Merasa tak bersalah, Rusia siap blak-blakan seputar tragedi MH17

Wadubes mengklaim bisa menjelaskan teori pesawat Malaysia itu ditembak jatuh misil BUK buatan Rusia

Muhammad Radityo
Oleh Muhammad Radityo - Reporter
Merasa tak bersalah, Rusia siap blak-blakan seputar tragedi MH17
Malaysia Airlines jatuh di Ukraina. ©AFP PHOTO/DOMINIQUE FAGET

Rusia menggunakan hak vetonya dalam Sidang Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Rabu (29/7). Veto itu menganulir resolusi beberapa negara menggelar pengadilan internasional terkait tragedi jatuhnya Pesawat Malaysia Airlines MH17 tahun lalu.

Wakil Duta Besar Rusia Alexander Shilin memaparkan membentuk pengadilan lalu mencari pelaku bukan solusi terbaik membongkar penyebab jatuhnya pesawat maskapai Malaysia itu.

Negeri Beruang Merah menandaskan siap menjelaskan status peluru kendali BUK buatan negaranya yang disebut-sebut menghantam pesawat itu sebelum jatuh berkeping-keping di perbatasan Ukraina.

"Bisa dimulai dengan informasi investigasi dari kedua pihak, Rusia dan Ukraina. Bahkan jika disebut misil BUK produksi Rusia yang menembak jatuh pesawat itu, kami siap memaparkan seluruh data misil yang sudah lama kami tidak gunakan itu," tutur Alexander di kantornya, Jakarta, Senin (3/8).

Selain itu, Rusia menuding resolusi ini terlalu politis. Setahun pasca tragedi barulah adanya kembali beberapa negara mendesak pengusutan siapa yang seharusnya bertanggung jawab.

Wadubes Rusia berkilah Rusia bahkan sejak beberapa hari usai insiden jatuhnya MH17 sudah berusaha mencari penyebab kecelakaan.

"Namun tentara Ukraina menahan gerakan ini, mereka mencegah kami masuk selama berhari-hari hingga berbulan-bulan," lanjutnya.

Ketika disinggung apakah Ukraina yang sebenarnya menjadi dalang dibalik MH17 itu sendiri, Wadubes Alexendar tidak ingin berspekulasi apapun.

"Kami (Rusia) tidak menyalahkan siapapun, karena memang tidak tahu ini ulah siapa, yang bisa kami lakukan hanyalah memberikan informasi," pungkasnya.

Diketahui dalam penarikan suara terkait pengusutan MH17, Rabu (29/7) lalu, dari 15 negara anggota dewan keamanan PBB, 11 di antaranya mendukung dibentuknya pengadilan tersebut.

Resolusi ini didorong oleh Malaysia, Australia, dan Belanda. Adapun China, Venezuela dan Angola bersikap abstain. Wacana pembentukan pengadilan ini semakin pupus setelah Rusia memakai hak vetonya.

Rusia menduga ada intrik politik, di balik pembentukan pengadilan MH17 tersebut. Koalisi Ukraina bersama Australia, Belgia, Malaysia, dan Belanda dinilai hendak memojokkan Rusia. Diketahui, pesawat itu jatuh akibat tembakan rudal. Pelakunya kemungkinan besar separatis Ukraina pro-Rusia yang mendapat pasokan senjata dari Negeri beruang Merah.

MH17 jatuh di Ukraina dalam penerbangan Amsterdam menuju Kuala Lumpur. Seabnyak 298 penumpang dan kru tewas seketika. Sebanyak 12 orang Warga Negara Indonesia turut menjadi korban jatuhnya pesawat maskapai pelat merah Malaysia tersebut.

Rekomendasi