Warga Jalur Gaza tidak memiliki banyak pilihan bila ingin ke luar negeri. Seandainya ingin melintas secara resmi tanpa direcoki militer Israel, maka mereka hanya bisa mengandalkan pintu Rafah, perbatasan Mesir. Times of India melaporkan, Selasa (18/5), pintu Rafah dibuka kembali mulai kemarin setelah nyaris tiga bulan ditutup rapat oleh imigrasi Negeri Piramida.
Dilaporkan, 20 ribu warga Gaza sudah mengantre visa sejak berbulan-bulan lalu. Rata-rata yang mendapat prioritas izin memasuki Mesir adalah warga yang hendak berobat. Sebagian lagi adalah pelajar. Sebaliknya, warga Palestina di Mesir yang ingin kembali ke kampung halaman juga melintas selama gerbang dibuka.
"Kami akan membuka gerbang Rafah selama empat hari," kata Kepala Imigrasi Rafah, Khaled al-Shaer.
Mesir jauh-jauh hari sudah mengumumkan hanya membuka Gerbang Rafah selama 15 hari sepanjang 2015. Pembukannya sangat acak, tidak terjadwal secara khusus.
Kalau tak sabar ingin menyeberang ke Mesir, satu-satunya cara bagi warga Gaza adalah melalui terowongan bawah tanah yang ilegal. Ongkosnya rata-rata lebih dari Rp 1 juta sekali jalan. Risiko sangat besar, karena Mesir maupun Israel seringkali membombardir terowongan ini, dengan tuduhan upaya penyelundupan senjata.
Rafah adalah satu-satunya pintu penduduk Gaza ke dunia luar tanpa harus berurusan dengan tentara Zionis. Namun Mesir memblokade Rafah secara ketat, serta menerapkan sistem buka tutup gerbang, setelah Hamas berkuasa di Gaza pada 2007.
Kondisi sempat lebih longgar ketika Presiden Muhammad Mursi menguasai Negeri Piramida. Sayangnya, politikus Ikhwanul Muslimin yang dekat dengan Hamas itu lantas dikudeta militer pimpinan Abdul Fatah al-Sisi. Kebijakan al-Sisi menormalisasi isolasi Gaza lewat sistem buka tutup gerbang Rafah.