India Tangkap 4000 Orang di Kashmir Sejak Otonomi Khusus Dicabut

Senin, 19 Agustus 2019 17:08 Reporter : Merdeka
India Tangkap 4000 Orang di Kashmir Sejak Otonomi Khusus Dicabut aparat keamanan berjaga di Kashmir. ©AFP

Merdeka.com - Sedikitnya 4.000 orang ditahan di Kashmir sejak pemerintah India mencabut otonomi khusus wilayah itu dua minggu lalu. Ribuan orang itu ditahan atas dasar Undang-undang Keamanan Publik, sebuah hukum kontroversial yang memungkinkan pihak berwajib memenjarakan seseorang hingga dua tahun tanpa tuduhan.

Al Araby melaporkan, Senin (19/8), sebagian besar orang yang ditahan telah dipindahkan ke penjara di luar Kashmir. Menurut hakim setempat, pemindahan itu dilakukan karena penjara di sana sudah penuh.

Angka 4.000 diperoleh hakim dari hasil komunikasi menggunakan telepon satelit dengan rekan-rekannya di Kashmir. Pihak berwenang menolak memberikan perhitungan resmi tentang berapa banyak orang yang ditahan kepada media.

Akses komunikasi Kashmir diputus total sejak India mencabut status semi-otonomi bagi daerah perbatasan itu. Sejak saat itu, penduduk Kashmir tidak dapat menggunakan telepon dan internet.

Pada hari Sabtu (17/8), pemutusan akses komunikasi sedikit dilonggarkan. Saat itu, pihak otoritas membuka saluran telepon rumah di Ibu Kota Srinagar. Saluran telepon diharapkan akan beroperasi penuh di sebagian besar wilayah Kashmir pada Minggu malam.

Namun, layanan internet dan ponsel masih tetap diblokir.

Sebelum melakukan perhitungan melalui saluran telepon, para pejabat hanya mengonfirmasi bahwa lebih dari seratus politisi lokal, aktivis dan akademisi telah ditahan dalam beberapa hari pertama setelah pencabutan status khusus Kashmir.

Pihak berwenang mengatakan bahwa beberapa penahanan bersifat "pencegahan". Penahanan itu dilakukan untuk menghindari kerusuhan di wilayah yang menjadi "tuan rumah" pemberontakan melawan pemerintah India, selama tiga dekade.

"Sekitar 6.000 orang secara medis diperiksa di beberapa tempat di Srinagar, setelah mereka ditahan" kata seorang pejabat polisi yang dikutip Al Araby.

"Mereka pertama kali dikirim ke penjara pusat di Srinagar dan kemudian diterbangkan keluar dari sini (Kashmir) dengan pesawat militer," tambahnya.

Pejabat keamanan lain menyatakan, ribuan orang telah dipenjara. Namun, angka itu tidak termasuk warga yang ditahan di kantor polisi.

Menyusul keputusan India untuk mencabut hak otonomi khusus bagi Jammu dan Kashmir pada 5 Agustus lalu, protes berkala pecah di Ibu Kota Srinagar dan kota lain di Kashmir.

Meskipun media internasional tidak dapat menentukan seberapa besar protes yang terjadi saat ini, tetapi ribuan penangkapan di Srinagar menunjukkan bahwa aksi tersebut bukanlah aksi biasa.

Sebelumnya, pada Sabtu (17/8), bentrokan antara pengunjuk rasa dan kepolisian terjadi di Ibu Kota Srinagar. Reuters mengabarkan, belasan orang terluka dan satu orang tewas, karena terkena gas air mata, peluru karet dan granat asap yang dilemparkan petugas.

Baik kantor berita Reuters dan Press Trust of India melaporkan, pasukan India kembali memberlakukan pembatasan akses bagi Kashmir pada Minggu (18/8). Hal tersebut dilakukan seiring dengan meningkatnya bentrokan di wilayah sengketa itu.

Repoter Magang: Anindya Wahyu Paramita [pan]

Topik berita Terkait:
  1. Konflik Kashmir
  2. Kashmir
  3. India
  4. Jakarta
Komentar Pembaca

Merdeka.com sangat menghargai pendapat Anda. Bijaksana dan etislah dalam menyampaikan opini. Pendapat sepenuhnya tanggung jawab Anda sesuai UU ITE.

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini