Kemampuan manusia untuk berjalan dan berlari dengan dua kaki secara efisien muncul sekitar 2 juta tahun yang lalu pada nenek moyang Homo erectus. Namun, tampaknya Australopithecus afarensis atau dikenal dengan “Lucy” yang hidup 3,2 juta tahun yang lalu sudah bisa berlari meski tidak sangat cepat, menurut sebuah sebuah studi terbaru.
Dalam studi yang diterbitkan jurnal Current Biology tersebut, peneliti melakukan pemodelan anatomi rangka dan otot Lucy dengan model muskuloskeletal untuk menentukan kecepatan lari maksimal, biaya energi yang terkait dengan berlari, dan daya tahan larinya.
Melalui serangkaian simulasi gaya berjalan, para peneliti mengungkapkan "kecepatan lari maksimum Lucy jauh lebih rendah daripada model manusia kita, yaitu sekitar 18 km/jam,” tulis peneliti seperti dikutip dari laman Live Science pada Jumat (27/12).
Lucy juga menggunakan energi antara 1,7 hingga 2,9 kali lebih banyak daripada manusia modern untuk berlari secepat itu, hal ini menunjukkan bahwa Lucy membutuhkan lebih banyak energi daripada manusia modern.
Hal ini kemungkinan disebabkan oleh bentuk tubuh Australopithecus seperti Lucy yang memiliki tubuh bagian atas yang besar, lengan yang panjang, dan kaki yang pendek.
Advertisement
Para peneliti juga mengaitkan dengan struktur tendon Achilles dan triceps surae yang berbeda dari manusia modern. Manusia modern memiliki tendon Achilles yang panjang seperti pegas, yang memungkinkan pergelangan kaki yang kuat dan efisien untuk performa lari yang tinggi.
Ketika para peneliti memodelkan pergerakan Lucy dengan otot Achilles dan betis seperti manusia, ternyata Lucy masih lebih lambat, tetapi perbedaan dalam kemampuan berlari sebagian besar disebabkan oleh ukuran tubuhnya yang lebih kecil.
Lebih lanjut, para peneliti mengungkapkan bahwa tendon Achilles dan struktur triceps surae dalam evolusi energi lari hominin memiliki peran penting dalam kecepatan lari manusia modern.
Reporter Magang: Elma Pinkan Yulianti