Mantan panglima militer Mesir Abdul Fattah al-Sisi menjadi pemenang pada hasil awal penghitungan suara dalam pemilihan presiden dari warga Mesir di luar negeri. Ini seperti dikatakan tim kampanye Sisi pada Senin malam waktu setempat.
Kementerian Luar Negeri Mesir mengumumkan dari angka-angka yang ada terlihat dukungan luar biasa untuk Sisi dibandingkan saingannya, politisi sayap kiri Hamdeen Sabahi. Lebih dari 300.000 warga Mesir di luar negeri memberikan suaranya mulai Kamis pekan lalu hingga kemarin, seperti dilansir stasiun televisi Al Arabiya, Selasa (20/5).
"Menurut tim kampanyenya, Sisi mengumpulkan 97 persen suara sah di Australia (4.672 dari 4.816 suara sementara 33 suara tidak sah), 93 persen diraih di Selandia Baru (41 dari 44 suara sah) dan juga di Shanghai, China (66 dari 71 suara sah)," seperti ditulis surat kabar Mesir, Al-Ahram.
"Sisi juga meraih 77 persen suara di Manila, Filipina (30 dari 39 suara) dan 91 persen di Jakarta, Indonesia (59 dari 65 suara)," lanjut laporan itu.
Di London, Kedutaan Besar Mesir mengumumkan Sisi memenangkan 90,6 persen suara.
Hasil lengkap diharapkan bakal dirilis hari ini.
Menurut perkiraan angka resmi, hampir enam sampai delapan juta warga Mesir tinggal di luar negeri. Tapi hanya 600.000 warga ekspatriat telah terdaftar untuk memberikan suaranya dalam pemilihan presiden.
Jajak pendapat merupakan tonggak penting dalam peta jalan politik yang ditetapkan oleh pemerintahan sementara didukung militer menyusul penggulingan Presiden Muhammad Mursi pada Juli tahun lalu.
Al-Sisi, yang memimpin penggulingan Mursi, secara luas diperkirakan akan mengumpulkan jumlah suara tertinggi.
Sementara itu, Uni Eropa kemarin mengatakan akan mengamati proses pemilihan presiden pada pekan depan di Mesir, setelah pihak berwenang memperbolehkan peralatan komunikasi mereka, dua hari setelah mengumumkan misi Uni Eropa telah dihapus.
Uni Eropa, yang telah menerima undangan dari pemerintah didukung militer untuk memantau pemilu pada 26-27 Mei, tiga hari lalu mengatakan pihaknya tidak akan mampu untuk melakukan tugasnya setelah Mesir menarik peralatan mereka.
"Misi pengamat Uni Eropa mampu melanjutkan (misinya). Namun, harus melakukan penyesuaian," kata Mario David, kepala misi pengamat Uni Eropa kepada wartawan di Kairo.
"Sebuah tim terdiri dari 45 pengamat sudah tiba di Kairo dan akan segera menyebar ke seluruh negeri," ujar anggota parlemen Uni Eropa dari Portugal.