Situasi di Yaman semakin memanas lantaran pemberontak Syiah makin beringas. Kondisi itu terjadi karena perebutan kekuasaan antara pemberontak dengan pemerintah.
Yaman tidak pernah beroleh kestabilan sejak Presiden Ali Abdullah Saleh mengundurkan diri awal 2012 setelah pemberontakan yang berlangsung selama setahun. Selain itu, negara dengan Ibu Kota Sanaa ini juga terus menghadapi pemberontakan Al Qaidah dan menghadapi gerakan separatis di sebelah selatan Yaman.
Pada pertengahan bulan Januari lalu, pasukan pemberontak Syiah berhasil menguasai Istana Presiden di Sanaa. Mereka, dipimpin Abdul Malik al-Houthi, menuntut pemerintah bersedia melakukan reformasi.
Presiden Abdurabuh Mansyur Hadi hingga disembunyikan di lokasi rahasia agar tidak terluka akibat pemberontakan tersebut. Rupanya dia tidak disembunyikan melainkan ditawan oleh para pemberontak.
Usai menyandera presiden, mereka sempat mencapai kesepakatan dengan pemimpin negara itu. Dari kesepakatan itu disebutkan masing-masing pihak bersedia mengakhiri kekerasan di negara itu.
Poin penting dari perjanjian tersebut merupakan reformasi konstitusi, di mana perwakilan pemberontak, yakni Abdul Malik berhak ikut mengendalikan pemerintahan di salah satu negara paling miskin di Timur Tengah ini.
Dalam kesepakatan tersebut tidak tegas siapa sebenarnya yang benar-benar mengontrol negara dan seberapa besar kekuatan yang dimiliki Hadi, sekutu kunci AS dalam memerangi Al Qaidah di Yaman. Kemungkinan kudeta yang terjadi lagi saat ini lantaran ketidaktegasan itu.
Advertisement
Situasi yang semakin memanas ini membuat beberapa negara menutup kedutaan besarnya di Sanaa. Ketiga negara itu antara lain Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis per hari ini (11/2).
Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat mengatakan mereka menutup kedutaan besarnya di Yaman tanpa batas waktu tertentu dan mengevakuasi staf serta keluarga mereka lantaran kondisi keamanan yang semakin memburuk.
"Karena situasi keamanan di Sanaa, maka pada 11 Februari 2015, negara menghentikan operasi kedutaan dan staf kedutaan untuk dipindahkan ke luar negeri," tulis pernyataan Kementerian.
Dilansir dari Times of India, Rabu (11/2), mereka mengatakan semua layanan konsuler telah ditutup hingga ada pemberhentian lebih lanjut. Hal serupa diungkapkan oleh Kedutaan Besar Inggris dan Prancis.
Sekretaris Kabinet Inggris untuk Timur Tengah, Tobias Ellwood juga mengatakan dirinya mendesak warga Inggris di sana untuk segera meninggalkan Yaman.
Sedangkan Kedutaan Besar Prancis menyatakan akan menutup kantor mereka di Sanaa pada Jumat mendatang. Sama dengan kedutaan Inggris, mereka meminta warganya yang tinggal di Yaman untuk segera meninggalkan negara tersebut.
Jika masih terus memanas seperti ini, diperkirakan beberapa negara lainnya juga akan ikut menutup kantor Kedutaan Besar mereka yang berada di Yaman.