Setelah dua minggu dunia memusatkan perhatian mereka pada hilangnya pesawat Malaysia Airlines MH370 membawa 239 penumpang, namun kini dengan diumumkannya akhir dari perjalanan burung besi itu, sejagat kembali memusatkan pandangan ke wilayah Eropa paling memanas. Ukraina yang kini terancam pecah.
Persoalan Ukraina bukan kecil lantaran melibatkan kekuatan serta kepentingan dua negara besar yakni Rusia dan Uni Eropa.
Bermula dari keengganan pemimpin terguling Viktor Yanukovych enggan mengadakan kerjasama dagang dengan Uni Eropa lantaran tak ingin mengkhianati hubungan dekat bersama Istana Kremlin, Ukraina mulai bergolak. Situasi ekonomi memaksa warga negara itu melakukan perlawanan agar pemerintahan Yanukovych membuat pembaharuan demi mencapai kestabilan meski peluang itu masih setengah-setengah.
Situasi bergolak hampir menemui akhirnya setelah salah satu wilayah yakni Krimea terletak di semenanjung Laut Hitam, perbatasan dua negara, serta menjadi tempat tinggal sekitar 47 ribu etnis Rusia atau setengah lebih populasi dari keseluruhan penduduk, memutuskan bergabung dengan Ibu Kota Moskow lewat jajak pendapat, seperti dilansir kantor berita Reuters (17/3).
Namun caplokan Moskow terhadap Krimea tidak menjadikan Kremlin puas. Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov kemarin bertemu dengan Menteri Luar Negeri Ukraina Andriy Deshchytsia saat mendampingi militernya keluar dari Krimea, dan menyampaikan seruan agar wilayah gabungan itu diberikan area lebih untuk membuat pangkalan militer.
Seruan ini datang sebelum Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) lewat Sekretaris Jenderal Anders Fogh Rasmussen mengkritik Rusia sebab membangun basis angkatan bersenjatanya di perbatasan dengan Ibu Kota Kiev. "Kami memiliki kepentingan membela semua anggota aliansi," ujar Rasmussen.
Tak hanya meminta wilayah lebih, Lavrov juga menyerukan otonomi khusus bagi seluruh regional di Ukraina.
Deshchytsia mengaku ngeri dengan basis militer Rusia di perbatasan Ukraina yang sewaktu-waktu bisa menegang dan melakukan penyerangan serta tingkat invasi lebih tinggi.
Sementara itu Kota Donetsk kini berbatasan dengan Krimea juga bergejolak. Tak lain lantaran petisi lewat Internet mereka ingin bergabung dengan Inggris. Penduduk wilayah itu menuliskan kota mereka awalnya ditemukan oleh bangsa Britania dan sudah saatnya kembali pulang ke sana.
"Donetsk salah satu kota di Inggris. Tuhan menyelamatkan ratu," mereka menuliskan di pelbagai jejaring sosial. Pemicunya jelas berasal dari referendum Krimea yang dilaksanakan pekan lalu dengan hasil Ukraina harus melepaskan tempat di Semenanjung Laut Hitam itu.
Jajak pendapat Internet itu memperlihatkan hasil mengejutkan seperti dilansir surat kabar the Russia Today (26/3). Sebanyak 61 persen responden memilih bergabung dengan Inggris.
Donetsk salah satu kota tidak mengakui pemerintahan baru Kiev. Dengan ini seruan Lavrov bisa jadi terbukti. Ukraina menjadi berkeping.