerika. Di Indonesia sebagai perbandingan, senjata dengan spesifikasi sama berharga lebih dari Rp 20 juta. Soal peluru jangan ditanya. Waralaba supermarket seperti Wal-Mart pinggir jalan pun menjual eceran peluru tajam dengan harga grosir, rata-rata per biji tidak sampai Rp 50 ribu.Warga Amerika tampaknya masih jauh dari rasa aman akibat maraknya senjata api.