Pejabat Negara-Negara Teluk 'Gerah' Kecewa dengan Trump Karena Serang Iran Tanpa Peringatan

Beberapa pejabat dari dua negara Teluk menyatakan kekecewaan mereka terhadap penanganan konflik Iran oleh Amerika Serikat.

Teddy Tri Setio Berty
Oleh Teddy Tri Setio Berty - Reporter
Pejabat Negara-Negara Teluk 'Gerah' Kecewa dengan Trump Karena Serang Iran Tanpa Peringatan
Kepulan asap membubung setelah ledakan yang dilaporkan terjadi di Teheran, Iran, pada 28 Februari 2026. Dua ledakan keras terdengar di Teheran, Iran, pada 28 Februari 2026 pagi hari. (Foto ol (© 2026 Liputan6.com)

Sejumlah pejabat di negara teluk kecewa dengan sikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyerang Iran tanpa adanya peringatan. Mereka sebagai negara sekutu AS di kawasan Teluk Persia merasa tidak puas dengan pemerintahan Trump.

Negara-negara Arab di wilayah tersebut merasa bahwa Washington tidak memberikan waktu yang cukup bagi mereka untuk bersiap menghadapi serangan drone dan rudal dari Iran, yang diluncurkan sebagai respons terhadap tindakan militer AS dan Israel terhadap Teheran.

Mereka mengeluhkan bahwa pemerintah mereka tidak mendapatkan pemberitahuan sebelumnya mengenai operasi militer gabungan AS-Israel tersebut.

Lebih lanjut, para pejabat menilai bahwa Washington mengabaikan peringatan dari negara-negara Teluk mengenai potensi konsekuensi besar yang dapat ditimbulkan oleh perang melawan Iran terhadap stabilitas kawasan, sebagaimana dilaporkan oleh AP News pada Jumat (6/3). Salah satu pejabat menyatakan bahwa negara-negara Teluk saat ini merasa frustrasi, bahkan marah, karena militer AS dianggap belum memberikan perlindungan yang memadai.

Praktis, sikap AS itu menimbulkan pandangan bahwa operasi militer lebih terfokus pada perlindungan Israel dan pasukan Amerika, sementara negara-negara Teluk harus menghadapi ancaman tersebut sendirian.

Pejabat itu juga menambahkan bahwa persediaan sistem pencegat rudal di negaranya "menyusut dengan cepat" seiring dengan meningkatnya serangan dari Iran. Para pejabat yang memberikan informasi kepada media meminta agar identitas mereka dirahasiakan karena membahas isu diplomatik yang sensitif.

Sementara itu, pemerintah Arab Saudi, Kuwait, dan Bahrain belum memberikan tanggapan resmi terkait permintaan komentar. Di sisi lain, juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, menyatakan bahwa kemampuan Iran telah mengalami penurunan yang signifikan setelah dilakukannya operasi militer AS.

Kelly mengungkapkan bahwa serangan balasan rudal balistik dari Iran telah menurun hingga 90 persen setelah diluncurkannya Operasi Epic Fury, yang diklaim berhasil merusak kemampuan Teheran dalam meluncurkan dan memproduksi senjata tersebut.

"Presiden Trump berhubungan erat dengan semua mitra regional kami, dan serangan rezim Iran terhadap negara-negara tetangganya menunjukkan betapa pentingnya menghilangkan ancaman tersebut bagi negara kita dan sekutu kita," ungkap Kelly. Hingga saat ini, Pentagon belum memberikan tanggapan resmi mengenai situasi ini.

Negara Teluk Frustrasi ke AS: Serangan Iran Terjadi Tanpa Peringatan Memadai
Kepulan asap membubung setelah ledakan yang dilaporkan terjadi di Teheran, Iran, pada 28 Februari 2026. Dua ledakan keras terdengar di Teheran, Iran, pada 28 Februari 2026 pagi hari. (Foto ol © 2026 Liputan6.com

Walaupun pemerintah negara-negara Teluk biasanya bersikap hati-hati dalam menyampaikan kritik secara resmi, beberapa tokoh publik yang dekat dengan pemerintah mereka mulai berani mengungkapkan ketidakpuasan terhadap Washington.

Salah satu yang vokal adalah Turki al-Faisal, mantan kepala intelijen Saudi, yang berpendapat bahwa konflik ini pada dasarnya adalah perang yang diciptakan oleh Israel. "Ini adalah perang Netanyahu," tegas Turki dalam wawancara dengan CNN, merujuk pada Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Ia berpendapat bahwa Netanyahu berhasil meyakinkan Trump untuk mendukung pandangan Israel dalam konfrontasi dengan Iran.

Serangan Drone Sulit Dibendung

Di Washington, para pejabat Pentagon mengakui adanya tantangan besar dalam menghadapi serangan drone yang diluncurkan oleh Iran. Dalam sebuah pengarahan tertutup kepada anggota Kongres baru-baru ini, pejabat militer mengakui bahwa mereka mengalami kesulitan dalam menghentikan serangan drone yang terus menerus mengincar berbagai target di kawasan Teluk. Beberapa target militer AS di wilayah tersebut dilaporkan menjadi rentan karena keterbatasan sistem pertahanan terhadap drone.

