Kasus kematian mantan pemimpin Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) Yasser Arafat bisa jadi merupakan misteri terbesar abad ini. Dia meninggal saat dirawat di sebuah rumah sakit militer Van de Grace Ibu Kota Paris, Prancis dan diklaim sakit AIDS dengan virus HIV menggerogoti kekebalan tubuhnya.
Penyakit AIDS masih menjadi penyakit yang dipandang kotor lantaran penderitanya biasa dari kalangan pecandu narkotik dan penganut seks bebas. Dugaan buruk soal gaya hidupnya pun segera menjadi rumor bagai bakteri berkembang. Namun di sisi lain Arafat bukan sosok tertutup. Sebaliknya dia suka blak-blakan mengenai kehidupan pribadinya termasuk tidak ragu mengenalkan sang istri, Suha, beragama Kristen. Tutur katanya tegas tanpa tendeng aling-aling. Gaya hidup demikian tidak pernah ada dalam kamus Arafat dan tidak sekalipun publik melihatnya gonta ganti pasangan.
Di balik dugaan gaya hidup yang seronok, kecurigaan pihak keluarga terutama sang istri sangat yakin, suaminya sengaja dibunuh. Keyakinan ini juga muncul dari Sekretaris Jenderal Komite Pusat Fatah, Faruq Qaddumi, bahkan dia menuding Presiden Otoritas Palestina sekaligus Ketua Komite Pusat Fatah Mahmud Abbas serta Muhammad Dahlan ikut terlibat dalam pembunuhan itu.
"Kepemimpinan Fatah seharusnya mengetahui pemimpin mereka, khususnya Dahlan dan Abu Mazin (Abbas) bertanggung jawab langsung atas pembunuhan Arafat," kata Qaddumi tiga tahun lalu dalam jumpa pers di Ibu Kota Amman, Yordania, seperti dilansir surat kabar Haaretz.
Qaddumi mengaku Arafat pernah memberitahukan kepada dirinya soal pertemuan rahasia yang dihadiri mantan Perdana Menteri Israel Ariel Sharon, Presiden Abbas, Muhammad Dahlan (mantan orang kuat di Jalur Gaza), sejumlah pejabat dinas intelijen Amerika Serikat CIA, dan Wakil Menteri Luar Negeri Amerika William Burns. Rapat yang berlangsung beberapa menit itu terjadi pada 2004.
Dalam kesempatan itu, Sharon menyarankan untuk melenyapkan para pemimpin dari Hamas, Jihad Islam, Barisan Rakyat bagi Pembebasan Palestina (PFLP), dan Brigade Syuhada Al-Aqsha yang merupakan sayap militer Fatah. Menurut Sharon yang kini masih koma, rencana itu bakal menciptakan kekacauan yang akan memuluskan jalan Abbas dan Dahlan untuk berkuasa.
Ia juga mengatakan Arafat harus dibunuh dengan cara diracun. "Ia (Abbas ) dan Dahlan adalah lingkaran terakhir sebelum orang yang membawa racun itu sampai ke Arafat," ujar Qaddumi. Sharon memperingatkan jangan sampai lelaki yang dikenal dengan nama Abu Ammar itu meninggalkan wilayah pendudukan Israel hingga ada jaminan ia bakal dikenakan tahanan rumah di pengasingan.
Kepada sebuah situs berita di Yordania, bekas dokter pribadi Arafat, Dr Asyraf al-Kurdi, mengungkapkan seseorang menyuntikan virus HIV ke tubuh Arafat sebelum ia tewas. Menurut dia, upaya itu untuk mengaburkan racun yang sudah diinjeksi sebelumnya.
Sangat menyakitkan buat Suha, dia sendiri yang akhirnya mengetahui suaminya diracun polonium. Sekujur tubuh bahkan pakaian Arafat semuanya mengandung racun paling mematikan dan hingga kini belum satu orang pun ditunjuk menjadi dalangnya.