Jalan Sunyi Para Penjaga Moral dan Nurani, Kisah Para Pemuda Israel yang Menolak Ikut Perang di Gaza

Sebagian kecil pemuda Israel mengalami perang batin yang mendalam.

Pandasurya Wijaya
Oleh Pandasurya Wijaya - Reporter
Jalan Sunyi Para Penjaga Moral dan Nurani, Kisah Para Pemuda Israel yang Menolak Ikut Perang di Gaza
Di tengah ketegangan yang terjadi di Gaza, tentara Israel juga membutuhkan waktu untuk bersantai dan melepaskan beban tugas mereka. Meskipun berada dalam kondisi perang, para prajurit menemukan cara untuk mengisi waktu luang mereka dengan sejumlah kegiatan yang menyegarkan pikiran. (REUTERS/Amir Cohen)

Seperti yang terjadi setiap beberapa tahun sekali, Israel kembali terlibat dalam perang yang berkepanjangan dan mematikan di Gaza. Namun, di tengah kengerian konflik ini, sejumlah tentara cadangan Israel mengambil langkah berani yang jarang terjadi: mereka menolak untuk ikut bertempur.

Mereka menyebut perang ini telah melampaui batas-batas moral, keamanan, dan etika, serta menyerukan diakhirinya konflik yang mereka anggap hanya melayani kepentingan politik Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Para tentara ini, yang kini dijuluki "Gaza Refuseniks," membagikan kisah mereka dalam wawancara eksklusif dengan Haaretz. Tindakan mereka mencerminkan konflik batin yang mendalam antara kewajiban militer dan hati nurani, di tengah situasi yang mereka gambarkan sebagai krisis kemanusiaan yang tak tertahankan.

kesibukan tentara Israel saat istirahat dari pertempuran di perbatasan gaza
Di tengah ketegangan yang terjadi di Gaza, tentara Israel juga membutuhkan waktu untuk bersantai dan melepaskan beban tugas mereka. Meskipun berada dalam kondisi perang, para prajurit menemukan cara untuk mengisi waktu luang mereka dengan sejumlah kegiatan yang menyegarkan pikiran. REUTERS/Amir Cohen

Penolakan untuk bertugas dalam militer adalah tindakan yang sangat langka di Israel, di mana dinas militer dianggap sebagai bagian integral dari identitas nasional. Namun, kelima tentara cadangan ini – yang identitasnya dirahasiakan untuk alasan keamanan – merasa bahwa mereka tidak punya pilihan lain.

Salah satu dari mereka, seorang mantan perwira berusia 32 tahun, mengatakan, "Saya tahu satu-satunya tujuan perang ini adalah kelangsungan hidup pemerintah – dengan harga ribuan anak-anak Gaza, para sandera, tentara, dan keselamatan kita."

Pernyataan ini mencerminkan sentimen yang berkembang di kalangan sebagian masyarakat Israel, yang semakin mempertanyakan tujuan dan moralitas perang ini. Menurut data terbaru, setidaknya 57.523 warga Palestina telah tewas dalam 21 bulan konflik, bersama dengan 887 tentara Israel.

Angka-angka ini, kata para refusenik, adalah pengingat pahit akan biaya manusiawi dari perang yang tampaknya tidak memiliki akhir yang jelas.

Kelima tentara ini memiliki latar belakang yang beragam: ada yang berasal dari unit tempur elit, ada pula dari divisi logistik dan intelijen. Namun, mereka bersatu dalam keyakinan bahwa operasi militer di Gaza telah melanggar prinsip-prinsip dasar kemanusiaan dan etika militer.

Salah satu tentara, yang bertugas di unit infanteri, menceritakan pengalamannya menyaksikan kehancuran di Gaza:

"Apa yang saya lihat di lapangan adalah kengerian yang tak terbayangkan. Kami diajarkan untuk mematuhi perintah, tetapi juga untuk menolak perintah yang jelas-jelas ilegal. Perang ini telah melampaui setiap batas moral."