Negara-negara Teluk menjadi sasaran strategis bagi Iran, karena letaknya yang berada dalam jangkauan rudal jarak pendek dan banyak menyimpan target bernilai tinggi, mulai dari pangkalan militer AS hingga fasilitas energi yang krusial bagi pasokan minyak global.

Sejak dimulainya konflik, Iran dilaporkan telah menembakkan sedikitnya 380 rudal dan lebih dari 1.480 drone ke lima negara Teluk Arab. Menurut laporan dari Associated Press yang mengacu pada pernyataan resmi pemerintah setempat, setidaknya 13 orang telah tewas akibat serangan tersebut.

Korban juga melibatkan pihak militer Amerika, di mana enam tentara AS dilaporkan tewas di Kuwait setelah serangan drone Iran menghantam pusat operasi di sebuah pelabuhan sipil, yang terletak lebih dari 16 kilometer dari pangkalan utama Angkatan Darat AS.

Keluarga salah satu korban menyatakan bahwa fasilitas tersebut hanya berupa bangunan bergaya kontainer pengiriman yang tidak memiliki perlindungan yang memadai. Dalam pengarahan kepada Kongres, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan Dan Caine juga mengungkapkan bahwa Amerika Serikat mungkin tidak dapat mencegat banyak drone yang datang, khususnya jenis Shahed yang sering digunakan oleh Iran.

Negara Teluk Frustrasi ke AS: Serangan Iran Terjadi Tanpa Peringatan Memadai
Kepulan asap membubung setelah ledakan yang dilaporkan terjadi di Teheran, Iran, pada 28 Februari 2026. Dua ledakan keras terdengar di Teheran, Iran, pada 28 Februari 2026 pagi hari. (Foto ol © 2026 Liputan6.com

Fasilitas diplomatik Amerika Serikat juga menjadi sasaran serangan drone. Di Riyadh, serangan di kedutaan AS menyebabkan kebakaran kecil, sementara insiden lain yang terjadi di Uni Emirat Arab mengakibatkan kebakaran di luar konsulat AS di Dubai. Dalam menghadapi ancaman yang semakin meningkat, Amerika Serikat dan sekutunya mempertimbangkan untuk meminta bantuan dari Ukraina, yang memiliki pengalaman dalam menghadapi drone Shahed buatan Iran.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, menyatakan bahwa pihaknya telah diminta untuk memberikan bantuan terkait keahlian tersebut. Menanggapi permintaan itu, Trump menyatakan bahwa ia terbuka untuk menerima bantuan dari negara manapun. "Tentu saja saya akan menerima bantuan dari negara mana pun," ungkap Trump kepada Reuters.

Risiko bagi Negara Teluk Diremehkan

Bader Mousa Al-Saif, seorang analis kawasan dari Chatham House yang berbasis di Kuwait, berpendapat bahwa Washington mungkin telah meremehkan risiko yang dihadapi oleh sekutu Arabnya. Ia menilai bahwa AS tampaknya berasumsi bahwa target utama pembalasan Iran adalah Israel dan pasukan Amerika. "Saya rasa mereka tidak memperhitungkan bahwa negara-negara Teluk akan sangat terekspos," kata Al-Saif. Ia menambahkan bahwa kurangnya rencana perlindungan bagi negara-negara Teluk mencerminkan pendekatan strategis AS yang terlalu terbatas.

Kekecewaan negara-negara Teluk juga muncul karena adanya perbandingan dengan Israel, yang dianggap lebih efektif dalam menembak jatuh drone dan rudal Iran dibandingkan negara-negara Arab di kawasan tersebut. Namun, sejumlah pejabat AS merasa heran mengapa negara-negara Teluk belum menunjukkan keinginan untuk melakukan serangan balasan langsung terhadap Iran.

Ancaman Eskalasi

Elliott Abrams, mantan utusan khusus AS untuk Iran pada masa pemerintahan Trump, menyatakan bahwa kemampuan Iran untuk melancarkan serangan besar telah lama dipahami oleh negara-negara di kawasan. "Negara-negara tetangga tahu kemampuan itu dan mereka takut," ujarnya.

Menurut Abrams, serangan-serangan ini berpotensi menciptakan permusuhan jangka panjang. Jika konflik terus berlanjut, negara-negara Teluk mungkin pada akhirnya akan terpaksa menyerang Iran. Di sisi lain, Michael Ratney, mantan duta besar AS untuk Arab Saudi, menilai bahwa negara-negara Teluk berada dalam posisi yang sulit.

Meskipun mereka memiliki kepentingan untuk melihat Iran melemah, mereka juga khawatir terhadap dampak dari perang yang berkepanjangan. "Apa yang akan terjadi selanjutnya? Negara-negara Teluk kemungkinan harus menanggung dampak paling berat dari situasi ini," kata Ratney.

Rekomendasi