Kartun the Simpson 1997 sudah ramal kedatangan virus Ebola

Virus Ebola ditemukan pertama kali pada 1976 setelah mewabah di Sudan dan Zaire.

Pandasurya Wijaya
Oleh Pandasurya Wijaya - Reporter
Kartun the Simpson 1997 sudah ramal kedatangan virus Ebola
Serial the Simpsons 1997 prediksi kedatangan virus Ebola. ©Fox

Serial kartun terkenal dekade 1990-an dari Hollywood, Amerika Serikat, The Simpsons, dikabarkan telah memprediksi kedatangan virus Ebola yang kini tengah mengganas di Afrika Barat dan menyebar ke sejumlah negara Eropa, seperti Inggris, Spanyol, bahkan ke Amerika.Para penggemar teori konspirasi di Internet percaya serial kartun The Simpsons pada episode berjudul Saksofon Lisa ditayangkan pertama pada 1997, memperlihatkan kedatangan virus Ebola, seperti dilansir surat kabar the Daily Mail, Jumat (10/10).Dalam episode itu Marge, tokoh ibu di keluarga The Simpsons, menyarankan anaknya, Bart, membaca sebuah buku berjudul 'George si Serba Ingin Tahu dan Virus Ebola'.Di sampul depan buku itu terdapat gambar seekor monyet sedang terbaring sakit di sebuah tempat tidur. Monyet selama ini diduga menjadi perantara pembawa virus Ebola yang kini sudah menewaskan watu warga Amerika Eric Thomas Duncan.Klip cuplikan video episode The Simpsons itu muncul di sebuah kanal situs berbagi video YoTube, Controversy7."Apakah ini murni kebetulan The Simpsons memprediksi kejadian-kejadian di masa depan?" kata Emmanuel Lokonga, tuan rumah situs itu.Sejumlah pengguna media sosial mengomentari kemungkinan benarnya teori itu. Virus Ebola pertama kali ditemukan pada 1976 setelah mewabah di Sudan dan Zaire. Pada 1990-an penyakit itu juga merajalela di gabon pada 1994, lalu Zaire pada 1995.Bisa dikatakan episode The Simpsons itu menggambarkan mewabahnya virus Ebola yang terjadi tiga tahun setelah episode itu tayang.Pada 2000 hingga 2004, 500 orang tewas akibat Ebola di Uganda, Gabon, dan Republik Kongo, serta Sudan.Mengganasnya Ebola belakangan ini yang terjadi sejak Desember tahun lalu, menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO sudah merenggut 3.800 nyawa di Guinea, Liberia, dan Sierra Leone.

Rekomendasi