15 Orang tewas akibat bom bunuh diri di restoran di Kabul

Pemberontak Taliban mengaku bertanggung jawab atas serangan yang menewaskan sebagian besar warga asing itu.

Vincent Asido Panggabean
15 Orang tewas akibat bom bunuh diri di restoran di Kabul
Polisi Afghanistan tiba di lokasi ledakan di Ibu Kota Kabul. rt.com

Polisi Afghanistan mengatakan setidaknya 15 orang, sebagian besar warga asing, kemarin tewas setelah seorang pembom bunuh diri meledakkan dirinya di luar sebuah restoran Libanon yang populer di Ibu Kota Kabul.

Pemberontak Taliban mengaku bertanggung jawab atas serangan di distrik kelas atas Wazir Akbar Khan, yang menjadi tempat banyak kantor kedutaan dan restoran katering untuk para ekspatriat, seperti dilansir situs asiaone.com, Sabtu (18/1).

Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan perwakilan mereka di Afghanistan adalah salah satu dari antara para korban tewas. Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan tiga stafnya juga terbunuh akibat insiden itu.

"Serangan sudah ditargetkan terhadap warga sipil tidak dapat diterima dan melanggar hukum kemanusiaan internasional," kata Juru bicara PBB Farhan Haq. "Mereka harus segera dihentikan."

Wakil Menteri Dalam Negeri Afghanistan, Jenderal Ayoub Salangi, mengatakan di antara 13 dan 15 orang, sebagian besar warga asing, terbunuh, namun kewarganegaraan mereka masih belum diketahui.

Seorang juru bicara Taliban mengatakan bahwa mereka yang terbunuh adalah warga negara Jerman. Namun, Kementerian Luar Negeri Jerman di Ibu Kota Berlin mengatakan belum bisa mengonfirmasi bahwa ada warganya menjadi korban.

Serangan itu terjadi di waktu sibuk makan malam di mana para ekspatriat di Kabul cenderung makan di luar. Distrik diplomatik yang sangat dibentengi itu juga ditempati banyak warga kaya Afghanistan dan kalangan pebisnis. Hujan tembakan mengikuti serangan itu.

"Pertama ada serangan bunuh diri di dekat sebuah restoran bagi warga asing di mana seorang pria meledakkan bahan peledak yang melekat pada tubuhnya, dan kemudian satu atau dua pemberontak mungkin memasuki restoran," kata seorang sumber dari keamanan Afghanistan.

IMF mengatakan perwakilannya, Wabel Abdallah, seorang warga Libanon berusia 60 tahun, tewas dalam ledakan itu. Dia telah memimpin IMF di Kabul sejak 2008.

"Ini adalah berita yang tragis, dan kami di IMF semuanya terpukul," ujar Direktur Utama IMF, Christine Lagarde, dalam sebuah pernyataan. "Hati kita turut berkabung dengan keluarga dan teman Wabel, serta para korban serangan ini."

Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Afghanistan Sediq Sediqi mengatakan tiga pelaku bom bunuh diri telah mendekati restoran, satu di antaranya meledakkan bomnya sedangkan dua lainnya berhasil ditembak oleh aparat keamanan.

Pada Jumat malam, baku tembak berlangsung selama sekitar 20 menit setelah ledakan dan jalan utama yang menuju ke daerah itu ditutup.

Sumber keamanan mengatakan setelah terjadinya ledakan, dua penembak menyerbu restoran dan mulai menembaki orang-orang makan di sana, dan menambahkan bahwa korban dari warga asing telah dibawa ke sebuah kamp militer internasional di sebelah timur Kabul.

Di rumah sakit terdekat, mereka yang terluka akibat serangan itu terlihat berteriak-teriak dan beberapa orang menangis sambil menutup wajah mereka dengan syal di saat dokter memberikan perawatan.

"Salah satu koki restoran terluka," kata dokter Abdul Bashir. "Dua jenazah telah dibawa ke kamar mayat."

Juru bicara polisi Kabul, Hashmat Stanekzai, sebelumnya mengatakan bahwa sebuah operasi untuk mengamankan bangunan sedang berlangsung.

"Operasi pembersihan masih berlangsung. Pasukan keamanan kami belum berada di dalam restoran, namun mungkin masih ada beberapa pemberontak yang berada di dalam sehingga kita harus bertindak dengan hati-hati untuk menghindari korban," ucap dia.

Serangan itu di mana kebanyakan warga asing sedang mempersiapkan diri untuk meninggalkan Afghanistan pada tahun ini, setelah lebih dari satu dekade berperang dan hampir setiap hari mendapat serangan.

Masalah keamanan telah meningkat menjelang pemilu presiden pada April mendatang ketika warga Afghanistan akan memilih pengganti Presiden Hamid Karzai, peristiwa yang cenderung menjadi target para pemberontak Taliban.

Rekomendasi