Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Lebaran, Dubes Yuddy silaturahmi ke masjid satu-satunya di Yerevan

Lebaran, Dubes Yuddy silaturahmi ke masjid satu-satunya di Yerevan Dubes Yuddy Chrisnandi silaturahmi ke Masjid Biru di Armenia. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Duta Besar Indonesia untuk Ukraina merangkap Georgia dan Armenia Yuddy Chrisnandi melakukan lawatan ke Masjid Biru atau Gok Jami di Ibu Kota Armenia Yerevan. Masjid ini merupakan tempat ibadah umat Islam satu-satunya di kota tersebut.

Berdiri di lahan seluas 70.000 meter persegi ini, Masjid Biru menjadi satu-satunya yang bertahan di Ibu Kota Armenia tersebut. Masjid ini juga memiliki nilai sejarah.

Dalam kunjungannya itu, Yuddy bersilaturahmi dengan komunitas Islam di Yerevan, termasuk di dalamnya imam dan ketua Masjid Biru Syeikh Shaijan. Silaturahmi ini, menurut Yuddy, sesuai dengan misi diplomatik Indonesia untuk membangun dan menjembatani hubungan antar masyarakat.

"Silaturahmi ini juga menghadirkan Indonesia sebagai negara berpenduduk Islam terbesar di dunia yang rahmatan lil alamin," ujarnya dalam pernyataan tertulis yang diterima merdeka.com, Minggu (25/6).

Syeikh Shaijan mengutarakan ide 'sistar mosque' antara Indonesia dan Armenia untuk mempererat hubungan kedua negara, masyarakat dan memajukan pariwisata Indonesia-Armenia.

Dalam pertemuan tersebut, Syeikh Shaijan menjelaskan memiliki hubungan harmonis dengan Kristen Ortodoks yang merupakan agama mayoritas di Armenia. Dia menambahkan, pembangunan masjid dilakukan saat Yerevan masih dihuni sekitar 20 ribu penduduk dan merupakan kota lintas agama yang hidup secara damai.

"Usai penguasaan Kerajaan Ottoman Turki 1453-1829 dan Rusia-Persia 1827-1828, hubungan antar umat beragama, khususnya Islam dan Kristen Ortodoks berjalan baik dan saling menghargai satu sama lain," tutur Shaijan.

Menurut sang ketua masjid itu, harmonisnya hubungan antarumat beragama terjadi lantaran komunitas agama memiliki sikap toleran dan welas asih. Kedua umat dan pemuka agama besar ini masih memegang tradisi takziyah dan tidak saling menyerang.

Sementara itu, masjid ini dirawat dengan sangat baik, pemugarannya tidak mengubah bentuk aslinya. Pembangunan kembali bahkan tidak menghilangkan 12 jendela atas yang merepresentasikan 12 nabi umat Kristen.

Sayangnya, ketika rezim atheis Uni Soviet berkuasa di Armenia, seluruh tempat ibadah dihancurkan dan ditutup sama sekali sekitar 1931. Seorang penyair ternama Armenia yang beragama Kristen Ortodoks, Y. Charents menyelamatkan Masjid Biru ini dengan mengupayakannya menjadi museum.

Dan kini, masjid tersebut tetap kokoh berdiri. Islam pun dapat diterima dengan baik di Armenia, bahkan berkontribusi pada kemajuan bangsa Armenia.

Diperkirakan 0,1 persen dari 3 juta penduduk Armenia adalah Muslim. Tiga ribu umat Islam ini mayoritas berada di Yerevan dan wilayah perbatasan dengan Turki dan Iran.

"Meski ada luka masa lalu disaat kerajaan Ottoman berkuasa di Armenia selama 376 tahun (1453-1829) dan naik turun berbagai peradaban besar di Armenia, nama substansi perdamaian dan saling menghargai dalam kemajemukan agama masih terpelihara hingga saat ini," pungkas mantan Menpan RB tersebut.

(mdk/che)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP