7 Isu debat Obama vs Romney

Adu argumen ini menjadi penentu, siapa bakal memimpin negara adidaya itu.

Vincent Asido Panggabean
7 Isu debat Obama vs Romney
debat calon presiden amerika. REUTERS

Debat ketiga calon presiden Amerika Serikat usai digelar. Dalam adu argumen terakhir ini, kedua kandidat Presiden Barack Hussein Obama dan calon presiden dari Partai Republik Mitt Romney saling lempar tudingan terhadap kebijakan luar negeri masing-masing calon.Adu argumen ini menjadi penentu, siapa bakal memimpin Negara Adidaya itu sebelum rakyat Amerika Serikat menentukan pilihannya pada 6 November mendatang.Beberapa isu dijadikan pokok perdebatan difokuskan pada masalah Timur Tengah dan isu berkembang seperti konflik Suriah dan program nuklir Iran. Berikut isu-isu yang ramai diperdebatkan.

Masalah Timur Tengah

Isu ini sangat penting bagi Amerika sebab menjadi masalah paling peka untuk membangun hubungan antara Amerika dengan negara-negara di kawasan Timur Tengah. Calon Presiden dari Partai Republik Mitt Romney menyebut Amerika harusnya dapat menghilangkan segala kekacauan yang timbul di Timur Tengah. "Amerika dapat berperan dalam banyak hal dan menerapkan strategi secara tegas untuk membantu negara Islam dan negara lainnya di dunia agar menolak kaum radikal di negaranya masing-masing," ujarnya.Namun, Obama menjelaskan tindakan yang perlu dilakukan Amerika terhadap kawasan Timur Tengah adalah dengan rasa hormat dan dengan kepemimpinan yang mantap bukan dengan cara-cara yang sembrono. "Contohnya kita telah menciptakan kerja sama dengan kaum ekstrimis seperti di Somalia, Yaman, dan Pakistan."

Masalah armada Amerika

Calon Presiden Mitt Romney mengatakan militer Amerika tidak ada duanya di dunia. Namun, dia mengkritisi kebijakan pemotongan anggaran terhadap militer Amerika."Kita diberkati dengan pasukan terbaik, teknologi luar biasa, dan kepintaran. Tapi semua itu akan percuma dengan perampasan dan pemotongan anggaran bagi militer kita," katanya.Sementara Obama menyebut Romney tidak meluangkan waktu melihat bagaimana armada Amerika bekerja. "Pertanyaannya adalah ini tidak seperti permainan perang-perangan, tapi ini adalah kemampuan kita," ujarnya.

Masalah dunia

Amerika sebagai Negara Adikuasa memang memiliki peran dalam peta percaturan dunia. Kebijakan Amerika dalam menekan salah satu negara dapat membuat negara itu hancur perlahan-lahan. Mengenai isu dunia, Romney mengatakan tujuan Amerika adalah memastikan agar dunia damai. Dia menyebut Amerika telah diberikan wewenang untuk mewujudkan kedamaian dunia. "Kita tidak meminta ini, tapi suatu kehormatan jika kita bisa melakukannya" ucapnya. Sedangkan Obama mengatakan dunia saat ini membutuhkan Amerika yang kuat. Dia menyebut Amerika semakin kuat setelah dirinya menjabat sebagai presiden lantaran telah menghentikan perang di Irak. "Kita harus kembali fokus terhadap ancaman terorisme dan memulai perubahan di Afganistan. Ini membuat kita harus kembali fokus terhadap sekutu dan hubungan yang telah terabaikan selama bertahun-tahun," kata Obama

Masalah Iran

Hubungan antara Amerika dan Iran memang semakin sengit setelah Negeri Mullah itu memulai program nuklirnya. Terkait masalah Iran Obama mengatakan pihaknya tidak akan mengizinkan Iran selamanya mengajak untuk bernegoisasi yang akhirnya berujung pada ketidakpastian. "Saya rasa ini sudah jelas," tuturnya.Sedangkan Romney menjelaskan sejak awal, satu tantangan terkait masalah dengan Iran bahwa Amerika hanya menjatuhkan sanksi administrasi. Dia menyebut sanksi itu membuat Iran melihat Amerika lemah. "Kita telah empat tahun mendekati program nuklir Iran dan kita harusnya tidak menyia-nyiakan waktu itu," ucapnya.

Konflik Suriah

Konflik berkepanjangan di Suriah memang seakan belum menemukan titik terang perdamaian. Sampai saat ini Amerika juga belum campur tangan terkait hal ini.Romney menyebut dirinya tidak ingin militer Amerika turut campur terkait konflik Suriah. Dia menyebut tidak ada perlunya Amerika menerjunkan militernya di Suriah. "Saya tidak mengantisipasi masalah ini di masa depan," ujarnya.Sementara Obama menyerang Romney dengan menyebut pria berumur 65 tahun itu tidak memiliki ide dengan menciptakan pemimpin Suriah yang meoderat. "Ini merupakan salah satu pemimpin dan kepemimpina kita tunjukkan. "Kepemimpinan seperti itu yang kita ingin tunjukkan dan itu merupakan ciri kepemimpinan yang akan terus kita lalukan," sahut Obama.

Masalah China

Barack Obama menyebut kedua negara memang bermusuhan. Namun di lain pihak keduanya juga sempat bekeja sama dalam komunitas internasional jika sesuai aturan. Romney menilai China saat ini memiliki keinginan sama seperti Amerika dalam satu kondisi yakni keinginan agar dunia menjadi stabil, tidak ingin perang, tidak ingin melihat proteksi, dan tidak ingin melihat dunia hancur karena kekacauan."Kita dapat bekerja sama dengan China. Kita tidak perlu memusuhi mereka baik dari segi apapun. Kita dapat berkolaborasi dengan mereka jika mereka mau bertanggung jawab.

Masalah Rusia

Sejak era perang dingin kedua negara ini telah bersitegang di pelbagai hal. Tidak terkecuali hingga saat ini. Untuk masalah kebijakan terkait Rusia, Romney melihat Negara Beruang Merah itu terus melanjutkan perseteruan terhadap Amerika di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dari waktu ke waktu. Obama menilai ucapan Romney beberapa bulan lalu ketika Romney dicecar pertanyaan mengenai masalah terbesar dihadapi Amerika secara geopolitik adalah Rusia bukan Al-Qaidah. "Anda tahu perang dingin sudah berakhir 20 tahun silam," kata Obama.

Rekomendasi