Konsulat Jenderal Republik Indonesia di Sydney kembali menjadi korban vandalisme. Sekelompok orang tak dikenal dua hari lalu menyebarkan cairan merah mirip darah secara sporadis ke bangunan gedung.
Menanggapi insiden ini, Duta Besar Australia untuk Indonesia, Paul Grigson, mengatakan akan melakukan investigasi penuh. Apalagi KJRI Sydney beberapa kali sudah diserang, misalnya lemparan balon darah dua bulan lalu sebelum Kejaksaan RI hendak mengeksekusi Duo Bali Nine.
Grigson optimis kejadian ini tidak akan mengendurkan hubungan baik yang sedang kembali dibina kedua negara.
"Kita akan menginvestigasi penuh terkait insiden ini, karena saya pikir Australi dan Indonesia saling menghormati satu dan lainnya dengan mempunyai hubungan personal yang baik," ujarnya seusai membuka pameran foto Perjuangan Kemerdekaan Indonesia di Grand Indonesia, Jakarta, Selasa (18/8).
Dari rekaman CCTV, gerak-gerik dua orang pelaku dapat terlihat. Namun identitas mereka sulit diketahui karena memakai penutup muka.
Walau menganggap ringan dampak politik insiden kesekian kalinya di KJRI itu, Dubes Grigson tetap menyesalkan adanya orang yang menyasar obyek diplomatik negara mitra Australia.
"Seharusnya kejadian seperti ini tidak terjadi lagi kedepannya, maka dari itu kita akan terus menginvestigasi. Namun pastinya hal tersebut tidak menjadi membuat (hubungan) kedua negara retak kembali," tandasnya.
Hingga kini belum diketahui apa motif pasti dari vandalisme tersebut. Namun, pada hari yang sama dengan kejadian tersebut, yakni 15 Agustus, terjadi demo global Papua Barat Merdeka diberbagai kota di dunia.
"Canberra, Perth, Sydney, Melbourne, dan Darwin, juga turut berdemo," kata Konsul Jenderal RI di Sydney, Yayan GH Mulyana.