Nyawa seharga invasi Amerika

Mereka dijadikan tumbal sebab serangan Negeri Adidaya itu pada ISIS.

Ardini Maharani
Oleh Ardini Maharani - Reporter
Nyawa seharga invasi Amerika
ISIS gorok jurnalis2. ©2014 Merdeka.com

Negara Islam untuk Irak dan Syam (ISIS) tidak habis menjadi bahan pemberitaan yang mencela serta mencoreng umat muslim sejagat lantaran kelakuannya jauh dari perintah Tuhan. Tak puas memenggal seorang jurnalis dan mengunggah videonya di jejaring sosial Twitter, mereka kembali menggegerkan dunia dengan menggorok satu wartawan lagi.

Apa sebenarnya yang diinginkan ISIS? Tak banyak orang paham. Mereka nampaknya memang hanya sekumpulan orang yang ingin eksis dan diakui meski ditempuh dengan cara-cara tak manusiawi. Mereka juga hanya sekelompok manusia yang ingin tampil di pelbagai media dengan berulah bukan main konyolnya.

Pertengahan Agustus ISIS mengunggah rekaman pemenggalan seorang juru foto Amerika Serikat, bekerja untuk harian GlobalPost. James Wright Foley mungkin bukan satu-satunya korban wartawan oleh ISIS namun kematiannya sungguh mengerikan. Dia digorok pelan-pelan dengan belati kecil yang lebih pas untuk memotong sayuran ketimbang memutuskan leher manusia, seperti dilansir surat kabar the Daily Mail (20/8).

Video penggorokan itu bertujuan membalas serangan Amerika pada ISIS dua pekan sebelumnya. Foley diyakini telah menjadi tawanan sejak 2012 saat bergolak perang sipil di Suriah bagian utara, tempat kini dikuasai ISIS.

Amerika sebenarnya sudah berusaha membebaskan Foley namun gagal. Inilah yang disesalkan oleh korban. Dia juga mengutuk pemboman Amerika pada ISIS lantaran itu dirinya jadi korban. "Saya menyesal menjadi seorang Amerika," ujar Foley.

Usaha Presiden Barack Hussein Obama dinilai setengah hati demi membebaskan warga mereka dari tawanan ISIS. Tak sedikitpun ada rencana bernegosiasi dengan pimpinan ISIS Abu Bakar al-Baghdadi demi menyelamatkan nyawa mereka yang tersisa.

Sungguh ironis memang menjadi warga negara Amerika dan Inggris. Pemerintahnya sama sekali enggan berbicara dengan ISIS dan menegosiasikan apa pun padahal warga negara lain dibebaskan sebab ada pembicaraan dengan ISIS.

Tak putus dirundung malang, Amerika dipusingkan dengan perang Jalur Gaza-Israel serta ketegangan mereka dengan Rusia sebab konflik bersama Ukraina bisa jadi sedikit lupa pada warga mereka di bawah penyiksaan ISIS. Kemarin satu wartawan lagi menjadi korban. Steven Joel Sotloff, jurnalis lepas Amerika juga tewas terpenggal. Senada dengan Foley, Sotloff juga mengatakan dia dan rekan-rekannya kelak hanya menjadi tumbal dan harga mahal bagi intervensi Amerika pada ISIS.

Namun konyolnya ISIS meminta maaf sebab video itu harusnya tidak disebar. Entah untuk apa tindakan itu namun ini membuktikan, segala kelakuan yang tak dipikirkan lebih dulu semakin jelas memperlihatkan kebodohan mereka yang berkerak di kepala.

Rekomendasi