Dokumen Komisi Uni Eropa menyatakan muncul kajian mendepak Yunani dari zona mata uang Euro, bila terus mengalami krisis utang luar negeri. Situasi semakin runyam buat Yunani, setelah pertemuan Sabtu (11/7) dibatalkan sepihak oleh pihak kreditur.
Tiga lembaga donor yang kerap disebut Troika - Dana Moneter Internasional (IMF), Komisi Uni Eropa, serta Bank Sentral Eropa - menunda pertemuan dengan wakil Yunani hingga sore hari ini, Minggu (12/7).
"Negosiasi (dengan Yunani) berjalan sangat alot, tapi sudah mulai ada perkembangan yang menunjukkan mereka mau berdialog dengan kami," kata Ketua Komisi Uni Eropa Jeroen Dijsselbloem seperti dilansir Stasiun Televisi Aljazeera.
Secara tidak langsung, para pemberi utang mengakui berupaya memojokkan delegasi pemerintah Yunani. Negosiasi nanti sore di Kota Brussels, Belgia, digelar hanya beberapa jam sebelum pertemuan 28 pemimpin negara Uni Eropa yang membahas masa depan aliansi Benua Biru tersebut.
Menteri Ekonomi Finlandia, Alexander Stubb, secara terbuka tidak mau lagi memberi utang, lewat Uni Eropa, kepada Yunani.
Tekanan makin jelas bagi Yunani, ketika sumber petinggi Uni Eropa membocorkan peta jalan yang dibahas Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Prancis Francois Hollande. Orang-orang berpengaruh di Eropa itu mengatakan skenario memaksa Yunani enyah dari Zona Euro harus dibuat bila krisis terus terjadi, maksimal pada 2020.
Prancis dan Spanyol mendukung agar Yunani tetap ditolong. Tapi perwakilan Jerman, Slovenia, belgia, atau Finlandia mendesak negara lain memusuhi Yunani karena berani mengemplang pembayaran pinjaman luar negerinya sebelum referendum pekan lalu.
Troika sampai beberapa jam lalu, tidak puas melihat usulan terbaru reformasi keuangan Yunani yang disampaikan Perdana Menteri Alexis Tsipras.
Bila memang pemerintahan sosialis di Yunani ingin utangnya dikurangi atau ditunda pembayarannya, IMF atau Bank Sentral Eropa berharap belanja negara dikurangi drastis. Angka-angka dari Tsipras dalam rencana kenaikan pajak penjualan ritel maupun pengurangan dana pensiun dianggap belum akan menyehatkan kas negara Negeri Dewa-Dewi itu.
Negosiasi ini adalah paket dana talangan ketiga yang sedianya akan diberikan Troika kepada Yunani. Nilainya mencapai 84 miliar Euro. Selama lima tahun terakhir, setelah pertama kali bangkrut, Yunani telah mendapat pinjaman 240 miliar Euro.
Bila tak mendapat suntikan dana ini, perbankan Yunani langsung ambruk setelah tak punya lagi simpananuang tunai pecahan Euro. Yunani berisiko kembali memakai mata uang lama, Drachma, yang nilai tukarnya buruk.
Potensi menularnya krisis ekonomi akibat kurs itu, ditakutkan menjadi kanker bagi ketahanan anggaran Eropa. Terutama negara-negara tetangga Yunani yang punya utang luar negeri tak kalah besar seperti Italia atau Portugal.