Para refusenik ini juga menyoroti dampak psikologis dari perang, baik bagi tentara maupun masyarakat luas.

Seorang tentara cadangan berusia 28 tahun, yang sebelumnya bertugas di Tepi Barat, mengatakan, "Setiap hari di Gaza, saya merasa seperti kehilangan sedikit demi sedikit dari kemanusiaan saya. Saya tidak bisa terus menjadi bagian dari ini."

Ia menuturkan banyak rekan-rekannya merasakan hal yang sama, tetapi takut untuk berbicara karena tekanan sosial dan potensi konsekuensi hukum.

Survei: Tentara Israel Makin Lelah dengan Perang, Ingin Mundur dari Militer karena Gaji Kecil
Survei: Tentara Israel Makin Lelah dengan Perang, Ingin Mundur dari Militer karena Gaji Kecil © AFP

Para tentara ini secara terbuka mengkritik kepemimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang mereka sebut memprioritaskan kepentingan politik pribadi di atas kesejahteraan rakyat Israel dan Gaza. Mereka menunjuk pada kegagalan pemerintah untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata dan pembebasan sandera, yang menurut jajak pendapat baru-baru ini didukung oleh mayoritas masyarakat Israel.

Sebuah laporan Haaretz menyebutkan bahwa 60 persen warga Israel percaya bahwa penolakan Netanyahu untuk menutup kesepakatan gencatan senjata lebih berkaitan dengan kelangsungan politiknya daripada kepentingan nasional.

"Seorang pemimpin yang peduli pada rakyatnya akan berusaha menghentikan penderitaan ini, bukan memperpanjangnya," kata salah satu refusenik.

Mereka menyerukan diakhirinya perang, yang mereka anggap tidak hanya merusak Gaza, tetapi juga mengorbankan nyawa para sandera, tentara, dan stabilitas regional.

Menolak untuk bertugas bukanlah keputusan yang diambil dengan ringan. Di Israel, tindakan semacam ini dapat mengakibatkan penyelidikan polisi, hukuman penjara, atau pengucilan sosial.

Baru-baru ini, jurnalis Israel Frey diinterogasi oleh polisi karena unggahan media sosialnya yang dianggap mendukung kematian tentara Israel di Gaza, menunjukkan betapa sensitifnya isu ini.

Namun, para refusenik ini tetap teguh pada prinsip mereka, meskipun menghadapi risiko besar.

Di media sosial, kisah mereka telah memicu diskusi yang sengit. Sebuah unggahan di X berbunyi, "Lima orang Israel yang menolak bertempur di Gaza: 'Perang ini telah melampaui setiap batas moral.' Hormat untuk keberanian mereka."

Pesan lain menyebutkan, "Ini adalah suara hati nurani di tengah kegilaan. Kita perlu lebih banyak orang seperti mereka."

Namun, ada juga kritik keras, dengan beberapa pengguna X menuduh mereka sebagai "pengkhianat" atau "lemah."

tentara israel
tentara israel Reuters

Mereka menantang masyarakat Israel untuk memikirkan kembali tujuan perang ini dan apakah tindakan militer benar-benar dapat membawa keamanan jangka panjang.

"Kami bukan pengkhianat," kata salah satu refusenik. "Kami mencintai negara ini, dan itulah mengapa kami tidak bisa diam melihatnya hancur oleh perang yang tidak perlu."

Di tengah konflik yang telah merenggut puluhan ribu nyawa dan memperdalam perpecahan, suara para refusenik ini menawarkan secercah harapan – bukan hanya untuk Gaza, tetapi juga untuk masa depan Israel.

Mereka mengingatkan kita bahwa bahkan di saat-saat tergelap, keberanian untuk berdiri demi prinsip kemanusiaan dapat menjadi pendorong untuk perubahan.

Rekomendasi