Islamofobia makin menjadi di AS, pengungsi non-Muslim jadi sasaran

Selasa, 4 April 2017 08:10 Reporter : Ira Astiana
Islamofobia makin menjadi di AS, pengungsi non-Muslim jadi sasaran Hasel Afshar. ©2017 KPTV

Merdeka.com - Islamofobia yang melanda Amerika Serikat berkembang semakin pesat. Terlebih, setelah Donald Trump terpilih menjadi presiden AS di mana dalam beberapa kampanye sempat menyatakan permusuhan terhadap Islam.

Aksi vandalisme terus terjadi, terutama kepada para pengungsi yang diketahui beragama Islam. Hal tersebut juga dialami oleh Hasel Afshar, seorang pengungsi asal Iran yang sudah menetap di AS selama tujuh tahun.

Afshar terkejut ketika pulang ke rumah dan menemukan pintu dihancurkan dengan kapak sementara perabotan di dalam rumahnya pun ikut kena sasaran. Tak hanya itu, tulisan yang berisi kalimat rasis juga ditulis di seluruh penjuru rumahnya.

Kata-kata berupa teroris, Muslim, dan mati tertulis di dinding kamar hingga ke dapur. Cermin, televisi, lemari pendingin, meja makan pun tak luput dari karya pelaku vandalisme itu. Bahkan, pelaku meninggalkan catatan mengerikan buat Afshar.

"Jika saya masih melihat Anda bulan depan. Saya akan menembak dan membakar rumah Anda," demikian isi catatan tersebut yang ditinggalkan di rumahnya di Troutdale, Oregon, seperti dilansir dari laman Independent, Senin (3/4).

Dia mengaku pernah mengalami aksi rasisme, namun tidak separah ini. Kebanyakan mereka mengira Afshar sebagai penganut agama Islam karena dia berasal dari Iran dan penampilannya menyerupai orang Muslim. Padahal Afshar merupakan penganut agama Baha'i yang dikenal sejak abad 19.

"Ini sama sekali tidak lucu. Saya bahkan bukan seorang Muslim." kata Afshar.

"Anda bisa membenci saya, itu masalah Anda. Tetapi kita bisa duduk bersama sambil bicara alasan mengapa Anda membenci saya. Mungkin Anda bisa mengubah pikiran Anda," tambahnya.

Dia mengaku sangat takut usai mengalami tindakan vandalisme ini. Dia bahkan saat ini sedang mempertimbangkan untuk pindah negara karena terus-terusan mengalami hal tersebut.

Berdasarkan laporan FBI, tingkat kebencian penduduk AS terhadap Muslim meningkat hingga 67 persen. Hingga pertengahan Maret tahun ini, ada 32 insiden yang melibatkan masjid serta pusat ibadah di AS. CAIR pun melaporkan tindakan vandalisme terus meningkat terutama kepada orang-orang yang disangka Muslim. [tyo]

Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini